BOJONEGORO, www.penerbitmajas.com- Ancaman alih fungsi lahan dan degradasi lingkungan mengintai kelestarian 20 geosite, tiga biosite, dan delapan cultural site di Kabupaten Bojonegoro. Bentang alam unik—seperti Kayangan Api, Teksas Wonocolo, Kedung Lantung, dan Antiklin Kawengan—saat ini berada di titik krusial akibat tingginya tekanan pembangunan dan aktivitas eksplorasi lahan.
Permasalahan ini mengemuka di tengah proses pengusulan Geopark Bojonegoro menuju penetapan resmi sebagai UNESCO Global Geopark. Usulan tersebut sebelumnya dinyatakan diterima (accepted) dalam sidang ke-11 Dewan UNESCO Global Geopark di Paris, Prancis, Senin (2/11/2026).
Meski berstatus diterima, penetapan tersebut belum menjadi jaminan mutlak jika alih fungsi dan kerusakan bentang alam di lapangan masih terus berlangsung.
Kepala Bappeda Kabupaten Bojonegoro, Helmy Elisabeth, menjelaskan bahwa usulan daerah memang mendapatkan dukungan suara bulat dari Dewan UNESCO. Namun, tahap penentuan sesungguhnya terletak pada verifikasi lapangan oleh komite penilai.
"Tim komite UNESCO nantinya akan menguji langsung keutuhan bentang alam di lapangan. Penilaian berfokus pada sejauh mana ekosistem geologi mampu bertahan di tengah arus pembangunan serta bagaimana pelestarian budaya lokal dijaga bersama masyarakat," ujar Helmy.
Senada dengan hal tersebut, Bupati Bojonegoro Setyo Wahono menekankan bahwa tantangan terbesar pemerintah daerah dan masyarakat saat ini adalah membuktikan komitmen perlindungan kawasan tersebut secara nyata.
"Pengakuan ini menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga lingkungan dan warisan alam demi generasi mendatang," kata Setyo.
Saat ini, keberlanjutan situs-situs geologi dan budaya Bojonegoro, termasuk kawasan Kampung Samin dan kesenian Wayang Thengul, bergantung pada hasil evaluasi ketat tim UNESCO. Jika perusakan bentang alam gagal diredam, Bojonegoro terancam kehilangan peluang memperoleh predikat internasional tersebut. (Yonathan)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar