Rabu, 26 Agustus 2020

Bedah Buku | Diskusi Buku Virtual VIII "Lelaki dalam Rembulan"


 Diskusi Buku Virtual VIII "Lelaki dalam Rembulan"

Jum'at, 28 Agustus 2020 pukul 19:00 WIB


Join Zoom Meeting

https://us02web.zoom.us/j/89288225404?pwd=dFAwVUZ2NHJaYTFBOFRZMTVlT0NUQT09


Meeting ID: 892 8822 5404

Passcode: tamanbaca

Buku | Lelaki dalam Rembulan

Ukuran: 14x20 cm 

Tebal: 152 hlm


Sehimpun puisi "Lelaki dalam Rembulan" ini merupakan suasana kegelisahan penulis melihat-merasakan dekadensi kehidupan nyata di bumi dan di jagat virtual yang sangat destruktif. Sehingga melalui perenungan penghambaan dalam keteraturan kecil (mikrokosmos) untuk mencapai sublim atas keteraturan besar (makrokosmos) secara pribadi ingin mencari jalan spiritual.  


Nono Warnono


Inilah salah satu upaya seorang anak manusia representasi kehidupan di dunia yang tetap berada di dalam nilai-nilai "rembulan" atau nilai-nilai surgawi dan ketuhanan sebagaimana label yang sudah dipelihara Nono Warnono dalam kumpulan-kumpulan puisi sebelumnya seperti yang berjudul "Nyanyian Bidadari".

Selanjutnya merumuskan bentuk puisi yang dipakai oleh Nono Warnono, jelas berbagai macam pendekatan sudah ditunjukkan ada di dalam buku ini. 

Yonathan Rahardjo

Pemenang Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta


Senin, 24 Agustus 2020

Peristiwa | Workshop Virtual PGRI Bojonegoro (Bag.3)

 Workshop Virtual PGRI Bojonegoro: Menelusuri Kedalaman Kreativitas Guru di tengah Pandemi (Bag. 3)


Oleh: Ajun Pujang Anom


Meskipun bisa dibilang ada hambatan, namun secara overall acara workshop di hari pertama, berlangsung sukses. Tentu saja hal ini membuncahkan harapan, bahwa pelaksanaan di hari kedua atau tepatnya tanggal 20 Agustus 2020 akan lebih lancar. Sebab bisa menilik pengalaman pada hari sebelumnya. Untuk itu panitia pasca-workshop, melakukan evaluasi menyeluruh tentang hal-hal yang memungkinkan nanti dapat dilanjutkan dan diperbaiki.

Berbeda dengan hari pertama, di hari kedua ini, pemateri hanya ada dua orang. Yang pertama adalah Bapak H. Syaifuddin, S.Pd., MM. dan Bapak Bagus Putra W.S., S.Pd. Bapak Syaifuddin merupakan salah satu Pengawas SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro, dalam paparannya beliau juga tak jauh dari pentingnya kesadaran bagi Bapak dan Ibu Guru dalam memahami keadaan pandemi ini. Sedangkan Bapak Bagus ini adalah salah satu trainer pendidikan nasional dan juga edugames designer. Beliaunya saat ini juga mengabdi di DBL Academy.

Materi yang dipaparkan oleh Bapak Bagus ini memerlukan waktu yang lebih lama. Sebab agendanya padat dengan materi-materi yang berkaitan pemakaian ponsel untuk pendidikan. Sebab kita ketahui, pemakaian ponsel yang begitu akrab saat ini, masih kurang optimal. Kebanyakan hanya untuk show up, gaming, dan jualan online. Padahal jika diberdayakan, lebih daripada itu.

Salah satu aplikasi Android yang ditunjukkan, adalah Quiver. Ini adalah contoh aplikasi di bidang Augmented Reality. Dengan memakai aplikasi semacam ini, anak diharapkan lebih antusias dalam proses pembelajaran. Karena aplikasi tersebut membuat gambar atau foto dapat berubah menjadi bentuk 3D. Dan mampu bergerak-gerak pula. Ini tentu memicu penasaran siswa dan dapat memacu kreativitas dari mereka.

Di kala sedang asyik-asyiknya para peserta menyimak paparan dari narsum kedua ini, listrik tiba-tiba mati. Dan tercium bau kabel yang terbakar. Tentu tak butuh waktu yang begitu lama untuk menemukan sumber masalah. Dengan sigap bagian perbaikan mempersiapkan ulang peralatan. Akhirnya acara bisa berlangsung lagi dengan lancar. Dan ini sebenarnya bisa diduga. Maka untuk itu, panitia telah menyiapkan genset dan ponsel cadangan. Untuk mengatasi kemungkinan yang terburuk. 

Alhamdulillah paparan dan disertai praktek peserta, yang memakan waktu lebih dari tiga jam itu usai. Benar-benar tak terasa. Seakan-akan waktu yang diperlukan kurang. Tetapi peserta tak perlu khawatir, minggu depannya akan dilanjutkan. Semoga di hari ketiga nanti, workshop berjalan dengan lebih baik.

Buku | Kelana Rimba Pembina Pramuka

 


Antologi Kisah Inspiratif Pembina dan Pelatih Pramuka

Komunitas Pramuka Menulis

(Kak Novan, Kak Aning, Kak Farih, Kak Said, Kim, Kak Nely, Kak Shanti, Kak Agus Dani, Kak Bangun, Kak Choirul, Kak Teguh CP, Kak Elizabeth, Kak Suhud, Kak Isdiyah, Kak Bagus, Kak Ratno)

Ukuran: 14x20 cm

Tebal: 152 hlm


Buku ini adalah kumpulan kisah inspiratif para pembina dan pelatih pembina Pramuka dalam mengabdi dan mencintai Pramuka. Layak untuk dinikmati. Harapannya ke depan para Pembina dan Pelatih Pembina mau menulis
Prof.Dr. Suyatno, M.Pd

Guru Besar UNESA Surabaya

Waka Binawasa Kwartir Nasional Gerakan Pramuka


Memahami pentingnya rasa cinta tanah air sebagai modal dasar kekuatan bangsa dan negara; kesadaran berbangsa dan bernegara untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa; kesetiaan terhadap Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara; sikap rela berkorban demi bangsa dan negara sebagai wujud tanggung jawab etik, moral dan konstitusional; kemampuan awal bela negara untuk memperkokoh ketahanan nasional dan menyukseskan pembangunan; serta semangat mewujudkan cita-cita bangsa, terwadahi dalam kepramukaan.

Nah, peran pembina pramuka tentu tak terhingga pentingnya. Maka, ketika pengalaman para pembina di gugus depan, atau para pamong Saka, dituangkan dalam tulisan, itu tentu sangat bermanfaat.

Ganet BO

 Andalan Nasional Sekretaris Komisi Bela Negara

 Kwartir Nasional Gerakan Pramuka

Minggu, 23 Agustus 2020

Peristiwa | Workshop Virtual PGRI Bojonegoro (Bag.2)

 Workshop Virtual PGRI Bojonegoro: Menelusuri Kedalaman Kreativitas Guru di tengah Pandemi (Bag. 2)

Oleh: Ajun Pujang Anom

Hawa kekompakan segera terasakan bagi siapapun yang memasuki ruang kendali workshop di hari Rabu, 19 Agustus 2020. Sebab di sana sebanyak 12 operator lapangan atau disebut Tim LO yang sedang melaksanakan tugas untuk menjaga traffic. Mereka dengan seragam batik PGRI motif Kusuma Bangsa bersemangat untuk mengelola segala hal yang terkait. Sehingga nantinya workshop hari pertama ini berjalan dengan lancar. Mereka tentu tak sendiri, dengan di back up panitia dan sejumlah kru pendukung. Jadi total sejumlah 20 orang dikerahkan untuk menyukseskan acara perdana APKS ini.

Namun manusia boleh berencana, Tuhan yang menentukan. Terjadi beberapa kendala yang mengakibatkan kurang lancarnya acara. Syukurnya ini hanya sempat muncul di awal-awal. Meskipun disadari bahwa memang beginilah yang terjadi bila pelaksanaan workshop dilaksanakan secara daring. Pasti muncul dua permasalahan utama, sinyal dan listrik. Dan ini juga diungkap oleh Ibu Sri Hastuti, S.Pd., M.Pd. dalam makalahnya yang berjudul "Antara Pembelajaran Daring, Hambatan dan Solusi dalam Literasi Digital". Dan disahuti pula oleh Bapak Budi Tjahyo Baskoro, S.Pd., M.Si., seorang psikolog, yang mengambil judul "Pemberdayaan Psikologis dalam Penggunaan Literasi Digital untuk Pengembangan Pembelajaran Daring".






Tidak cuma dua pemateri tadi, ada Bapak Dandi Suprayitno, AP., M.Si., Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro yang memberikan arahan sekaligus menjadi keynote speaker. Beliau menyampaikan, dalam kondisi pandemi ini kita harus selalu menjaga diri dengan memperhatikan protokol kesehatan yang telah dirilis pemerintah. Selain beliaunya ada pula Bapak Drs. Sampun Hadam, S.Pd., MM., Kepala SMK Model PGRI Madiun beliau memaparkan tulisan berjudul "Digital dan Lifeskill Education, Salah Satu Hikmah Covid 19". Yang berisi tentang pentingnya memberikan bimbingan kepada anak didik agar mampu beradaptasi terhadap situasi apapun.









Empat pembicara di workshop bagian pertama ini, tentu saja diharapkan mampu memompa semangat para guru dalam menghadapi musibah gegara Virus Corona. Sebab diketahui dengan timbulnya virus tadi, sedikit banyak menciptakan persoalan baru di bidang pendidikan. Tidak cuma soal jaringan internet dan resiko tertular, juga persoalan mindset. Sebagian orang tua menganggap guru-guru telah memakan "gaji buta" dan tidak bertanggung jawab. Sebab proses pembelajaran yang dulu mereka pegang, kini kembali di-handle orang tua. Terus apa gunanya sekolah? Begitu keluhnya. Padahal jika dicermati secara mendalam, tugas guru menjadi lebih berat. Yang biasanya tidak selalu terhubung internet, sekarang harus eksis di sana. Tentu ini membutuhkan waktu dan tenaga ekstra. Belum pula soal, anak yang sering tidak tepat waktu mengumpulkan. Sehingga kerja guru tidak lagi 7 jam sehari, bahkan 24 jam atau bisa dibilang lebih dari itu.

Dengan pemaparan beliau berempat tadi ditambah dengan petuah Ketua PGRI Jawa Timur, Bapak Teguh Sumarno dan Ketua PGRI Bojonegoro, Ali Fatikin, di awal acara. Juga dengan diperkuat do'a dari Bapak Diman Nasihin, mempertebal keyakinan Bapak dan Ibu Guru untuk tetap bersemangat mengabdi dalam dunia pendidikan, apapun yang terjadi. Bahwa memang segala yang ada di dunia ini sudah menjadi Kehendak-Nya dan kita selaku hamba-hamba-Nya harus terus berupaya mengikhtiarkan dengan sungguh-sungguh serta dilambari keikhlasan hati. Dengan demikian semua usaha profesional akan berdampak secara signifikan dan barokah.

Sabtu, 22 Agustus 2020

Buku | Merdeka Belajar dan Pembelajaran Virtual Saat Covid-19



Ukuran: 14x20 cm 

Tebal: 152 hlm

Suwarno, S.Pd., M.M. dengan ketekunan dan konsistensinya mampu menaklukkan godaan dan gangguan yang hinggap pada saat menuliskan perhatian dan kepeduliannya terhadap peristiwa yang berdampak pada gangguan nilai-nilai kebaikan universal. Ia begitu rajin mengirim tulisannya ke media massa mencermati perkembangan khususnya dunia pendidikan di daerahnya. Dan kini sebagian di antaranya bersama tulisannya yang terkait dapat dibaca di buku ini. Semua terkait dunia pendidikan terdampak pandemi penyakit baru Covid-19. Manfaat membacanya, tak terhingga. 

Penerbit


Buku “Merdeka Belajar dan Pembelajaran Virtual Saat Covid-19” ini berisi berbagai opini dan catatan kritis, bagaimana ikhtiar Mendikbud untuk membuat lompatan kebijakan merdeka belajar di bidang pendidikan.  Kiprah Disdik dan para praktisi dalam  meningkatkan kualitas pendidikan.

Di sisi lain, belum terlaksananya kebijakan merdeka belajar tiba-tiba datang pandemi Covid-19 yang memorak-porandakan kebijakan strategis tersebut, sehingga belum dapat diimplementasikan. Siswa harus belajar secara virtual di rumah. Guru mengajar dari rumah, sehingga banyak aspek yang harus disesuaikan. Orang tua harus diajak komunikasi tentang pembelajaran bagi anak-anaknya. Guru harus memperkuat kompetensinya di bidang  teknologi dan pembelajaran virtual agar dapat melakukan pembelajaran jarak jauh secara optimal.

SUWARNO, S.Pd., M.M. 


Jumat, 21 Agustus 2020

Peristiwa | Workshop Virtual PGRI Bojonegoro (Bag.1)

 Workshop Virtual PGRI Bojonegoro: Menelusuri Kedalaman Kreativitas Guru di tengah Pandemi (Bag. 1)


Oleh: Ajun Pujang Anom


APKS PGRI Bojonegoro diamanahi untuk menghelat Workshop Virtual yang bertajuk "Pemanfaatan Literasi Digital untuk Pengembangan Model Pembelajaran Jarak Jauh". Yang sedianya akan digelar dengan sistem IN-ON-IN, mulai 19-26 Agustus 2020. Ini tentu sebuah amanah yang cukup berat. Sebab baru kali pertama ini, APKS PGRI Bojonegoro diberi kesempatan untuk unjuk performa dalam kapasitasnya sebagai sebuah lembaga yang menukangi pelatihan internal. 


Penting untuk diketahui, APKS ini merupakan kependekan dari Asosiasi Profesi dan Keahlian Sejenis. APKS adalah sebuah lembaga baru di bawah naungan PGRI, atau lebih tepatnya organ kelengkapan organisasi. Sebagai organ kelengkapan organisasi, APKS bertindak sebagai pusat pelatihan untuk meningkatkan kompetensi dan skill guru. Jadi dengan adanya APKS ini, diharapkan ada kenaikan kualitas pembelajaran. Yang akhirnya berdampak terhadap unggulnya pendidikan Indonesia.

Kesempatan yang diberikan oleh PGRI Bojonegoro terhadap APKS ini bermula, saat Webinar Bincang Pendidikan yang digelar di bulan sebelumnya, yaitu Juli 2020. Pada saat tersebut, terjadi diskusi yang menarik tentang bagaimana melaksanakan proses kegiatan belajar dan mengajar di tengah pandemi. Apakah diperlukan pembelajaran yang full daring ataukah hybrid, yang merupakan kombinasi dengan luring? Bagaimana mengerjakannya berdasarkan protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah? Dan ketika itu pula lah, ada gagasan menarik untuk mengenalkan APKS ke kalangan guru.

Sebab tak banyak guru yang tahu akan keberadaan APKS. Untuk itulah APKS diberi ajang untuk memperkenalkan diri. Tentu karena sekarang ini, wabah masih menggejala. Salah satu cara yang dianggap terbaik untuk memperkenalkannya, yaitu lewat pelatihan atau workshop. Dengan menggelar workshop ini, APKS diharapkan memperlihatkan kemampuannya untuk menangani sebuah pelatihan dengan sebaik-baiknya. Sebab ke depan, semua pelatihan yang berada di lingkup PGRI, akan di-handle olehnya. Jadi ini tantangan sekaligus peluang bagi APKS untuk membuktikan diri sebagai sebuah lembaga baru.

Dan Selasa, tanggal 18 Agustus 2020, mulai pukul 11.00-15.00 WIB. APKS PGRI Bojonegoro menggelar rapat dan dilanjutkan kegiatan pra workshop. Pra workshop ini merupakan sebuah gladi resik, yang tujuannya untuk mengukur sejauhmana kesiapan panitia beserta fasilitas pendukung. Sebagai wahana uji coba, tentu saja ada perwakilan peserta workshop yang mengikuti. Berjumlah sekitar 150 orang guru, dari total 850 peserta pelatihan daring ini.

Dan terlihat, beberapa kekurangan yang harus segera ditambal. Sehingga pas hari H-nya besok, berjalan dengan lancar tanpa gangguan yang signifikan. Selain itu, pastinya juga panitia memanjatkan do'a agar diberi kemudahan dalam melaksanakan tugasnya. Dan sembari sedikit mengkaji pelaksanaan pelatihan di tiap bulannya.

Buku | Jalan-Jalan Bersama Om San: Zona Asia

 Full Colour

Ukuran: 15x23 cm

Tebal: 304 hlm


Traveling sudah menjadi gaya hidup bagi sebagian orang Indonesia. Apalagi dengan adanya media sosial yang sudah jadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Generasi milenial lebih suka traveling ketimbang belanja barang. Daripada ngumpulin duit buat beli mobil atau rumah, mereka lebih memilih jalan-jalan baik di dalam negeri maupun ke luar negeri. Hampir separuh dari generasi ini melakukan traveling karena terpengaruh oleh postingan di media sosial. 

Sebagai produk dari generasi baby boomers, kami berdua agak terlambat untuk mulai traveling ke manca negara. Dan baru sempat ke luar negeri pada usia hampir setengah abad. Dalam kurun waktu 25 tahun ini, ada cukup banyak negara yang telah kami kunjungi, ada cukup banyak catatan perjalanan yang telah saya buat. Rasanya sayang kalau kumpulan catatan itu hanya disimpan di dalam laci. Oleh karena itu saya ingin menyusunnya menjadi sebuah buku yang bisa dibaca oleh orang banyak. Saya sadar bahwa beda generasi, beda pula gaya liburannya. Jadi buku ini saya lengkapi dengan hal-hal unik yang disukai oleh para traveler milenial seperti wisata kuliner, fotospot yang instagrammable, tempat-tempat untuk hunting suvenir, dan sebagainya. 

F.X. Santoso

Terbaru