Ini tarian seni saat HUT sebuah kabupaten. Dalam tulis-menulis dan komunikasi sesama dokter hewan yang sudah dewasa juga ada seni.
Opini Yonathan Rahardjo
Di alam raya, hukum paling primitif sekaligus paling abadi bukanlah siapa yang paling keras berteriak, melainkan siapa yang paling otentik beradaptasi dan bertahan. Selama dekade demi dekade—merentang dari tahun 1994, melewati tahun 2018, hingga hari-hari belakangan ini—perjalanan menatap lembar demi lembar dunia tulis-menulis menghadirkan sebuah kontemplasi sunyi: kapan sebuah tulisan menjadi hidup, dan kapan ia sekadar menjadi deretan huruf yang kering?
Menulis tentang dunia medis veteriner dan penyakit unggas selama bertahun-tahun memberikan kepastian teknis yang ketat. Namun, ada kalanya ruang-ruang klinis itu terasa tandus. Ada kerinduan untuk menyeberang ke wilayah "basah"—menyelami humaniora, menenun ingatan tentang pitik (ayam) kesayangan nenek yang dinamai Bagong, hingga merenungkan keunikan pitik walik sobo ndhadhah. Dari situlah sebuah hukum alam dalam berkarya menemukan bentuknya.
1. Hukum Alam: Yang Bertahan Adalah yang Otentik
Dalam biologi maupun evolusi sosial, makhluk yang bertahan hidup bukanlah yang paling artifisial mengikuti tren, melainkan yang berakar kuat pada esensinya. Hal ini berlaku sama persis di dunia literasi dan ekspresi gagasan.
Ketika seseorang menulis hanya karena mengikuti apa yang sedang "aktif" atau tren dipermukaan, tulisan itu rentan lapuk dimakan waktu. Sebaliknya, karya yang lahir dari panggilan jiwa—meskipun tampak sederhana seperti mengkaji dunia pitik secara murni—justru memancarkan daya tahan yang luar biasa.
“Pitik walik sobo ndhadhah iku juga pitik.” Kalimat sederhana ini menyimpan filosofi mendalam: betapapun berbeda bentuk, anomali, atau jalurnya, substansi kehidupan tetaplah bernilai untuk disuarakan tanpa harus dipaksa seragam.
2. Keluar dari Bilik Kering: Menemukan Kelembapan Humaniora
Ada kalanya penulis merasa "kering" ketika terjebak dalam sangkar birokrasi kata-kata teknis. Angka mortalitas, gejala klinis, dan protokol baku memang penting, tetapi manusia tidak hanya hidup dari data; manusia bernapas lewat cerita, memori, dan kebudayaan.
Menyelami humaniora adalah cara mengembalikan darah dan denyut nadi ke dalam tulisan. Menarik garis dari kandang ayam milik nenek, mengenang ritme harian peternakan, hingga membedah tabiat sosial lewat metafora unggas membuktikan bahwa batas antara sains eksakta dan seni sastra sebenarnya sangat tipis. Keduanya bisa melebur jika ditulis dengan kejujuran batin.
3. Ujian Konsistensi: Menulis Tanpa Batas Buatan
Seringkali, dunia kreatif kita dibatasi oleh kotak-kotak buatan sendiri atau tekanan zaman: harus menulis ini agar dibaca orang, atau harus mengikuti isu yang sedang naik daun. Padahal, ujian sejati dari sebuah konsistensi terletak pada keberanian untuk merdeka.
- Bagi yang mencintai kemurnian tema tertentu (misalnya, dunia pitik secara murni): Giatlah menekuninya tanpa perlu merasa minder dengan riuh rendah tren sesaat.
- Jangan menggantungkan diri pada apa yang sekadar "aktif" di permukaan: Karena ombak tren akan selalu berganti, tetapi akar ketulusan dan ketekunanlah yang akan membuat karya tetap berdiri kokoh menembus musim.
Penutup
Hukum alam dalam berkarya itu sederhana: yang jujur pada akarnya akan menemukan jalannya untuk terus hidup. Menulislah tanpa sekat yang tidak perlu. Baik itu menarasikan dinamika makro humaniora maupun menceritakan kembali keunikan pitik kesayangan masa lalu, selama itu ditulis dengan nyawa dan kejujuran, tulisan itu tidak akan pernah benar-benar kering. Ia akan terus hidup, mengepakkan sayapnya menembus zaman.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar