Di tengah arus informasi yang bergerak begitu cepat—bahkan sering kali mendahului proses berpikir kita—bahasa di ruang publik tampak semakin kehilangan ruhnya. Kalimat-kalimat yang berseliweran di linimasa, ruang wacana politik, hingga percakapan sehari-hari kian terjebak dalam jebakan pragmatisme verbal. Kata-kata tidak lagi difungsikan sebagai jembatan yang menghubungkan nurani, melainkan sekadar instrumen transaksional untuk memenangkan kepentingan sesaat.



















