Membedah Teologi Kelimpahan Versus Teologi Kemakmuran: Sebuah Catatan Kritis
Opini Yonathan Rahardjo
Diskusi mengenai makna kesejahteraan dan berkat dalam kekristenan sering kali terjebak dalam dikotomi yang keliru, atau sebaliknya, direduksi secara sempit demi mengejar materi. Pernyataan yang menegaskan bahwa Yohanes 10:10 bukanlah teologi kemakmuran, melainkan teologi kelimpahan, membuka ruang permenungan yang jauh lebih dalam mengenai esensi hidup yang ditawarkan oleh Kristus.
Selama ini, arus utama pemikiran yang mendasari teologi kemakmuran kerap kali tanpa sadar disetir oleh paradigma Aristotelian yang sempat mendominasi sejarah pemikiran Eropa—sebuah cara pandang yang menempatkan hal-hal bersifat empiris, material, dan pencapaian lahiriah sebagai ukuran tertinggi dari kesuksesan atau "berkat" ilahi.
Namun, menarik untuk melihat bagaimana warisan filosofis lain, seperti tradisi Platonis, justru memberikan antitesis yang membebaskan. Platonisme membantu melunturkan pandangan materialistis yang menempatkan kelimpahan materi sebagai puncak dari kesejahteraan manusia. Ketika kemakmuran materi tidak lagi dipandang sebagai tujuan akhir atau tolok ukur utama perkenanan Tuhan, maka fondasi dari teologi kemakmuran ala materialistis itu kehilangan pijakannya—atau dengan kata lain, "nyungsep".
Jika gereja atau umat Kristen gagal memahami pergeseran mendasar ini, yang terjadi adalah hilangnya makna rohani yang sejati. Akibatnya, orang Kristen bisa menjadi asing dan "miskin di hadapan Allah", kehilangan kepekaan spiritual yang otentik karena terlalu sibuk mengejar ukuran-ukuran duniawi.
Padahal, Alkitab secara konsisten mendeklarasikan orientasi spiritual yang sama sekali berbeda. Perhatikan penegasan dalam Kitab Suci:
- Matius 5:3 — "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga."
- Lukas 6:20 — "Berbahagialah hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah."
Khotbah di Bukit ini bukan sekadar romantisasi kemiskinan, melainkan sebuah panggilan radikal untuk menaruh ketergantungan mutlak kepada Allah. "Miskin di hadapan Allah" adalah sikap batin yang menyadari ketidakberdayaan diri di hadapan Sang Pencipta, melepaskan keangkuhan mandiri, dan menempatkan Tuhan sebagai satu-satunya sumber kepenuhan hidup.
Oleh karena itu, kelimpahan sejati dalam Yohanes 10:10 ("aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan") menunjuk pada kualitas hidup kekal yang dipulihkan, relasi yang intim dengan Sang Pemilik Hidup, serta buah-buah Roh, alih-alih sekadar saldo rekening yang gemuk atau fasilitas materi yang berlimpah. Sudah saatnya umat membebaskan diri dari jerat teologi yang merendahkan kekristenan sebatas transaksi material, dan kembali menemukan kekayaan sejati di dalam Kerajaan Allah.
(Penulis adalah Ketua Perkumpulan Majas Untuk Masyarakat)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar