Selasa, 03 Maret 2026

Ending Polemik Kalvinisme-Arminian

Paling bar iki Mas Ruddy akan mengubah persentase imajinernya. Tapi sebagai seorang teknokrat, wajib dapat berhitung imajiner.


Dia tipikal ilmuwan seperti Thomas. 


"Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu... sekali-kali aku tidak akan percaya." (Yohanes 20:25)


Yesus langsung menyapa Tomas dan berkata, "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku... dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah."


  Pengakuan Iman: Tomas menjawab dengan salah satu pernyataan kristologis terkuat di Alkitab: "Ya Tuhanku dan Allahku!"

[4/3 09.19] Yonathan Rahardjo: Pengakuan Thomas inilah yang dipermasalahkan Mas Ruddy. Di situ ada 4 persen Mas Ruddy sebagai perhitungan imajiner. Tak usah dilihat angkanya. Namanya imajiner itu laksana perumpamaan.


Nyatanya Thomas butuh bukti. Dan bukti itu bukti fisik. Apakah tanpa bukti ini Tuhan Yesus yang mengubah hati Thomas?


Sola Scriptura, yang tertulis di Alkitab hanya Tuhan Yesus menunjukkan tangannya yang berlubang paku salib.


Peran manusia atau peran Tuhan di situ, yang menjelaskannya ayat lain di surat-surat rasul-rasul.

[4/3 09.25] Yonathan Rahardjo: Tetapi juga harus diingat, seraya menunjukkan tanganNya yang berlubang itu Tuhan Yesus juga menyuruh Thomas melihatnya dan bersabda Jangan engkau tidak percaya lagi melainkan percayalah.


Kalau ucapan Tuhan ini hanya sekedar Logos, belum tentu dapat mengubah hati Thomas. Tetapi kalau itu Rhema, pasti mengubah.


Dengan Rhema yang mengubah, maka yang membuat Thomas percaya itu ya Sabda Tuhan ini, bukan karena kemanusiaan Thomas.


Dengan demikian maka dapat dipahami doktrin Mas Lukas... Manusia cumak Nol Besar.


Kecuali kalau kata Tuhan itu hanya Logos. 


Dan kalau membaca persentase Mas Ruddy, itu pun ada konteksnya. Lihat makna esensinya bukan pada angka itu.

[4/3 09.50] Yonathan Rahardjo: Di awal Mas Ruddy bilang tentang penciptaan manusia dengan kebebasannya adalah mutlak dan Allah tak mau campur tangan itu. Diberikan sebagai wilayah manusia.


Lalu kita ingat Kejadian 1:26-27 bahwa manusia dicipta sesuai gambar dan peta Allah.maka apakah sesudah manusia jatuh dalam dosa ini semua yang serupa Allah pada manusia itu akan dicabut?


Kalau dicabut semua ya benar manusia 0 (Nol) persen semuanya. Kalau Allah masih menganugerahi manusia dengan sifat Allah pada manusia, ya tentu kita paham bahwasanya kebebasan manusia itu dapat dipertimbangkan posisinya ... Sejauh mana kita mempertimbangkannya sebelum terburu buru mengekor John Kalvin yang produk Humanisme Aufklarung merangsek ke gereja abad pencerahan abad 16?

[4/3 10.52] Yonathan Rahardjo: Saat manusia lemah, Roh Kudus membantu dan berdoa syafaat bagi orang percaya (Roma 8:26).


Kalau ada ayat Roh Kudus langsung membuat orang itu kuat, dalam konteks ini, berarti manusia 0 persen

[4/3 11.02] Yonathan Rahardjo: Kejadian 1:26-27, manusia dicipta sesuai gambar dan rupa Kita (Allah), tafsiran bilang ini Tritunggal, bersifat setara dan sama secara sukarela tanpa paksaan. (Matius 26:39)


Sentral Kalvinis soal predestinasi, Reformed soal Kedaulatan Allah.


Bila anugerah Kejadian 1:26-27 pada manusia tdk dicabut akibat dosa, maka Allah tdk akan memaksa manusia, seperti Allah Bapa TDK memaksa Allah Anak tapi sukarela Anak seperti dalam Matius 26:39.

[4/3 11.24] Yonathan Rahardjo: Di taman Getsemani Yesus yang manusia akhirnya memilih taat penyerah total kehendak Allah meski sebelumnya ingin cawan Allah berlalu. 


Ketika penyerahan total terjadi, itulah Kuasa Allah nyata padaNya sebagai Allah.


Saat itu Yesus adalah manusia dan Allah.


Kita manusia. Dicipta serupa dengan-Nya.


Tampaknya model terpisahnya kemanusiaan dan Keallahan Yesus itu dapat menjadi titik terang polemik Kedaulatan Allah dan kehendak bebas manusia.


Kehendak bebas manusia sesungguhnya terletak pada kasus seperti Jalan simpang Yesus di Taman Getsemani. Manusia cuma diberi pilihan:


Menerima kehendak Allah seperti Yesus atau menolak.


