Selasa, 27 Oktober 2026

Ngobrol Asyik Bojonegoro 1810-1900




Acara diselenggarakan di aula Dinas Perpusip Bojonegoro Lantai 2

 BOJONEGORO, www.penerbitmajas.com— Diskusi literasi bertajuk "Ngobrol Asyik" yang digelar pada Selasa (27/10/2026) menghadirkan pemaparan mendalam dari A. Wahyu Rizkiawan dari Histori Bojonegoro. Pertemuan di aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bojonegoro tersebut mengupas tuntas eksistensi naskah-naskah kuno sebagai bukti otentik tingginya peradaban literatur serta kearifan lokal masyarakat Bojonegoro di masa lampau.

 Setelah paparannya, Wahyu menjawab pertanyaan beberapa peserta termasuk dari www.penerbitmajas.com.

Menulis sebagai Treatment dan Ketahanan Diri

Di luar pusaran kekuasaan, para leluhur (mbah-mbah) di Bojonegoro zaman dulu menjadikan aktivitas menulis sebagai sarana melawan kejenuhan waktu, menjaga kesehatan pikiran, hingga bentuk terapi spiritual (treatment).

Tradisi penulisan naskah kertas berkembang pesat pada era 1235 Hijriah atau kisaran tahun 1820–1900 Masehi (sekitar 210 tahun yang lalu). Naskah-naskah ini merekam secara rinci bagaimana manusia pada masa itu berinteraksi dan menghadapi fenomena alam—mulai dari peristiwa gunung jungkur, gunung endut (longsor dan mudslide), hingga momen mengharukan pasca-banjir surut yang menggambarkan seorang ibu tengah memeluk anaknya.

Penguasaan Alkemia, Logam, dan Bahan Kimia

Merespon peserta, salah satu poin krusial yang diungkapkan A. Wahyu Rizkiawan adalah tingginya pengetahuan kimia dan metalurgi para leluhur Bojonegoro. Di kawasan ini, pernah bermukim para ahli kimia dan alkemia yang mampu mengolah logam menjadi alat tulis.

Pengetahuan material ini juga diterapkan langsung pada media naskah. Lembaran-lembaran naskah kuno dibubuhi arsenik khusus untuk menjaga ketahanan kertas dari kerusakan hama, disandingkan dengan penggunaan tinta berwarna merah hingga sentuhan nuansa keemasan.

Membaca Alam: Bledug Geni hingga Konservasi Air

Spiritualitas masyarakat kuno Bojonegoro selalu mengakomodasi realitas sosial dan alam sekitar. Respon terhadap sumber daya alam—seperti munculnya fenomena bledug geni (semburan gas alam)—menunjukkan bahwa sejak dulu wilayah Bojonegoro kaya akan kandungan gas dan minyak bumi.

Kearifan lokal dalam menjaga ekosistem terekam kuat melalui naskah kuno:

  • Tradisi Wirid Wit: Larangan menebang pohon secara sembarangan karena di dalamnya terkandung investasi lingkungan dan kehidupan jangka panjang.
  • Filosofi "Lenga Urup Ganti Urip": Ditemukan di kawasan Malo hingga Tambakrejo, yang mengajarkan keberlanjutan hidup: eksploitasi minyak (lenga) dimanfaatkan untuk penerangan/penghidupan (urup), namun kelestarian sumber air tetap menjadi prioritas utama (urip).

Kesadaran lingkungan ini terlihat nyata di kawasan perbatasan Purwosari dan Padangan, tepatnya di Desa Kendung (Dusun Sendang Ijo, Dusun Tobo, dan Dusun Kedung). Masyarakat di sekitar Sendang Gedhe dan Sendang Ijo memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap kelestarian sendang (mata air), meskipun insfrastruktur jalan di kawasan tersebut masih membutuhkan perhatian.

Matrikulasi Historis: Diponegoro dan Heroisme 3 Bupati

Dalam pemaparannya menjawab pertanyaan peserta menyoroti titik balik terputusnya filosofi dan peradaban literatur lokal, Wahyu menjawab yakni sejak peristiwa "Perang Hitam" Jati Deandles pada November 1810 Masehi.

Perang Diponegoro mencatatkan jejak sejarah tebal di Bojonegoro yang melahirkan kepahlawanan 3 bupati pendukung perjuangan. 

  • Raden Ronggo: Ayah dari Sentot Alibasya Prawirodirjo.
  • Raden Notowijoyo: Mertua Kyai Mojo (ayah dari Nyai Woyo binti Notowijoyo).
  • Raden Surowijoyo: Mertua Pangeran Diponegoro.
Tercatat pula bahwa 2 istri Pangeran Diponegoro berasal dari bumi Bojonegoro. Sejarah Bojonegoro sering kali terlewat dalam narasi besar nasional akibat banyaknya konsesi politik dan stigmatisasi masa lalu, padahal wilayah ini kini tumbuh menjadi Objek Vital Nasional (Obvitnas).

Selain itu jaringan historis ini melibatkan tokoh-tokoh kunci yang juga Bupati. Namun tampaknya pembahasan politikdibatasi oleh para penulis naskah kuno itu. Di situ hanya disebut sekali dalam naskah yang diteliti Wahyu yaitu:
  • Sosrodilogo: Sosok wong apik yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Diponegoro, mengonsolidasikan jaringan perlawanan hingga ke wilayah Klangon, Sembung, dan Ngumpak.

Independensi Literasi di Tengah Pusaran Politik

Menjawab pertanyaan peserta yang lain, A. Wahyu Rizkiawan menekankan pentingnya menjaga independensi tradisi menulis dari pengaruh politik praktis. Sehancur apa pun kondisi politik, tradisi dan konsistensi menulis tidak boleh terpengaruh.

Sementara itu, posisi agama yang dibiarkan kuat ritusnya dalam kehidupan bermasyarakat sering menjauhkan diri dari daya kritis sosial. Padahal selain hendaknya agama menjadi bagian dari ritus juga mesti peduli masalah sosial dan benteng moral. Agama yang tidak lagi mengasah daya kritis masyarakat justru berpotensi menimbulkan kerawanan pada penyelesaian masalah-maslahat sosial. (Yonathan Rahardjo)

Tidak ada komentar: