Jumat, 23 Oktober 2026

Mengubah Cara Pandang Pembinaan IKM: Mengapa Ketangguhan Tim dan Tertib Administrasi Adalah Kunci?



Ormas IKM dapat berarti asosiasi IKM yang memperjuangkan nasib IKM secara sosial atau bersama di masyarakat. Sedangkan urusan IKM sendiri ada tata kelolanya tersendiri difasilitasi Kementerian Perindustrian dan Kementerian Tenaga Kerja yang di Bojonegoro difasilitasi Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja

Opini Yonathan Rahardjo

Selama bertahun-tahun, pola pembinaan Industri Kecil Menengah (IKM) maupun UMKM di daerah sering kali terjebak dalam pola lama yang klise: bantuan modal dan pelatihan produksi. Padahal, masalah mendasar yang paling sering menenggelamkan usaha kecil bukan kurangnya keahlian membuat barang, melainkan kerapuhan internal tim dan kecerobohan dalam pengelolaan administrasi.

Fenomena ini menarik untuk dibahas setelah mencermati berita di media tentang pendekatan Bimbingan Teknis IKM yang baru-baru ini diselenggarakan oleh Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Dinperinaker) Bojonegoro di Kampung Tumo. Pembahasan yang diangkat—yakni teamwork tangguh dan akuntabilitas pembukuan—seharusnya menjadi titik balik dan standar baru dalam melihat peta jalan pengembangan ekonomi kerakyatan di daerah.

Ego Sektoral: Penyakit Akut Pelaku Usaha Kecil

Salah satu alasan mengapa IKM di daerah sulit menembus pasar nasional apalagi mancanegara adalah mentalitas "serigala tunggal" (lone wolf). Banyak perajin atau pembuat produk bertindak sebagai direktur, bagian keuangan, bagian pemasaran, sekaligus buruh produksi dalam satu waktu. Ketika permintaan melonjak, usaha mereka langsung kolaps karena tidak ada sistem dan kerja sama tim yang solid.

Membangun teamwork dalam skala IKM memang tidak mudah, namun ini adalah syarat mutlak. Sinergi antar-pelaku usaha lokal—misalnya penggabungan kekuatan IKM kuliner, kriya, dan batik—jauh lebih efektif ketimbang mereka saling bersaing secara tidak sehat di pasar yang sama. Mengubah pola pikir dari kompetisi menjadi kolaborasi (co-opetition) adalah fondasi awal jika IKM ingin memiliki daya tawar yang kuat.

Administrasi Bukan Beban Formalitas, Melainkan Benteng Pertahanan

Hal menarik lain yang patut digarisbawahi adalah pentingnya ketertiban administrasi dan pembukuan. Bagi sebagian besar pelaku usaha mikro, administrasi sering kali dianggap beban birokrasi yang menyita waktu. Pandangan ini keliru besar.

Di dunia bisnis, transparansi keuangan dan kerapian laporan adalah bentuk ketangguhan itu sendiri. Usaha yang tidak memiliki catatan administrasi yang tertata ibarat kapal yang berlayar tanpa kompas; mereka tidak tahu pasti apakah sedang mencetak keuntungan atau justru pelan-pelan menuju kebangkrutan. Ketika sebuah kelompok IKM mampu menyajikan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) dan tata kelola secara akuntabel, kepercayaan (trust) dari lembaga keuangan, investor, hingga mitra pasar global akan datang dengan sendirinya.

Menagih Konsistensi Pendampingan di Lapangan

Tentu saja, wacana besar tentang teamwork dan administrasi tidak boleh berhenti sebagai bahan diskusi atau sebatas jargon seremonial di tempat pelatihan. Kritik terbesar terhadap program pembinaan Pemda selama ini adalah minimnya pendampingan yang berkelanjutan (sustainable mentorship).

Pelatihan yang berdampak tidak cukup hanya sehari atau dua hari, lalu peserta dibiarkan berjuang sendiri. Komitmen birokrasi untuk langsung menurunkan pendamping di lapangan harus benar-benar dikawal secara berkala. Pendampingan tersebut harus mengukur perubahan konkret: Apakah pembukuan mereka membaik setelah pelatihan? Apakah kolaborasi kelompok benar-benar tercipta dalam bentuk produk unggulan bersama?

Penutup: Kerja Kolektif Menuju Kemandirian

Upaya mendorong IKM Bojonegoro agar berdaya saing adalah ujian atas komitmen bersama. Daerah tidak kekurangan orang kreatif maupun produk berkualitas. Yang sering kali kurang adalah keberanian untuk merapikan sistem dari dalam—yaitu membangun mentalitas tim yang solid dan ketertiban manajemen keuangan.

Jika dua fondasi ini berhasil ditanamkan secara konsisten, keberadaan ribuan IKM di daerah tidak hanya sekadar statistik pemanis laporan pemerintah, melainkan menjadi mesin penggerak ekonomi yang benar-benar tangguh, mandiri, dan membanggakan.

Tidak ada komentar: