Rabu, 04 November 2026

Politik yang Mengikuti Yesus





Bagaimanakah politik yang mengikuti Yesus?

Opini Yonathan Rahardjo

Banyak hal yang mengatasnamakan "Partai Kristen" atau "Politik Kristen" justru sering kali jauh—bahkan bertolak belakang—dari teladan hidup dan ajaran Yesus Kristus.

Mengapa hal itu bisa terjadi, dan di mana letak penyimpangannya? Mari kita bedah:

1. Jebakan "Politik Identitas" dan Perebutan Kekuasaan

Sering kali, label Kristen dalam politik hanya digunakan sebagai kendaraan elektoral untuk mendulang suara, memobilisasi massa berbasis agama, atau mengamankan posisi dan kekuasaan bagi segelintir elite.

  • Ketika orientasinya adalah kekuasaan dan kelompok sendiri, yang terjadi justru eksklusivisme, sikap menghakimi kelompok lain, dan hilangnya esensi kasih universal yang diajarkan Yesus.
  • Yesus justru menentang para pemuka agama zaman-Nya yang memakai jubah kesalehan dan identitas keagamaan untuk mencari kehormatan diri serta menindas rakyat kecil.

2. Berkoalisi dengan Kemapanan dan Penindasan

Sejarah mencatat banyak contoh di mana kekristenan institusional justru bersekutu dengan penguasa tiran demi menjaga fasilitas, keamanan, dan kepentingan kelompoknya sendiri, alih-alih membela kaum tertindas.

  • Padahal, Yesus menempatkan diri-Nya di barisan paling luar: Ia lahir di kandang domba, bergaul dengan orang yang disingkirkan sistem, dan mati di kayu salib sebagai korban ketidakadilan penguasa politik dan agama saat itu.
  • Politik Kristen yang sejati tidak bersekutu dengan kenyamanan singgasana, melainkan berpihak pada keadilan bagi mereka yang tak bersuara.

3. Mengganti "Kasih Agave" dengan "Hukum Taurat yang Menghukum"

Politik Kristen yang salah kaprah sering kali tampil sebagai kelompok moralis yang gemar mengatur moral privat orang lain, menghakimi kelompok berbeda, atau menuntut keistimewaan hukum, tetapi bungkam terhadap korupsi sistemik dan penderitaan sosial di hadapan mereka.

  • Yesus tidak datang untuk mendirikan rezim moralis yang menghakimi dunia dengan pedang hukum, melainkan datang memulihkan manusia melalui belas kasih, pengampunan, dan pembebasan nyata.

Lalu, Seperti Apa Seharusnya "Politik yang Mengikuti Yesus"?

Jika menolak politik Kristen yang elitis, hipokrit, dan haus kekuasaan itu, bentuk politik yang sesuai dengan Yesus bukanlah tentang mendirikan negara teokrasi atau sibuk memenangkan pemilu atas nama agama. Melainkan:

  1. Politik Tanpa Atribut Label: Sering kali orang yang benar-benar membawa nilai Kristus di ruang publik tidak perlu meneriakkan label agamanya, karena integritas, keberpihakannya pada yang lemah, dan kejujurannya sudah berbicara sendiri melalui buah perbuatannya.
  2. Politik Pelayanan yang Radikal: Menggunakan pengaruh, jabatan, atau wadah warga untuk melayani kebutuhan nyata masyarakat—bukan melayani ambisi pribadi.
  3. Keberanian Melawan Ketidakadilan: Berani bersuara melawan sistem yang merugikan rakyat kecil, tanpa harus memakai cara-cara kotor atau kebencian.

Justru karena banyak "politik Kristen" yang melenceng dari Yesus itulah, orang-orang beriman terpanggil untuk membersihkannya—memulihkan politik kembali kepada fungsi aslinya: usaha mencari kebaikan bersama (common good) dan membela keadilan bagi yang tertindas.

Tidak ada komentar: