Dalam diskursus antropologi modern, kebudayaan terdiri atas berbagai unsur universal yang saling berkaitan. Antropolog terkenal Clyde Kluckhohn, sebagaimana dicatat dalam kajian sosiologis, mengelompokkan agama sebagai salah satu unsur universal kebudayaan manusia di seluruh belahan dunia [1]. Namun, pandangan ini mendapat koreksi tajam dari begawan antropologi Indonesia, Koentjaraningrat, yang menegaskan bahwa sistem religi atau sistem keyakinannyalah yang menjadi bagian dari kebudayaan, bukan esensi ilahi dari agama itu sendiri [2].