Selasa, 03 November 2026

Ekologi Bahasa dan Nurani Publik: Menghidupkan Kembali Kejujuran Kata di Ruang Publik








Ekologi Bahasa dan Nurani Publik: Menghidupkan Kembali Kejujuran Kata di Ruang Publik

Opini Yonathan Rahardjo 

Di tengah arus informasi yang bergerak begitu cepat—bahkan sering kali mendahului proses berpikir kita—bahasa di ruang publik tampak semakin kehilangan ruhnya. Kalimat-kalimat yang berseliweran di linimasa, ruang wacana politik, hingga percakapan sehari-hari kian terjebak dalam jebakan pragmatisme verbal. Kata-kata tidak lagi difungsikan sebagai jembatan yang menghubungkan nurani, melainkan sekadar instrumen transaksional untuk memenangkan kepentingan sesaat.

Saya menulis di sini sekedar untuk buka jendela bahwa Ormas itu sangat luas bidang garapnya. Postingan macam itu setaralah posisinya dengan postingan foto dan video kegiatan ormas di bidang lain, yang kalau diterangkan terlalu panjang juga tak ada batasnya.

Di sinilah letak urgensi kita menengok kembali peran estetika bahasa dan sastra bukan sekadar sebagai pajangan menara gading, melainkan sebagai alat baca sosial yang tajam. Majas atau gaya bahasa, yang selama ini kerap direduksi hanya sebagai rumus hafalan pelajaran bahasa di sekolah-sekolah, sebenarnya menyimpan kekuatan kognitif yang luar biasa. Metafora, personifikasi, hingga ironi adalah cara manusia membingkai kompleksitas dunia agar dapat dipahami dengan utuh dan berempati.

Ketika sebuah kebijakan publik yang menekan hajat hidup orang banyak dibungkus dengan bahasa teknokratis yang dingin, majas ironi atau asosiasi yang jujur dari masyarakat bawah sering kali menjadi alarm moral yang paling efektif. Masyarakat membutuhkan ruang di mana bahasa dipulihkan fungsinya—sebagai wahana artikulasi kebenaran, penyeimbang diskursus yang timpang, sekaligus penjaga kewarasan akal sehat.

Sudah saatnya kita merawat ekologi bahasa di negeri ini dengan kesadaran penuh. Bahasa yang santun bukan berarti tumpul, dan bahasa yang kritis tidak harus kehilangan estetikanya. Dengan menghidupkan daya kritis berbahasa di tengah masyarakat, kita sedang menenun kembali kepekaan sosial yang nyaris robek oleh kebisingan narasi palsu. Sebab, merawat kata-kata pada akhirnya adalah ikhtiar paling dasar untuk merawat masa depan manusia itu sendiri.

Penulis adalah Ketua Perkumpulan Majas Untuk Masyarakat

Tidak ada komentar: