Realitas Sosial, Bisnis, dan Manusia yang Bermain
(Refleksi tentang Industri Peternakan, Kebijakan, dan Hakikat Manusia)
Perang bisnis itu memang menyeramkan. Kalau mau jujur, bukan hanya dua raksasa utama, perusahaan integrasi lain—termasuk peringkat ketiga dan seterusnya—sejak dulu juga sudah banyak mengepung. Jangan hanya melihat persentasenya; secara kuantitas, angka mereka sangat besar jika dibandingkan dengan peternak kecil.
Ada hal penting yang patut kita cermati bersama: perusahaan-perusahaan besar tersebut juga menghidupi orang-orang kecil. Sayangnya, pemerintah sering kali hanya melihat keuntungan raksasa korporasinya, tanpa melihat bahwa di baliknya ada jutaan rakyat pekerja yang menggantungkan hidup dari sana.Di sisi lain, pemerintah sendiri merupakan produk politik lima tahunan. Ketika tensi pejabat atau menteri sedang tinggi—mungkin karena terlalu intensif mengonsumsi protein dan kolesterol tinggi—adu argumen pun tak terhindarkan. Mumpung situasi sedang hangat, jogetin saja.
Sebab, paradigma sosial memang jauh lebih kompleks jika ingin kita bedah secara komprehensif dan menyeluruh.
Peternak, Kesadaran, dan Sifat Dasar Manusia
Peternak seharusnya diajar untuk berdaya sebagai manusia utuh, bukan sekadar menggantungkan hidup semata-mata dari sebutir telur. Namun, realitasnya, peternak kita juga banyak yang bersikap aventurir (pencari keberuntungan). Punya sedikit modal saja, dokter manusia bisa mendadak jadi peternak. Insinyur pun ikut-ikutan jadi peternak. Soal kerakusan? Pada akhirnya, kita semua sama saja.
Tenang saja... Kita ini sama-sama manusia yang sedang bermain: Homo Ludens.
Namun, selain sebagai makhluk yang bermain, kita juga adalah pemangsa bagi sesama: Homo Homini Lupus. Ini berlaku untuk kita semua, bukan hanya pihak tertentu. Ini bukan penghakiman sepihak, melainkan temuan dan konsep dari para ilmuwan. Ilmu itu sifatnya objektif.
Solusi Sementara dan Esensi Realitas Sosial
Jika sampai hari ini belum ketemu solusinya, kenyataannya memang tidak akan pernah ada solusi yang benar-benar abadi. Yang bisa kita temukan hanyalah solusi sementara, dan dinamika ini akan terus berulang seperti itu.
Organisasi seperti ADHPI tidak perlu memaksakan diri menggunakan kacamata ilmu pasti/alam kedokteran hewan jika berada dalam posisi dilematis seperti ini. Ranah ilmu itu tak terbatas. Dalam sudut pandang ilmu sosial, semua dinamika ini adalah sebuah realitas sosial.
Orang Jawa punya ungkapan bijak untuk menggambarkan situasi seperti ini:
“Ngono ya ngono, ning aja ngono.”
(Boleh begitu, tetapi jangan sampai berlebihan atau keterlaluan).
Pada akhirnya, kita semua adalah Homo Ludens—manusia yang bermain. Pihak di sini sedang bermain, pihak di sana pun sama-sama sedang bermain.
Oleh karena itu, marilah kita melangkah sejenak untuk tengok ke dalam diri, lalu katakan pada diri sendiri: "Permainanku sendiri selama ini seperti apa?"
Yonathan Rahardjo, drh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar