Lentera Sang Guru

Kata lentera termasuk kata benda atau nomina. Dengan demikian kata ini dapat dipakai sebagai nama suatu benda, orang, tempat dan apa pun yang dapat dibendakan. Makna aslinya adalah lampu kecil bersifat portabel yang berkaca, dapat ditenteng, dan dipakai orang dalam menembus kegelapan malam misalnya mencari orang hilang atau memeriksa sawah. Makna meluasnya semua yang merupakan sumber cahaya dapat menggunakan kata lentera. Misalnya lampu neon itu telah menjadi lentera selama ini dan kini banyak digantikan oleh kehadiran lampu tel. Contoh lain: Dia lentera hidupku, aku sangat bersyukur memiliki dia yang selalu memperhatikan dan memedulikan perkembanganku. Makna meluas yang bersifat konotatif inilah yang dipakai dalam buku ini, Lentera Sang Guru. Sebagai judul buku frasa ini jelas mewakili semua cerpen yang ada, bahwa ternyata guru sebagai penerang kehidupan mempunyai banyak hal kebaikan yang memberi semangat kehidupan kepada orang di sekelilingnya. Sebagai perbandingan cerita guna memperkaya materi yang kita bahas, kita dapat mengambil cerita-cerita yang berkaitan dengan lentera. Misalnya cerita nasihat bijak supaya orang selalu berjaga-jaga dalam kesehariannya dengan terus menyalakan lenteranya. Lalu cerita orang jangan menaruh lentera di bawah ranjang supaya orang dapat melihat terang yang dipancarkannya. Dan sebagainya. Nilai-nilai moral tentang cahaya, lampu, pelita, lentera, obor, petromaks, lampu pijar, dop, neon, lampu TL, lampu merkuri, teplok, ublik, lilin, lampu mercusuar dan sebagainya terkait cahaya memang selalu menginspirasi sebagai sumber terang. Besar atau kecil sumber cahaya ini, semua istilah dapat mengingatkan kita akan adanya sebuah nilai: Jadilah terang dunia. Dan guru secara meyakinkan telah menjalankan profesi penerang ini. Apa saja kebaikan dari perkataan, perbuatan dan tindak-tanduk guru yang membekas di hati kita sehingga kita merasa diteranginya? Lalu apa sumber terang bagi kehidupan guru sendiri? Terang memang dapat diberikan dan diterima. Sedang kita termasuk guru dapat memberi dan menerima terang.

Judul Buku: Lentera Sang Guru : Kumpulan Cerpen

Pengarang: Tuwuh Handayani

ISBN: 978-602-6346-66-7

ESAI PENDIDIKAN BERKUALITAS

Mutu mempunyai tolok ukur, kualitas mempunyai persyaratan. Guna menghasilkan yang terbaik (kualitas/mutu terbaik) standar yang diterapkan mesti tinggi, baik dari segi bentuk dan isi, apa pun bidang. Guna mencapai standar bermutu/berkualitas tinggi maka butuh perilaku profesional. Profesionalitas dapat diperoleh dengan menerapkan kerja secara terukur baik dari segi waktu, tenaga, uang. Pertarungan kualitas dapat diselenggarakan guna memacu kinerja lebih baik dan lebih maksimal. Bidang apa pun. Sudah tentu setiap bidang mempunyai faktor-faktor materi khusus sesuai disiplin ilmu/profesi. Pengukurannya dapat dilakukan secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Dengan demikian langkah pertama guna menentukan kualitas suatu hal adalah menentukan pokok pikiran/tema/gagasan tentang apa yang diukur kualitasnya. Kita tentukan permasalahan apa yang ada pada tema itu, apa yang telah dilakukan/terjadi sebelumnya, faktor-faktor pengubah (variabel) apa yang dapat mempengaruhi masalah itu. Berlaku hukum probabilitas, kita tentukan hipotesa apa yang bakal terjadi bila suatu perlakuan berdasar variabel itu diterapkan. Kita tenhtukan materi yang akan diuji dan media pengujinya apa, lalu metode. Di sisinya kita tetapkan parameter penilaian. Dari hasil pengujian itu kita bahas berdasar teori yang sedari awal teori kita siapkan. Di sini terjadi analisis. Analisis berdasar fakta, asumsi dan teori sebagai kekayaan tentang hal yang sama sebelumnya. Khusus di bidang pendidikan, mari kita petakan semuanya dengan gambaran umum seperti yang dipaparkan ini. 

PENGEMBANGAN TEMA DALAM PEMBELAJARAN IPS

Tema merupakan fondasi sebuah gerakan baik tertulis maupun tidak tertulis. Untuk gerakan tertulis, tema merupakan pokok pikiran tulisan apa bun bentuknya baik fiksi maupun fakta, baik prosa maupun puisi. Untuk gerakan non tertulis, tema merupakan pokok pikiran awal dari semua kegiatan dalam gerakan. Setiap orang yang sanggup menciptakan gagasan pokok dia merupakan pencipta tema yang andal. Jelas, tema sangat dibutuhkan dalam semua bidang kehidupan, tak terkecuali untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Sudah tentu tema dalam IPS mesti berkorelasi positif dengan isu-sisu dan prinsip-prinsip ilmu sosial yang dipelajari. Sementara ranah ilmu sosial begitu luas, disebut sebagai cabang-cabang ilmu sosial. Oleh karena sifatnya yang terfokus maka tema harus dipersempit guna efektivitas pembelajarannya. Sedangkan metodenya dapat bervariasi. Kita pertajam soal pemilihan dan pengembangan tema dalam ilmu pengetahuan sosial, kini. Penentuan tena/pokok pikiran/gagasan dapat melalui pendekatan deduktif dari hal yang bersifat umum menjadi hal bersifat khusus; atau secara induktif, dari hal bersifat khusus menjadi hal bersifat umum. Secara deduktif kita dapat memulai dari penggolongan ilmu-ilmu sosial seperti sejarah, geografi, kewarganegaraan, ekonomi koperasi, antropologi, bahkan ilmu-ilmu humaniora/budaya, kesenian, pada walnya termasuk dalam ranah ilmu sosial. Setelah menentukan kelompoknya kita turunkan pada hal rinci, seperti dalam ilmu sejarah kita fokuskan tentang sejarah Indonesia. Kita persempit lagi misalnya Indonesia zaman prasejarah dan Indonesia zaman sejarah dan seterusnya. Sebaliknya pendekatan pengembangan tema secara induktif dapat dimulai dari hal-hal yang terjadi di sekitar kita. Beberapa kasus kita kumpulkan dan kita beri label pokok pikirannya apa. Dan seterusnya sampai ketemu tema besarnya.

Sajak-Sajakku

Puisi Religius menempati posisi khusus dalam blantika perpuisian tanah air. Karena kekhasan tematik puisi jenis ini dan seringnya penyair penciptanya mencipta puisi religius maka penyair tertentu mendapat julukan penyair religius. Contohnya seperti Ahmadun Yosi Herfanda, Danarto, Zawawi D. Imron, Abdul Hadi WM, Djamal D. Rahman, Agus R. Sardjono, Mustofa Bisri, Wisran Hadi, Acep Zamzam Noor. Atas dasar alasan yang sama Nur Syamsiah dapat dimasukkan dalam penyair religius mengingat karya-karyanya bernapaskan nilai keagamaan. Bahkan judul dan temanya banyak yang langsung menyoal simbol-simbol keagamaannya. Puisi sebagai salah satu seni dapat dipandang dalam kerangka keadiluhungan isi yang menghubungkan manusia dengan Tuhan secara transendental. Semua bahasan puisi baik secara langsung maupun tidak langsung pasti mengeksplorasi nilai-nilai kebaikan-keburukan atau Ketuhanan yang mengejawantah dalam kehidupan manusia. Bedanya ada yang membahasakannya secara jelas sebagai simbol-simbol agama, ada yang menyoal nilai universal, ada yang terkesan tak mengeksplisitkan nilai-nilai. Tingkatan ini yang menjadi dasar penggolongan. Klasifikasi semacam ini sangat berguna, meski puisi sebagai karya seni bukanlah ilmu eksakta/pasti yang membutuhkan klasifikasi nomenklatur seperti yang dilakukan pada ilmu biologi. Sebagai ilmu humaniora, pembahasan tentang puisi dapat ditinjau dari berbagai pendekatan. Saat ini kita membahas dari sudut yang diuraikan ini.

Untuk Ibu Pertiwi

Ibu Pertiwi, sebutan mengambil dari nama Dewi Prativi dalam mitologi agama Hindu. Disebut juga sebagai Dewi Bumi. Sang Bunda Bumi, salah satu sakti Dewa Wisnu. Yang lain adalah Dewi Laksmi, Sang Bunda Semesta. Dewa Wisnu sang pemelihara, didampingi Dewi Pertiwi maka pemeliharaan dan pengelolaan bumi menjadi termanajemen. Semua olah kemanusiaan terlekat erat dengan manajemen pengelolaan bumi. Hingga saat ini bangsa Indonesia menyebut tanah airnya sebagai Ibu Pertiwi, bahkan sebuah lagu dicipta dan ditagarkan sebagai lagu nasional "Kulihat Ibu Pertiwi".

PEMBELAJARAN SINYAL HP UNGKAP KEMAMPUAN SISWA PADA POKOK BAHASAN ALAT OPTIK

Sinyal adalah isyarat untuk melanjutkan suatu kegiatan, dapat berupa tanda-tanda, lampu-lampu, suara-suara. Sinyal HP adalah isyarat bagi pengguna untuk memakai HP-nya bahwa ada pesan atau telepon masuk. HP atau telepon genggam atau telepon seluler adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan sama dengan telepon konvensional tetap dan dapat dibawa ke mana-mana tanpa kabel. Kini semakin lengkap kemampuan HP bukan hanya sebagai telepon suara namun dilengkapi berbagai perangkat komunikasi bahkan teknologi lain yang disebut gawai atau gadget. Secara umum tetap merupakan perangkat telekomunikasi. Apakah yang dimaksud dengan sinyal HP pada penelitian ini adalah sinyal HP dalam pengertian denotatif seperti makna sesungguhnya yang diuraikan ini? Ternyata tidak. Dan sudah menjadi kelaziman karya penelitian inovasi pembelajaran memakai judul yang menarik pembaca sehingga membuatnya lebih mudah diingat. Dapat berupa singkatan menggunakan istilah populer, dan yang disingkat adalah metode atau media pembelajaran yang diteliti. Dan ternyata yang dimaksud dengan sinyal HP dalam penelitian di buku ini merupakan singkatan dari kata "Simak, Menanya, Hasil dan Penyesuaian". Bagaimana rincian rangkaian proses metode ini guna peningkatan kemampuan siswa pada pokok bahasan alat optik? Kita lepaskan dulu materi pelajaran yang sedang diupayakan peningkatannya. karena sesungguhnya metode pembelajaran tersebut dapat juga digunakan pada mata pelajaran-mata pelajaran lain. Kita fokuskan pada metodenya. tak lain tak bukan juga seperti prinsip yang dimiliki dalam komunikasi di mana ada komunikator, alat/media/saluran, materi yang dikomunikasikan dan komunikan. Ada sinyal atau tanda yang disampaikan komunikator kepada komunikan. Di dalam menangkap sinyal ini pada diri komunikan dibutuhkan konsentrasi, kemampuan menyimak, mencerna, menanyakan yang kurang jelas, untuk kemudian diresponkan kepada komunikator. Dari situ terdapat komunikasi timbal balik dan ada hasil sementara yang dapat direvisi atau diperbaiki atau disesuaikan lagi dengan tujuan dari komunikasi dengan penyempurnaan-penyempurnaan. Setelah kita terfokus pada hal ini selanjutnya kita masuk pada materi yang dibahas, dan dalam buku ini adalah tentang alat optik baik yang alami maupun buatan/tiruan. Yang alami jelas mata sebagai indera penglihatan. Lalu apa yang buatan/tiruan?

MEDIA MONAS UNTUK BELAJAR AGAMA ISLAM

Istilah Monopoli juga menjadi sebutan untuk sebuah permainan miniatur pasar jual-beli di mana pemenangnya adalah yang menguasai secara terbanyak aset-aset yang diprjualbelikan. Jelas merupakan cerminan hakekat pengertian monopoli sendiri yaang secara harafiah berarti menjual sendiri. Ini sesuai dengan asrti asal katanya dalam bahasa Yunani Monos (sendiri) dan Polein (Menjual). Selanjutnya pengertian umum dan awam dari monopoli adalah menguasai (pasar) sendiri. Sedangkan agama secara umum oleh sebagian orang dikatakan merupakan singkatan dari a yang berarti tidak dan gama kacau, jadi merupakan suatu bentuk keyakinan agar manusia tidak kacau. Ada pula yang mengatakan sebagai ageman (bahasa Jawa) yang berarti pakaian, di si sini berarti pakaian kehidupan agar hidup manusia menjadi bermartabat. secara umum agama berarti koleksi terorganisisai antara kepercayaan, sistem budaya dan pandangan dunia yang menghubungkan antara manusia dan tatanan kehidupan. Penggabungan kata monopoli dan agama dalam buku ini tidak berdenotasi sebagai monopoli agama atau penguasaan sendiri terhadap agama, namun berarti permainan monopoli untuk meningkatkan nilai-nilai keagamaan. Dengan menerapkan permainan guna tujuan ini secara gamblang yang diterapkan adalah metode dan media permainan monopoli dengan kandungan pesan nilai keagamaan. Jelas ini sebuah kreativitas yang patut dipuji oleh karena permainan apapun pada hakikatnya bersifat netral dan nilai positifnya dapat dimaksimalkan bila kita memakainya dengan niat dan kandungan baik. Bahkan merupakan sebuah penelitian dan ikut dilombakan, tentu penghargaan terhadapnya adalah sebuah upaya guna mengeksplorasi sumber daya yang dikaruniakan Tuhan guna kemahslatan umat. Sementara nilai-nilai keagamaan dalam pelajaran agama sudah jelas tujuannya. Permainan Monas ini merupakan sarana pendukung secara kontekstual setelah mengamati problematika yang ada. 

Judul Buku: Media Monas untuk Belajar Agama Islam

Penulis: Mukarrom

ISBN: 978-602-5958-24-3

Cerita Neneng


Sebagai sesama karya tulis prosa fiktif, inilah perbedaan singkat antara cerpen dan novel: cerpen bersifat menyempit dan novel bersifat meluas. Dengan menyempit berbagai permasalahan yang diangkat dalam sebuah cerpen difokuskan menjadi satu bahasan utama. Dengan meluas masalah-masalah yang diangkat dalam novel dapat saling melengkapi, berkesinambungan dan kompleks. Semula penulis buku ini mengidentifikasi karyanya sebagai sebuah kumpulan cerpen (cerita pendek). Mengingat adanya kesamaan tokoh pelaku yang diangkat dalam setiap "cerpen" yaitu Neneng, apapun alur dan cerita setiap bab sesungguhnya dapatlah disalingsambungkan menjadi satu bangunan utuh yang meluas-berkesinambungan-kompleks sebagai satu ciri novel, maka penerbit memutuskan untuk menerbitkannya sebagai sebuah novel. Baik pada cerpen dan novel sebagai satu karya sastra utuh mesti memenuhi syarat ini yaitu padu dan kompak. Semakin padu dan kompak bangunan cerita dan isi yang disajikan makin baik novel dan cerpen sebagai karya sastra. Jadi apa pun teknik dan genrenya, utuh dan padunya semua unsur novel menjadi satu bangunan novel sangat diperlukan. Inilah yang harus dikejar oleh setiap pengarangnya. Misalnya, meski novel bersifat fragmentaris tetap ada benang merah antar setiap fragmennya sebagai keutuhan novel.Teknik fragmentasi novel ini seperti dilakukan oleh Laura Ingals dalam Little House in The Prairie sehingga novelnya seperti kumpulan cerpen. Tak heran banyak novel oleh berbagai penulis bersifat demikian.  

PELANGI TERAKHIR UNTUK ADINDA

Sering dalam berbagai pertemuan pembahasan buku terbitan Kelompok Penerbit Majas ditanyakan oleh peserta tentang teknis menghadapi kemandegan proses menulis karena kebuntuan ide.Jawabannya adalah sederhana bahwa sesungguhnya kita perlu istirahat sejenak untuk mengumpulkan kembali tenaga terutama tenaga pikiran dan mata yang butuh kesegaran untuk melanjutkan proses. Kebuntuan tersebut terutama dialami oleh penulis yang menulis dengan kebutuhan napas yang panjang seperti menulis novel yang butuh ruang tulia yang panjang, ruang isi yang kompleks. Sedangkan tentang cerpen, pertanyaan tentang kebuntuan ide relatif kurang. Dapat dimengerti karena ruang tulisan cerpen memang tidak sepanjang novel, dan ruang isi dapat hanya satu tanpa cerita pendukung cerita utama. Cerita pendek atau cerpen memang mempunyai satu ciri kesamaan yang mengikat, apabila memperhatikan pendapat-pendapat para ahli tentang cerita pendek begitu bervariasi dan satu sama lain dapat berbeda. Indonesia memang mempunyai ahli-ahli atau pelaku cerpen yang berbeda pendapatnya, apalagi ditambah ahli cerpen dunia yang memperkaya pendapat itu. Baiklah kita ambil garis besarnya saja bahwa cerpen bersifat pendek dari segi panjang tulisan, tokohnya tidak sekompleks novel, ceritanya dapat hanya salah satu epsiode kehidupan seseorang, permasalahan yang diangkat dapat cuma satu masalah tanpa unsur masalah lain pendukung, dan pembacaannya dapat selesai dalam sekali duduk. Pendeknya, tidak ada yang dapat menghalangi kita menulis cerpen meskipun sependek apapun, dan penulis cerpen dapat menulis apapun yang ada dalam benakn, hati, perasaannya tanpa terikat rumusan apapun. Penceritaannya dapat berupa monolog, dialog ataupun bentuk, yang pasti sebuah cerpen haruslah bersifat prosa. Prosa dalam cerpen jelas adalah prosa yang fiktif. Kalaupun berasal dari cerita nyata bila sudah menjadi cerpen maka sifatnya sudah menjadi fiktif, agar yang dapat diambil manfaatnya dapat mengambil pesan moral yang bersifat bebas. Para siswa SMA menulis cerpen pun dapat berpola demikian, apalagi setiap orang berlatar belakang apapun pasti punya preferensi tersendiri menurut pengalaman pancainderanya.

Judul Buku: PELANGI TERAKHIR UNTUK ADINDA: Kumpulan Cerpen 

Pengarang: 8 Siswa SMA Negeri 1 Padangan 

Friska Aning Pratiwi 
Dentamera Kusuma 
Dwi Susilowati 
Eva Silviana 
Kharisma Nanda P.P. 
Tabia Ahlika Ayu Deni 
Indra Setiawan 
Anni Nurjannah 

ISBN: 978-602-6346-72-8

Pangudarasa Gurit Sandi Asma

Semua gurit dalam buku ini memulai baris-baris guritnya dengan aksara berurut nama diri, kecuali sebuah gurit "Basa, Budaya, Sastra" karya Romdonah. Sedang gurit-guritnya yang satu gabungan nama dan profesi "Romdonah Guru Basa Jawa". Dengan cerdas Bu Guru Romdonah mengajar murid-muridnya untuk membuat gurit dengan metode akrostik ini yang dalam bahasa Jawa disebut "Sandi Asma". Bukan hanya langsung menerapkan, sebagai insan ilmiah semua dimulainya dengan sebuah penelitian pendidikan, atau setidaknya saling melengkapi, penelitian sebagai hasil praktik dan praktik pun diteliti guna diterapkan kembali oleh sebab hasil dari metode pembelajaran metode ini signifikan guna perbaikan mutu dan nilai pendidikan/pengajaran bahasa Jawa khusus mencipta gurit alias puisi dalam bahasa Jawa. "What is in a name", sebuah idiom terkenal oleh penyair/sastrawan Inggris William Shakespeare dalam naskah drama dunia "Romeo Juliet" mempunyai korelasi dengan pilihan metode akrostik yang digunakan Bu Guru Romdonah guna berpuisi siswa-siswanya. Nama apapun sesungguhnya secara fisik tidak berpengaruh pada fisik diri yang bersangkutan, seperti kata Shakespeare mawar bernama apapun tetap harum baunya. Bagaimana dengan secara non fisik alias secara rohani, pemberian nama ternyata berpengaruh pada sifat yang bersangkutan. Kepercayaan bahwa nama adalah doa berdampak luas pada upaya setiap orang tua memberi nama yang baik untuk anak-anaknya. Dipercaya pada masanya nanti nama-nama ini akan menjadi sifat dari anak, sehingga jangan sembarangan memberi nama kepada anak. Penggunaan nama yang diurut secara vertikal dan diambil huruf nama sebagai awal huruf baris puisi adalah sesuai kaidah puisi akrostik. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani akrostichis yang berarti huruf depan suatu puisi yang mengambil dari huruf-huruf berurut dari nama/kata tertentu.Dari huruf-huruf yang berfungsi sebagai huruf depan dalam baris dikembangkan dengan kata-kata atau kalimat puitis. Maka kosa kata penyairnya sangat penting untuk dikembangkan, una dapat memenuhi tuntutan menulis baris demi baris sesuai akrostik yang telah disusun dan terbentuk.

BERPRESTASI MATEMATIKA DENGAN PEMBELAJARAN MAKE A MATCH MEDIA TANGRAM

Kelompok Penerbit Majas pernah menerbitkan buku "Matematika Itu Sesuatu...!". Dengan membaca buku ini beberapa pembaca mengaku kepada penerbit mereka mendapatkan pencerahan bahwa segala sesuatu pelajaran (terutama yang semula dianggap sulit seperti matematika) ternyata dapat dipelajari secara mudah. "Andai saya mengenal; hal ini sedari dulu," kata seorang pembaca, "tentu saya pandai matematika." Sedari kecil redaksi penerbit mengenal istilah bahwa matematika adalah dasar dari segala ilmu pengetahuan. Hal itu dirasakan kebenarannya kini. Bahwa, segala sesuatu dalam matematika merupakan simbol dari segala yang ada dan terjadi di sekitar kita. Apapun, sebaliknya dalam matematika terdapat filosofi segala yang ada dan segala peristiwa. Sekarang mari kita jabarkan beberapa pemikiran ini secara sederhana. Simbol atau lambang dalam matematika yang identik dengan angka dan lambang operasi matematika (+), (-), (x), (:), (=). Angka 1 merupakan lambang bawa ada satu hal, satu benda, satu orang, satu jiwa dan sebagainya. Maka dalam pemilihan umum untuk menyebut suatu kontestan pemilu cukup dengan mengangkat satu jari simbol satu. Satu juga simbol persatuan. Ketuhanan Yang Maha Esa. Dan sebagainya. Demikian juga dengan angka-angka yang lain. Sekarang soal filosofi, misalnya operasi perkalian (bilsangan +) x (bilangan +) = (bilangan +) berfilosofi bahwa pikiran positif dengan/terhadap tindakan/hal positif menghasilkan sesuatu yang positif. Sebaliknya perkalian (bilangan -) x (bilangan -) = (bilangan +) berfilosofi bahwa pikiran negatif terhadap hal yang negatif dapat berarti positif. Pemikiran filosofi semacam ini tentu sangat bermanfaat. Selebihnya apapun ilmu dan mata pelajaran selalu menggunakan simbol matematika dan operasinyua pun menjadi dasar operasi pelajaran baik dalam fisika, matematika, dan juga lain sebagainya, bukan? Dan semua ilmu itu guna dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan? Maka belajar matematika memang penting dan mengasyikkan. Kalaulah pelajaran matematika relatif sulit dan menjemukan, segala upaya untuk membuatnya mudah dipelajari, pasti harus diacungi jempol. 

MENYELAMI USIA

Munculnya buku-buku novel/kumpulan cerpen/puisi karya masyarakat dari segala lapisan umur dan kelompok dapat disambut dengan berbagai pendekatan. Kalau kaum seniman lebih tertarik mengkaji secara struktural karya, kaum umum lebih tertarik membahas dari segi sosial. Dapat dipahami bahwa teori kesenian sebagai alat pendekatan analisis terhadap suatu karya seni -di tingkat dunia sekalipun- ada bermacam-macam. Mulai dari teori adiluhung karya seni, teori tiruan kenyataan, teori ekspresi diri, teori universalisasi indiviidu, sampai karya seni sebagai wujud komunikasi populer. Apakah dengan demikian karya yang lebih diteliti dengan pendekatan sosiologi sastra ini kemudian tak masuk dalam ranah karya sastra? Tunggu dulu, bagaimanapun itu termasuk karya sastra. Tinggal penggolongannya tepat di mana guna sebuah justifikasi perkembangan sastra sekaligus perkembangan humaniora dengan ilmu-ilmunya yang berguna bagi kehidupan. Secara praksis itu yang lebih dibutuhkan bagi kemanusiaan dan nilai-nilai itu dapat dieksplorasi dengan mencari kelebihan-kelebihannya. Semua karya pasti punya kelebihan, maka di sinilah kita memberi penghormatan tinggi kepada setiap upaya guna mencapai dan mewujudkan kelebihan itu. Terlebih puisi yang ditulis oleh orang yang telah sebegitu lama menggelutinya. Getar rasa itu begitu terasa. Seperti peribahasa seperti kelapa makin tua makin bersantan. Mari kita simak karya-karya dalam buku puisi ini. lalu kita hidangkan kelebihannya guna hamparan hati yang terbuka. tafsir terbuka merupakan sebuah jawaban dari setiap kegelisahan mencermati setiap kata yang merupakan ekspresi hati dan pengalaman diri penyairnya, di sini. Kejujuran merupakan sebuah nilai yang dapat ditransfer guna menilai setiap pengalaman pasti punya makna dan pesan moral. Rasa syukur adalah pelita hati yang menerangi jalan agar perjalanan berpuisi ini menemukan muara hikmah dan manfaatnya bagi langkah ke depan. Kebahagiaan, itulah tujuan kita dalam berkesenian. Pastikan kebahagiaan itu menjadi milik Anda setelah membaca buku puisi ini.

Judul Buku: “MENYELAMI USIA”: ANTOLOGI PUISI 18

Penyair: Imas Rofi’ah 

ISBN: 978-602-6346-70-4

DENGAN “INCAMAT SISTER” LEBIH PAHAM TEKS HASIL OBSERVASI

Kemenangan atlet tertua kontingen Indonesia merebut medali perunggu cabang olahraga bridge Asian Games 2018 tak bisa dilepaskan pada wujud, jumlah, aturan main kartu remi yang dipakai sebagai kartu bridge dalam tandingnya. Secara sejarah, kartu bridge adalah produk budaya Eropa dengan berbagai perlambangan yang sarat makna filosofi. Empat bentuk daun berbeda dalam kartu remi melambangkan empat musim berbeda yang terdapat di Benua Eropa. Dua warna berbeda (merah dan hitam) melambangkan siang dan malam. Empat raja dalam kartu remi adalah lambang empat raja besar di dunia dalam segala masa menurut budaya Eropa, yaitu Raja Daud (Nabi Daud), Raja Salomo (Nabi Sulaiman), Aleksander Agung, dan Julius Kaisar. Permainan kartu remi/bridge yang asalnya budaya Eropa dan telah mendunia dimainkan segala lapisan masyarakat bahkan tanding resmi seperti Asian Games dan Olimpiade menunjukkan bahwa budaya bersifat netral. Diadopsi dan diadaptasi dalam berbagai permainan bahkan sebagai media pembelajaran menunjukkan nilai-nilai kebaikan dalam kandungannya bersifat universal dan dapat diterapkan secara lokal bahkan sektoral termasuk pendidikan. Mengadopsi berbagai jenis permainan sebagai metode pembelajaran merupakan langkah kreatif yang perlu diapresiasi sepanjang fokusnya tidak terlena dengan asyiknya permainan. Karena, unsur pembelajaran bukan cuma metode. Terutama, soal materi jangan dilupakan, bahkan penguasaan materi inilah yang dituju dan dinilai dalam evaluasi peningkatan kemampuan/penguasaan materi pada diri siswa. Dengan semangat itu kita sambut dengan suka cita kreativitas lahirnya buku ini, di mana permainan kartu remi telah dimodifikasi cara permainannya untuk membantu pembelajaran sehingga daya serap siswa terhadap materi pelajaran menjadi lebih cepat dan efektif.

Buih Sang Waktu

Delapan penulis cerpen dalam buku ini mempunyai cita-cita masing-masing untuk masa dewasanya. Secara berurut cita-cita masing-masing adalah menjadi arsitek, polwan, menjadi orang  baik, menjadi pengusaha, sutradara dan pengusaha, sutradara, psikolog dan guru. Sementara kita melihat fenomena sosial profesi seseorang tidak harus sesuai dengan jurusan pendidikan akademiknya, ada satu faktor yang kita ambil hikmahnya dari penulisan cerpen oleh kedelapan siswa SMA ini. Yaitu faktor jiwa berkesenian. Cerpen merupakan salah satu produk seni dan menulis cerpen merupakan kegiatan berkesenian. Kesenian sendiri merupakan wilayah bebas yang semua orang mempunyai peluang untuk mengembangkannya, apa pun profesinya. Dalam sejarah berkesenian di Indonesia pernah terjadi oposisi biner antara seni untuk seni dan seni untuk perjuangan kerakyatan. Kelanjutannya muncul seni punya konteksnya dalam ruang lingkup non struktur seni. Dua arah berbeda antara seni untuk seni dan seni untuk rakyat ini apakah bisa bertemu? Satu sisi seni untuk seni dianggap dapat menjauhkan diri dari kemanusiaan. Satu sisi yang lain seni untuk rakyat dianggap dapat menjadikan seni ditunggangi kepentingan praksis bahkan politis. Dengan kritisme terhadap dua hal ini sesungguhnya merupakan upaya untuk mencari titik temu keduanya. Artinya, menjadi alat penyeimbang bahwa kedua-duanya perlu dan masing-masing jangan kebablasan dalam bandul yang ekstrim. Selebihnya membutuhkan pembahasan lebih dalam. Yang pasti seni yang bersifat universal berarti dimiliki oleh setiap orang dan masing-masing berpotensi mengembangkannya. Mungkin akan ada yang menekuni terus dunia seni cerpen ini bahkan menjadikannya profesi hingga maestero cerpen. Mungkin menjadi bagian dari kehidupannya meski profesinya lain. Atau mungkin suatu saat akan dilupakan dan tak akan menulis cerpen lagi. Yang pasti koor utamanya saat ini adalah pada pendidikan anak. Mereka semua adalah generasi pemimpin bangsa dan pelaku utama kebangsaan nanti pada masa usianya. Waktu akan menguji.

Teror Telepon

Ada beda-beda tipis antara cerita bergenre horor, misteri dan thriller. Cerita horor berkaitan dengan hal-hal yang menakutkan, dapat bersifat mistis atau bukan mistis (terkait roh-roh halus). Horor yang menakutkan belum tentu berkaitan dengan roh-roh gaib, bukan? Hewan-hewan menakutkan seperti naga, monster, serigala dan sebagainya. Sedangkan roh gaib sangat dekat dengan keberadaan hantu. Perihal mistis sendiri, sudah terdapat penyempitan makna terkait roh halus itu, padahal dalam konteks mistis sendiri hubungan manusia dengan Tuhan (yang sebagian di antara orang percaya bahwa Tuhan adalah Roh) . Kembali ke genre cerita, cerita misteri lain lagi dengan genre horor (termasuk horor yang mistis dan non mistis). Cerita misteri menekankan pada teka-teka terhadap suatu kejadian atau peristiwa. Kalau teka-teki sendiri tandanya sudah tampak, cerita misteri dimulai dari tidak tampaknya tanda yang dapat dipakai sebagai petunjuk. Maka perilaku investigatif dibutuhkan guna membongkar misteri dan memecahkan teka-teki.Tak heran genre misteri dapat disebut sebagai genre investigasi. Cerita-cerita detektif dapat dimasukkan di sini. Tak harus berkaitan dengan mistiss, cerita misteri sendiri dapat diangkat kemisteriannya dengan hal-hal yang berbau mistis juga. Adapun cerita bergenre thriller lebih menekankan ketegangan demi ketegangan, yang umnya berkaitan dengan terancamnya nyawa tokoh ceritanya. Untuk ketegangan yang seperti ini dalam cerita thriller, tentu tak mengharuskan terciptanya ketegangan oleh karena hal bersifat mistis maupun misteri. Baik cerita maupun film, sungguh diperkaya dengan genre-genre tulisan baik horor, misteri maupun thriller. Bahkan penulis cerita dan penulis naskah film ada yang mengkhususkan perhatiannya pada genre tulisannya dan mereka pun berada pada puncak-puncak prestasinya. Tak mustahil pilihan Nur Syamsiah yang "setia" dalam menulis cerita horor (tidak hanya pada buku ini). Dan salah satu ciri cerita horor Nur adalah keterkaitannya dengan hal-hal mistis.

TINGKATKAN PRESTASI BELAJAR KIMIA TATA NAMA SENYAWA DENGAN GAME KARTU UNSUR

Adanya hadiah nobel bagi para peneliti kimia dunia memberi penegasan betapa penemuan bidang kimia merupakan salah satu pengubah peradaban manusia yang sangat penting. Nobel kimia pertama diberikan pada 1901 kepada Jacobus Henricus van't Hoff dari Belanda atas penemuannya hukum dinamika kimia dan tekanan osmosis dalam larutan. Nobel kimia terakhir sampai buku ini terbit diberikan pada 2017 kepada Dubochet dari Swiss, Joachim Frank dari Jerman dan Richard Henderson dari Britania Raya untuk pengembangan mikroskopi kiro-elektron untuk penentuan struktur resolusi tinggi dari biomolekul pada benda padat. Antara tahun 1901-2017 tak terbilang penemuan bidang kimia yang merupakan hasil kerja keras dan konsisten dalam ruang-ruang terfokus laboratorium kimia. Merupakan bukti dedikasi manusia untuk menemukan sesuatu yang berguna bagi kehidupan, mempermudah pemenuhan kebutuhan yang menjadi koor revolusi industri (1750-1850). Mengubah paradigma dunia tentang teknologi kimia dari zaman sebelumnya yang tradisional. Khusus Kimiawan Nobel Senyawa Unsur kita kenal nama Henri Moissan dari Perancis (1906) yang mengisolasi unsur fluor dan pengembangan tungku listrik Mossman. Lalu Sir William Ramsay dari Inggris (1904) yang menciptakan golongan baru pada sistem periodik unsur-unsur selama beberapa waktu disebut inert atau gas mulia. Kemudian Friedrich Wilhelm Ostwald dari Jerman (1909) yang menemukan di bidang katalisis, ekuililbria kimia dan kecepatan reaksi. lantas Paul Sabatier dari Perancis (1912) untuk metode hidrogenasi senyawa kimia. Reaksi kimia sederhana dalam kehidupan melibatkan larutan dan gas kimia dengan berbagai percobaan di laboratorium merupakan kegiatan siswa dalam memahami dasar dari kegunaan zat kimia dalam skala pabrik dan besar. Upaya mempermudah penguasaan dasar ilmu kimia sebagai karya inovasi pembelajaran seperti tertuang dalam buku ini berarti sangat penting dan patut dipuji.

AKU DAN PAK TUA SEPASANG MATA BOLA

Silsilah atau pohon keluarga bermanfaat penting untuk melacak jejak keturunan, berlaku di segala peradaban/kebudayaan. Berbagai kitab suci agama-agama yang ada di dunia mencantumkan silsilah para nabinya, bahkan sebagian di antaranya melanjutkan hingga silsilah para manusia zaman sekarang. Manfaatnya bukan hanya dari sisi biologis namun juga dari sisi ideologis, menciptakan terminologi adanya anak-anak biologis dan adanya anak-anak ideologis.

Tuhan Lindungilah Mereka

Kenyataan dalam hidup, manusia ada yang punya kecenderungan berkelompok dan ada soliter alias menyendiri. Dua pilihan yang tidak bisa saling dapat klaim kebenarannya, ini hanya sebuah pilihan. Dua oposisi biner ekstrim ini ada penghubungnya. Kalau dua sifat ekstrim ini merupakan sifat dasar, ada kenyataannya kita melihat masih ada dimensi ruang dan waktu. Apapun sifat dasarnya, seseorang yang berjiwa sosial dapat menjadi menyendiri, kesepian, tidak berkontak sosial dengan lingkungannya. Ini karena setiap manusia adalah makhluk individu dan bersifat personal seuai dengan waktu dan ruangnya. Apapun, kebutuhan bersosial tak terelakkan, namun kehidupan pribadi juga terus berjalan. Ada kalanya dalam waktu bersosial seseorang pun merasakan kesepian, sendiri. Sebaliknya saat menyendiri sebetulnya ia juga dalam keramaian batin dan memikirkan orang lain (sosial). Ekspresi dari kenyataan batin dan inderawi semacam ini dapat dilihat dari lahirnya puisi di tangan penyair. Bukankah puisi merupakan karya individual? Bukankah pula isi puisi merupakan refleksi dari pikiran, pendapat, dan kisah orang lain (lingkungan/sosial)nya? Tak heran pilihan judul buku ini adalah Tuhan Lindungilah Mereka, mengambil judul salah satu judul puisi. Di sini penyair yang menulis puisi secara individu jelas peduli kepada orang ketiga (orang lain).

Judul Buku: Tuhan Lindungilah Mereka: Kumpulan Puisi 
Penyair: Sri Supriyati 
ISBN: 978-602-6346-61-2

Rona Hidup

Pendekatan untuk sebuah karya sastra baik tunggal maupun kumpulan, saat ini, dapat dilakukan dari segala sisi dan sudut. Ketika kaum klasik berupaya melakukan pendekatan pembacaan dengan cara strukturalis, mereka mencoba melepaskan karya dari semua unsur ekstrinsik sastra. Alih-alihnya, pembahasan secara intriksik dilakukan habis-habisan menyoal semua unsur karangan intriksik demi capaian logis antar unsur baik dari segi bahasa, bentuk karangan maupun logika isi. Metode ini bagus untuk suatu kebutuhan menghidupkan karya sastra sebagai karya mandiri sebagai sebuah "kesatuan organisme sendiri". Namun pada saat bersamaan mencabut "kehidupan organisme" semua unsur berpengaruh bagi lahirnya karya sastra itu, termasuk kehidupan organisme pengarangnya. Betapa tidak, karya strukturalis tidak mau membahas unsur sosiologi sastra, psikologi sastra, kontekstual sastra dan sebagainya yang tidak berbau struktur isi. Dalam kata lain karya sastra menjadi anti sosial terhadap segala di luarnya. Pendekatan semacam ini jelas tidak akan kita pakai untuk membahas karya buku karya Emi Sudarwati ini yang merupakan kumpulan banyak karyanya yang sudah diterbitkan dalam antologi bersama penulis lainnya. Justru dengan pembahasan non strukturalis terhadap karya-karya Emi kita menemukan manfaat begitu besar terhadap karya sastra ataupun apapun karya yang dapat dimasukkan dalam wilayah bersastra. Emi yang guru SMP, pejuang literasi di sekolah dan daerahnya, pemenang tingkat nasional lomba inovasi pembelajaran, dan pengaruhnya yang begitu meluas dalam dunia penerbitan karya guru-guru lain se-Indonesia dalam wadah patungan buku inspiratif, dan segtumbuk "portofolio" yang mengukuhkan pembahasan karya sastra memang tak seharusnya dilepas dari semua unsur non-strukturalis yang lebih bersifat teknis.

Judul Buku: Rona Hidup: Kumpulan Cerpen dan Puisi 

Pengarang: Emi Sudarwati 

ISBN: 978-602-51244-8-8

Bedah Buku Guru Pelopor Perubahan, Pelatihan Inobel dan Menulis Cerita


Bedah Buku terbitan Kelompok Penerbit Majas berjudul "Guru Pelopor Perubahan: 20 Naskah Inobel Terbaik PIPP (Pendidik Indonesia Pelopor Perubahan) Bogor" diselenggarakan pada Jumat, 8 Desember 2017 oleh dan di PBG (Pusat Belajar Guru Bojonegoro). Menghadirkan pemateri Emi Sudarwati, S.Pd. Guru Ahli PBG dan Drh. Yonathan Rahardjo dari Kelompok Penerbit Majas. Setelah bedah buku, semua peserta dilatih tentang penulisan karya Inobel dan membuat karangan cerita pendek (tepatnya kesan-kesan) tentang PBG berdasar kisah nyata masing-masing.



Bojonegoro Book Fair 2018

Bojonegoro Book Fair 2018 diselenggarakan pada 12-13-14 Februari 2018, Gedung Pemkab Bojonegoro Lantai 1 oleh Komunitas Book Fair Bojonegoro. Kelompok Penerbit Majas berpartisipasi dalam pameran buku dan bedah buku. Buku terbitan Kelompok Penerbit Majas yang dibedah adalah "Yang Pernah Singgah", "Abikara", dan "Anyaman Cinta".


 Hari ke-1

Hari ke-2

Hari ke-3

Tong Juara Rindu Petualang


Merajut Negeri Istana Emas


Meminang Hening


Wayang Belajar Jujur


Juara Pena Ganti Sepatu


Dua Pilihan


Workshop Menulis Buku dan Inobel di Sampang Madura


Workshop Menulis Buku dan Inobel diselenggarakan oleh dan di SMPN 3 Sampang, mengundang Emi Sudarwati, S.Pd., didampingi Kelompok Penerbit Majas. Dilaksanakan selama dua hari pada 24-25 Februari 2018.



Maestro Penyair Bojonegoro Baca Puisi



Acara Maestro Penyair Bojonegoro Baca Puisi "Guru dan Murid Tegakkan Kepribadian Budaya" dalam rangka bedah buku "Aku dan Muridku" diselenggarakan Kelompok Penerbit Majas di Pendapa Malawapati Pemkab Bojonegoro. Telah terselenggara dengan lancar dan sukses pada hari Minggu, 15 Oktober 2017 pukul 08.00-11.15. Penanggung Jawab Penerbit Majas, Yonathan Rahardjo - Manajemen Penerbit Majas, Ellisabeth Vitta Dharmayantie - Penulis-Ketua tim penulis buku "Aku dan Muridku", Emi Sudarwati - Admin, Kustini - Tim panitia, Benny Hassim.


Pelatihan Jurnalistik dan Launching Buku Sastra di Baureno



Pada 29-10-2015, di SMPN 1 Baureno Pelatihan Jurnalistik dan Launching Buku Sastra. Penyelenggaraannya pada hari Kamis tanggal 29-10-2015 pukul 07.00-selesai. Nara Sumbernya: Anas AG (Radar Bojonegoro) & drh. Yonathan Rahardjo (Sastrawan). Dengan penyelenggara: Emi Sudarwati SPd. Pembina Majalah Bhakti SMPN 1 Baureno.  Dua buku yang diluncurkan dan dibedah adalah terbitan Kelompok Penerbit Majas lini penerbit Dwi Putera Jaya yaitu buku "Angen-Angen" dan "Rasakan Sakit Ibu"