Pilihan akan karambol, setelah total menerima Allah di situ Kuasa Allah nyata.


Jangan diperpanjang lagi bahwa sebelum memilih itu sudah ditakdirkan oleh Allah ala Kalvin. 


Rasanya begitu kok kita jadi lebih nyaman (damai sejahtera).


Sudahkah kita total menyerah kepada Allah?

[4/3 11.30] Yonathan Rahardjo: Terima kasih Tuhan Yesus, polemik Kalvinisme vs Arminian jawabannya adalah di Taman Getsemani.

[4/3 13.17] Yonathan Rahardjo: Kalau 4 persen Mas Rudy itu imajiner, maka 0 persen di Mas Lukas  itu sastra matematika. Karena di matematika ada nilai pembulatan. Sedang di sastra itu suatu gaya bahasa penegasan, karena terlalu kecilnya wilayah manusia yang diberikan oleh Tuhan, maka dapat disebut sebagai nol persen.

[4/3 13.26] Yonathan Rahardjo: Ayat krusial percakapan Tuhan Yesus di Getsemani itu sering dilupakan orang. Lebih bermain penjelasan oleh Rasul Paulus dan Nubuatan di Perjanjian Lama. Padahal pusat dua kelompok kitab itu ya Tuhan Yesus.


Dengan posisi persimpangan Tuhan Yesus sebagai manusia dan Tuhan di Taman Getsemani itu sudah memberi tanda jelas guna menjawab polemik 5 abad sejak reformasi Kalvin. Di mana pertentangannya jelas sama di persimpangan jalan: wilayah manusia dan wilayah Allah.

[4/3 13.41] Yonathan Rahardjo: Pada berbagai ayat yang begitu banyak seperti yang disebutkan Mas Rudy jelas nyata manusia diberi kebebasan memilih. Di lain pihak ayat dari doktrin kedaulatan Allah juga jelas semua sudah ditentukan Allah sehingga terkesan mencederai karunia memilih yang diberikan oleh Allah kepada manusia.


Kita konsisten Sola Gratia pun berlaku bahwa semua hanya karunia Allah, penderitaan pun karunia. Memilih pun karunia. Iman juga karunia. Selamat juga karunia. Allah adalah Allah yang konsisten dengan semua FirmanNya yang Logos maupun yang Rhema. 


Karunia dicipta menjadi serupa Allah yang tetap diberikan meski sudah jatuh dalam dosalah yang membuat manusia punya wilayah karunia berupa kesukarelaan atau kebebasan memilih. Sekecil apapun itu tetap dipelihara Allah secara konsisten. Soal angka 4 persen ala Mas Rudy itu sebetulnya terlalu besar. Wilayah manusia sebetulnya tidak sampai 1 persen karena terlalu kecilnya. Tetapi setiap perbedaan angka tetaplah berarti untuk suatu nilai perubah. Perbedaan 0,00000000000001 tetap membuat statusnya berbeda. Tetap ingatlah Allah punya karunia freewill kepada manusia seperti halnya Tuhan Yesus sebagai manusia itu. Dan Yesus memilih taat.


Adakah kita sudah taat Allah ketika ada pilihan perubahan ibarat hanya 0,000000000001 persen itu?


Ilustrasi nyata berdasar Sola Scriptura:


Yesus dan Pencuri yang Bertobat: Harapan Akhir yang Menakjubkan


Lukas 23:42


"Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja."


Yesus yang sedang menderita di kayu salib di antara dua penjahat yang bersalah, menunjukkan belas kasihan-Nya yang tak terbatas bahkan di saat-saat terakhir hidup-Nya. Salah satu penjahat tersebut mengejek Yesus, sementara yang lain, menyadari keilahian Yesus, menuntut kasih karunia dengan tulus. Dengan kerendahan hati dan keyakinan, penjahat yang bertobat itu memohon pengampunan, mengakui kesalahannya sendiri dan mengakui kekudusan Yesus. Perkataan sederhana dari penjahat itu membawa tanggapan yang menghangatkan hati dari Yesus: "Hari ini juga engkau akan bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa keselamatan tersedia bagi siapa saja yang bertobat dan percaya pada Yesus, bahkan di saat-saat terakhir.


Dengan peristiwa Alkitab Sola Scriptura ini yang menjadi ilustrasi solusi polemik 6 abad tadi, maka nyata semua klop:


juga Sola Gratia, juga Sola Fidei, juga Solus Jesus, dan Soli Deo Gloria


Memakai pendekatan strukturalis, juga dapat menjawab polemik Kalvinisme vs Arminian.


Manusia adalah setitik debu di depan Allah. Karena terlalu dan sangat kecilnya, maka setitik debu itu tidak kelihatan. Dalam matematika nol (0) bahkan kosong (tidak ada).


Namun meski kelihatannya tidak ada, setitik debu tetaplah setitik debu. O,0000000000000000000000001 % hingga tak terhingga kecilnya tak kelihatan.


Itulah kehendak bebas manusia, cukup beriman dengan setitik debu itu yang tidak kelihatan namun ada.


Tidak ada komentar: