Rangkaian ibadah diawali dengan ayat pembuka dari Yeremia 29:7 yang mengimbau umat untuk mengusahakan kesejahteraan kota tempat mereka berada. Suasana kasih Allah yang tulus kemudian ditegaskan melalui Berita Anugerah dari 1 Yohanes 4:16 dan bacaan kedua Roma 12:9-21. Sementara itu, bacaan pertama dari Keluaran 3:1-15 mengisahkan panggilan Musa di semak belukar yang menyala, serta bacaan Injil Matius 16:21-28 mengingatkan pentingnya penderitaan Kristus untuk rencana keselamatan, di mana Petrus sempat menjadi batu sandungan.
Dalam khotbahnya, Helen Jayanti menekankan bahwa sebagaimana Tuhan memanggil Musa untuk membebaskan bangsa Israel dari penindasan di Mesir, Tuhan juga menempatkan umat-Nya di Indonesia dengan konteks keselamatan yang sama. Menggunakan analogi tragedi kapal RMS Titanic pada tahun 1912—di mana benturan kecil dengan gunung es berakibat fatal—pelayan firman mengingatkan bahwa kita tidak boleh menutup mata terhadap persoalan bangsa.
"Bencana dan persoalan struktural bukan sekadar masalah politik hari ini, melainkan persoalan kemanusiaan (humanisme)," tegas Helen Jayanti. Beliau mengajak seluruh umat untuk menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Yesus yang dimulai dari perkara kecil dan sederhana, khususnya dalam memperjuangkan nasib serta kesejahteraan bangsa Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar