Selasa, 27 Oktober 2026

Ngobrol Asyik Bojonegoro 1810-1900




Acara diselenggarakan di aula Dinas Perpusip Bojonegoro Lantai 2

 BOJONEGORO, www.penerbitmajas.com— Diskusi literasi bertajuk "Ngobrol Asyik" yang digelar pada Selasa (27/10/2026) menghadirkan pemaparan mendalam dari A. Wahyu Rizkiawan dari Histori Bojonegoro. Pertemuan di aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bojonegoro tersebut mengupas tuntas eksistensi naskah-naskah kuno sebagai bukti otentik tingginya peradaban literatur serta kearifan lokal masyarakat Bojonegoro di masa lampau.

Senin, 26 Oktober 2026

Disiplin Organisasi dalam Ormas: Menjaga Marwah, Merawat Pergerakan


Pembubaran panitia Sinergitas Ormas Bojonegoro bersama Kepala Bakesbangpol Bojonegoro Amir Syahid 26 Oktober 2026 (Foto oleh: Solikin Yulianto)

Opini Yonathan Rahardjo

 Setiap organisasi kemasyarakatan atau ormas lahir dari sebuah ikatan cita-cita yang sama. Di sana, orang-orang berkumpul secara sukarela, disatukan oleh kesamaan pandangan, kepedulian sosial, atau semangat perjuangan. Namun, mengikat orang-orang yang bergabung tanpa imbalan gaji tentu bukan perkara mudah. Di sinilah disiplin organisasi hadir—bukan sebagai rantai pengekang, melainkan sebagai fondasi yang menjaga agar gerakan ini tidak kehilangan arah dan tetap dihormati.

PEMBUBARAN PANITIA SINERGITAS ORMAS BOJONEGORO


 Rapat pembubaran panitia Sinergitas Ormas Bojonegoro 

PEMBUBARAN PANITIA SINERGITAS ORMAS BOJONEGORO UNTUK SARASEHAN DAN KIRAB DALAM RANGKA HARI JADI BOJONEGORO KE-349

Menjaga Marwah Ruang Publik: Batas Tipis antara Kritik Konstruktif dan Jerat UU ITE


Mahligai pernikahan lambang memuliakan manusia

Opini Yonathan Rahardjo

Ruang publik digital hari ini sering kali menyerupai sebuah gelanggang terbuka yang bising. Di satu sisi, kebebasan berpendapat dijunjung tinggi sebagai pilar utama demokrasi. Di sisi lain, batas antara menyampaikan masukan yang objektif dan tergelincir ke dalam pelanggaran hukum terasa begitu tipis. Kegelisahan ini kian nyata ketika diskursus publik diwarnai oleh emosi ketimbang nalar yang jernih.

Minggu, 25 Oktober 2026

Kritik Terhadap Bagi-bagi Makanan Gratis di Alun-Alun Bojonegoro Berbasis Data




Bermartabat, makan bersama Ormas Blakraan di Sendang Templek Jono Temayang Bojonegoro 

Opini Yonathan Rahardjo

Penyelenggaraan bagi-bagi makanan gratis di alun-alun Bojonegoro dalam rangka Hari Jadi Bojonegoro ke-349 menyisakan banyak kritik. Termasuk di antaranya terhadap peran Ormas di situ. Bilamana ada Ormas yang terlibat dalam acara yang diwarnai kekisruhan di situ, maka data pengingat ini dianggap dibutuhkan.

Berpetualang di Sendang Templek Bersama Ormas Blakraan


 Ormas Blakraan di Sendang Templek Jono Temayang Bojonegoro 

Sajak Yonathan Rahardjo

Sudah kehabisan kata, aku memilih menyepi bersama teman Blakraan.

Segala masukanku sebagai mitra ormas telanjur terjadi.

Semua kukembalikan kepada alam.

Dengan segala konsekuensi.


Sendang Templek, 25 Oktober 2026

Menguji Batas "Jarak" dan "Rasa Pulang": Refleksi dari Kelompok Intensif Akhir Pekan


Katakanlah ini gereja Anda. Seharusnya ada kerinduan Anda untuk pulang ke kota kampung halaman Anda sendiri setiap minggu. Karena soal ke persekutuan doa Anda dapat juga di gereja di kota asal Anda ini. Tidak perlu harus persekutuan doa di tempat Anda kuliah.

Opini Yonathan Rahardjo

Dalam studi sosiologi ruang dan mobilitas, jarak geografis sering kali dianggap sebagai variabel utama yang menentukan frekuensi seseorang kembali ke kampung halaman. Secara teoretis, semakin dekat jarak antara tempat tinggal saat ini dengan tempat asal, semakin tinggi probabilitas seseorang untuk pulang. Namun, pengalaman empiris di lapangan—bahkan dalam konteks kehidupan sehari-hari—sering kali meruntuhkan asumsi linier tersebut.

Sabtu, 24 Oktober 2026

Fenomena Festival Publik di Bojonegoro: Antara Politik Simbolik, Kontestasi Legitimasi, dan Ruang Publik



Perwakilan Ormas dalam Sinergitas Ormas Bojonegoro saat sedang rapat pawai budaya 1 November 2026 (bukan BNC 31 Oktober 2026)

 Opini Yonathan Rahardjo

Dinamika penyelenggaraan perayaan Hari Jadi Bojonegoro (HJB)—yang diwarnai oleh isu keamanan di ruang publik saat Festival Sandur, kontroversi pembatalan Bojonegoro Night Carnival (BNC), hingga diskursus seputar Pawai Budaya—menarik untuk dicermati secara analitis. Fenomena ini bukan sekadar persoalan teknis manajerial kegiatan, melainkan cerminan dari kompleksitas hubungan antara politik simbolik, transformasi kebijakan antar-rezim, dan netralitas organisasi kemasyarakatan.

Menakar Ulang Krisis Solar: Anomali Tata Kelola, Celah Distribusi, dan Kegagalan Logika Kebijakan


Bensin sering disimbolkan sebagai makanan nasi dan lauknya yang sama-sama berfungsi sebagai bahan bakar. Satu bahan bakar motor satu bahan bakar tubuh. Maka simbol dari solar pun dapat diterakan dalam wujud makanan beda lauk.

Opini Yonathan Rahardjo

Fenomena antrean panjang kendaraan niaga di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) demi mendapatkan bahan bakar solar—seperti yang terpantau di Kendari, Mandailing Natal, hingga simpul-simpul logistik daerah—tidak lagi bisa dibaca sebagai dinamika pasar yang wajar. Ketika waktu tunggu pengisian memaksa para pengemudi truk logistik merelakan malam beratap langit di atas aspal SPBU, kita sedang menyaksikan sebuah anomali sosial-ekonomi: disonansi telak antara klaim instansional di ruang ber-AC dengan realitas pahit di tingkat tapak.

Kasih Harus Kepada Yang Spesifik, Konkret dan Paling Butuh


Paduan suara Gema Nafiri, misa Sabtu 24 Oktober 2026 yang disamakan dengan Minggu 25 Oktober 2026 di Gereja Katolik Bojonegoro.

BOJONEGORO, www.penerbitmajas.com - Kasih kepada Allah harus mewujud dalam tindakan kepada sesama. Kasih kepada sesama harus mewujud kepada yang spesifik, konkret dan paling membutuhkan.

Hukum Alam, Pitik Walik, dan Ketulusan yang Bernyawa




Ini tarian seni saat HUT sebuah kabupaten. Dalam tulis-menulis dan komunikasi sesama dokter hewan yang sudah dewasa juga ada seni.

Opini Yonathan Rahardjo

Di alam raya, hukum paling primitif sekaligus paling abadi bukanlah siapa yang paling keras berteriak, melainkan siapa yang paling otentik beradaptasi dan bertahan. Selama dekade demi dekade—merentang dari tahun 1994, melewati tahun 2018, hingga hari-hari belakangan ini—perjalanan menatap lembar demi lembar dunia tulis-menulis menghadirkan sebuah kontemplasi sunyi: kapan sebuah tulisan menjadi hidup, dan kapan ia sekadar menjadi deretan huruf yang kering?

Disiplin Organisasi dan Titik Garis Bagi Ad Hoc



Dalam tradisi Jawa pembentukan dan pembubaran kepanitiaan acap disimbolkan dengan potong dan makan tumpeng bersama seluruh panitia

Opini Yonathan Rahardjo

Dalam tata kelola kelembagaan—baik publik maupun komunitas masyarakat—kejelasan struktur dan batas kewenangan adalah benteng utama profesionalisme. Kita sering kali mengenal istilah Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dalam tata kelola keuangan negara atau daerah. KPA memegang mandat resmi, batasan program, serta tanggung jawab formal yang terikat ketat oleh tenggat dan pertanggungjawaban material. Logika hukum dan tata kelola yang melingkupi KPA sejatinya bertumpu pada satu prinsip mendasar: setiap kewenangan yang dibuka oleh sebuah keputusan, wajib ditutup dengan pertanggungjawaban yang tuntas.

Jumat, 23 Oktober 2026

Fondasi Kekuatan Jiwa yang Sering Terabaikan



Suasana ibadah di sebuah gereja sebagai ilustrasi saat teduh

Renungan Yonathan Rahardjo

Pijakan Perenungan: "Keheningan subuh menjadi saksi saat Ia melangkah keluar mencari tempat tersembunyi demi menyapa Bapa-Nya." (Bdk. Markus 1:35)

Menagih Akuntabilitas Ekologis di Luar Retorika Diplomatik


Nasi tumpeng simbol gunung, dapat dinilai ia gundul atau lebat

Opini Yonathan Rahardjo 

Ketika kabut asap akibat kebakaran hutan kembali menyelimuti wilayah regional, wacana publik sering kali terjebak dalam narasi yang terlalu menyederhanakan masalah: tudingan sepihak atas kelalaian tata kelola lahan lokal di satu sisi, dan kecaman keras atas pencemaran udara di sisi lain. Namun, jika kita bersedia menembus tebalnya kabut isu ini, tampak sebuah paradoks sistemik yang jauh lebih kompleks—sebuah panggung di mana batas-batas kedaulatan hukum berbenturan keras dengan arus modal lintas negara.

Mengubah Cara Pandang Pembinaan IKM: Mengapa Ketangguhan Tim dan Tertib Administrasi Adalah Kunci?



Ormas IKM dapat berarti asosiasi IKM yang memperjuangkan nasib IKM secara sosial atau bersama di masyarakat. Sedangkan urusan IKM sendiri ada tata kelolanya tersendiri difasilitasi Kementerian Perindustrian dan Kementerian Tenaga Kerja yang di Bojonegoro difasilitasi Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja

Opini Yonathan Rahardjo

Selama bertahun-tahun, pola pembinaan Industri Kecil Menengah (IKM) maupun UMKM di daerah sering kali terjebak dalam pola lama yang klise: bantuan modal dan pelatihan produksi. Padahal, masalah mendasar yang paling sering menenggelamkan usaha kecil bukan kurangnya keahlian membuat barang, melainkan kerapuhan internal tim dan kecerobohan dalam pengelolaan administrasi.

Antuasiasme Ormas dan Rakyat Menyambut Pawai Budaya 1 November 2026




 Suasana rapat teknis untuk pawai budaya 1 November 2026 usai sarasehan ormas Sinergitas Ormas Bojonegoro 16 Oktober 2026. 

BOJONEGORO, www penerbitmajas.com - Ini adalah liputan kilas balik. Dalam rapat Sinergitas Ormas Bojonegoro 16 Oktober 2026 untuk pawai budaya 1 November 2026 dalam rangka Hari Jadi Bojonegoro ke-349, yang hadir dari Ormas antara lain perguruan silat PSH (Persaudaraan Setia Hati) Terate yang memberi tema kelompok pawai Ormas "Malawapati Bahagia Makmur Membanggakan". Pendekar PSHT Jamari mengusulkan tema itu dan forum menerima.

Penghargaan Berkelas Untuk Budayawan Suyanto Yang Pendekar Silat Persaudaraan Setia Hati Winongo


 www.penerbitmajas.com berkesempatan wawancara langsung dengan budayawan Suyanto yang juga pendekar silat internasional di halaman pendopo Malowopati pada 19 Oktober 2026 saat malam Hari Jadi Bojonegoro.

BOJONEGORO, www.penerbitmajas.com — Momentum Hari Jadi ke-349 Kabupaten Bojonegoro (HJB 349) yang diperingati pada Selasa, 20 Oktober 2026, menjadi hari bersejarah bagi Suyanto MYK. Tokoh budayawan sekaligus praktisi pencak silat asal Bojonegoro ini resmi menerima penghargaan bergengsi di bidang kebudayaan dari Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.

Menggeser Paradigma Pembangunan Bojonegoro: Dari Mitologi Migas ke Sektor Padat Karya



Cerita pendek berbahasa Jawa karya Djajus Pete (yang dibahas dalam Roadshow di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata 2 Oktober 2026) dominan menyorot kehidupan pedesaan dengan karakter kuat para pelaku cerita, menghadapi tantangan perubahan zaman dengan dinamika industrinya seperti kehadiran pabrik sepatu di Sumberrejo Bojonegoro

Opini Yonathan Rahardjo

Selama bertahun-tahun, wacana pembangunan ekonomi di Kabupaten Bojonegoro hampir selalu berputar di sekitar narasi industri ekstraktif. Daerah ini kerap diidentikkan dengan kekayaan perut bumi, dana bagi hasil (DBH) migas, serta proyek-proyek bernilai triliunan rupiah yang berkarakter padat modal (capital intensive). Namun, jika kita mencermati anatomi kesejahteraan masyarakat di akar rumput, ada pertanyaan mendasar yang selalu mengusik: seberapa jauh dampak langsung industri ekstraktif tersebut dalam menyentuh dapur rumah tangga warga secara merata?

Kamis, 22 Oktober 2026

Hari Lahir Bojonegoro: Membaca Rekam Jejak Sejarah Lewat Empat Peristiwa Kunci




Doa bersama di pendopo Malowopati bersamaan dengan semua balai kelurahan/balai desa se Kabupaten Bojonegoro 19 malam 20 Oktober 2026

Opini Yonathan Rahardjo

Penetapan Hari Jadi Kabupaten Bojonegoro (HJB) setiap tanggal 20 Oktober bukan sekadar ritual tahunan atau selebrasi kebudayaan semata. Di balik angka dan penanggalan tersebut, terpaut narasi sejarah yang amat panjang—sebuah perpaduan antara penemuan arkeologis, dinamika kekuasaan masa kerajaan, hingga pergeseran administratif di era kolonial.

Festival Sandur dan Pawai Budaya Bojonegoro: Mengapa Rangkaian Acara Tradisi Tetap Tak Menggantikan Dampak Ekonomi Karnaval Massal?



 Festival Sandur dan Pawai Budaya Bojonegoro: Mengapa Rangkaian Acara Tradisi Tetap Tak Menggantikan Dampak Ekonomi Karnaval Massal?

Opini Yonathan Rahardjo

Penyelenggaraan Festival Sandur di Alun-alun Bojonegoro kerap menghadirkan rangkaian acara yang dikemas meriah—mulai dari pertunjukan seni Sandur, lomba mewarnai bagi anak-anak, panggung musik band, beragam pertunjukan kesenian, hingga pembagian makanan gratis untuk pengunjung. Upaya ini tentu patut diapresiasi sebagai hiburan rakyat sekaligus ruang pelestarian budaya lokal. Namun, jika dilihat dari kacamata cakupan dampak ekonomi dan partisipasi masyarakat secara menyeluruh, fungsi Festival Sandur tetap tidak dapat menggantikan keberadaan Pawai Budaya atau Bojonegoro Night Carnival (BNC).