Kamis, 22 Oktober 2026

Hari Lahir Bojonegoro: Membaca Rekam Jejak Sejarah Lewat Empat Peristiwa Kunci




Doa bersama di pendopo Malowopati bersamaan dengan semua balai kelurahan/balai desa se Kabupaten Bojonegoro 19 malam 20 Oktober 2026

Opini Yonathan Rahardjo

Penetapan Hari Jadi Kabupaten Bojonegoro (HJB) setiap tanggal 20 Oktober bukan sekadar ritual tahunan atau selebrasi kebudayaan semata. Di balik angka dan penanggalan tersebut, terpaut narasi sejarah yang amat panjang—sebuah perpaduan antara penemuan arkeologis, dinamika kekuasaan masa kerajaan, hingga pergeseran administratif di era kolonial.

Jika kita menengok kembali perjalanan peradaban di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo ini, terdapat empat peristiwa dan peninggalan kunci yang menjadi pilar penting pembentuk identitas Bojonegoro: Prasasti Adan-Adan, Prasasti Merbong, lahirnya Kadipaten Brang Wetan, dan perubahan nama dari Rajegwesi menjadi Bojonegoro.

1. Prasasti Adan-Adan: Legitimasi Wilayah dan Pentingnya Bengawan Solo

Prasasti Adan-Adan (dikeluarkan pada tahun 1223 Saka / 1301 M) menyingkap fakta strategis mengenai kawasan Bojonegoro selatan dan sekitarnya. Prasasti ini menetapkan desa Adan-Adan sebagai wilayah sima (dikanonkan atau dibebaskan dari pajak tertentu untuk kepentingan keagamaan/bangunan suci).

Sebagai salah satu bukti inskripsi arkeologis primer tertua yang ditemukan di wilayah Bojonegoro, Prasasti Adan-Adan memperlihatkan betapa strategisnya wilayah ini dalam geopolitik Jawa masa lalu. Keberadaan sungai besar seperti Bengawan Solo menjadikan Bojonegoro sebagai urat nadi transportasi, perdagangan, sekaligus benteng pertahanan alami. Prasasti ini memperkuat bukti bahwa Bojonegoro telah memiliki sistem kemasyarakatan dan tata kelola wilayah yang matang sejak masa pasca-Singhasari dan awal Majapahit.

2. Prasasti Merbong: Jejak Kejayaan di Era Puncak Majapahit

Prasasti Merbong (sering disebut pula Prasasti Maribong, berangka tahun 1264 Saka / 1342 M) menjadi pilar otentik berikutnya yang mempertegas keberadaan masyarakat terorganisasi di wilayah Bojonegoro. Dikeluarkan pada masa keemasan Kerajaan Majapahit, prasasti ini memberikan gambaran bahwa kawasan Bojonegoro sejak ratusan tahun lalu telah menjadi daerah yang diperhitungankan secara sosial, ekonomi, maupun spiritual.

Pengakuan atas status tanah atau wilayah dalam Prasasti Merbong menegaskan bahwa Bojonegoro bukan sekadar daerah pinggiran yang terisolasi. Keberadaan prasasti ini memberikan dasar historis yang kokoh bahwa akar peradaban di tanah Bojonegoro terus berlanjut dan berkembang pesat di bawah naungan panji Majapahit.

3. Lahirnya Kadipaten Brang Wetan: Fondasi Pemerintahan Lokal

Dinamika sejarah berlanjut ke era Kerajaan Mataram Islam. Pada masa pemerintahan Sultan Agung hingga era penerusnya, wilayah-wilayah di sebelah timur (sering disebut sebagai daerah Brang Wetan) mulai ditata dalam struktur kadipaten untuk memperkuat kendali politik dan pertahanan.

Pembentukan Kadipaten Brang Wetan yang membawahi wilayah Rajegwesi (cikal bakal Bojonegoro) menjadi fondasi lahirnya sistem pemerintahan lokal yang lebih terstruktur. Pangeran Mas Toemapel ditetapkan sebagai adipati pertama pada tanggal 20 Oktober 1677. Momen penting inilah yang di kemudian hari disepakati dan diabadikan sebagai pilar utama penentuan Hari Jadi Kabupaten Bojonegoro saat ini.

4. Dari Rajegwesi Menjadi Bojonegoro: Bertahannya Identitas dan Kesadaran Baru

Sebelum dikenal dengan nama Bojonegoro, kawasan ini lama menyandang nama Rajegwesi—yang secara harfiah berarti "pagar besi", mencerminkan wilayah yang tangguh, kuat, dan sulit ditembus musuh. Namun, pada tanggal 25 September 1828, di bawah pemerintahan Hindia Belanda setelah bergejolaknya Perang Diponegoro, nama Rajegwesi secara resmi diubah menjadi Bojonegoro.

Perubahan nama dari Rajegwesi menjadi Bojonegoro (Bawana/Bhoja dan Nagari) menandai babak baru transisi menuju penataan administratif modern. Meskipun nama tersebut diberikan pada era kolonial, masyarakat Bojonegoro mampu merawat nama ini menjadi simbol ketahanan, kemakmuran, dan jati diri daerah yang mandiri hingga saat ini.

Empat Peristiwa, Empat Tanggal: Tinggal Memilih Semangat yang Mana

Sebetulnya, penetapan hari lahir Bojonegoro tidaklah kaku pada satu titik tunggal semata. Jika ditelaah secara historis dan kritis berdasarkan kronologi waktu, hari lahir Bojonegoro sejatinya dapat dipilih dari salah satu dari empat penanggalan peristiwa di atas, di mana masing-masing menawarkan landasan pemikiran dan spirit zamannya sendiri:

  1. Opsi Prasasti Adan-Adan (21 Maret 1301 M / 1223 Saka)
    • Landasan Pemikiran: Berpatokan pada bukti tertulis otentik tertua (inskripsi primer) yang ditemukan di tanah Bojonegoro.
    • Semangat yang Diusung: Semangat peradaban tua, kedalaman akar sejarah, dan legalitas wilayah yang berakar sejak abad ke-14.
  2. Opsi Prasasti Merbong (Tahun 1342 M / 1264 Saka)
    • Landasan Pemikiran: Berpatokan pada rekam jejak tata kelola wilayah dan tatanan sosial-keagamaan pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit.
    • Semangat yang Diusung: Semangat keemasan Nusantara, integrasi wilayah, serta kebanggaan atas warisan budaya Majapahit.
  3. Opsi Lahirnya Kadipaten Brang Wetan / Rajegwesi (20 Oktober 1677)
    • Landasan Pemikiran: Berpatokan pada terbentuknya struktur tata kelola pemerintahan birokrasi lokal (kadipaten) dan pengangkatan adipati pertama oleh kekuasaan Mataram.
    • Semangat yang Diusung: Semangat kepemimpinan lokal, ketertiban administratif, dan kedaulatan politik wilayah.
  4. Opsi Perubahan Nama Rajegwesi ke Bojonegoro (25 September 1828)
    • Landasan Pemikiran: Didasarkan pada momen lahirnya entitas nama "Bojonegoro" secara resmi dalam lembaran sejarah administrasi modern.
    • Semangat yang Diusung: Semangat artikulasi identitas baru, ketahanan pasca-gejolak sejarah, serta optimisme menuju era daerah yang makmur dan sejahtera.

Refleksi

Mencermati mata rantai sejarah di atas, kita disadarkan bahwa penetapan hari lahir sebuah daerah adalah pilihan atas narasi mana yang ingin kita hidupkan. Pada akhirnya, tinggal kita yang menentukan: semangat mana yang ingin kita jadikan fondasi kesadaran kolektif? Apakah kedalaman peradaban tua purba, kejayaan masa Majapahit, ketangguhan entitas kadipaten, ataukah artikulasi identitas modern Bojonegoro itu sendiri.

Tidak ada komentar: