Senin, 23 Februari 2026

Lukas 15

 Jika Lukas 14 bicara tentang biaya mengikut Yesus, maka Lukas 15 bicara tentang hati Tuhan yang mencari yang terhilang. Pasal ini sering disebut sebagai "Jantung Injil Lukas" karena berisi tiga perumpamaan ikonik tentang pemulihan.

Konteksnya: Orang-orang Farisi bersungut-sungut karena Yesus makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa. Yesus menjawab mereka dengan tiga cerita ini:

1. Perumpamaan tentang Domba yang Hilang (Ayat 1-7)

 * Cerita: Seorang gembala memiliki 100 ekor domba, tapi satu hilang. Ia meninggalkan yang 99 di padang gurun untuk mencari yang satu itu sampai dapat.

 * Reaksi: Ketika ketemu, ia memikulnya dengan gembira dan memanggil sahabat-sahabatnya untuk bersukacita.

 * Pesan: Ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada 99 orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.

2. Perumpamaan tentang Dirham yang Hilang (Ayat 8-10)

 * Cerita: Seorang perempuan mempunyai 10 dirham (koin perak), dan kehilangan satu. Ia menyalakan pelita, menyapu rumah, dan mencarinya dengan cermat.

 * Reaksi: Saat ketemu, ia mengundang tetangganya untuk merayakan penemuan koin itu.

 * Pesan: Malaikat-malaikat Allah bersukacita karena satu orang berdosa yang bertobat. Ini menunjukkan betapa berharganya setiap individu di mata Tuhan.

3. Perumpamaan tentang Anak yang Hilang (Ayat 11-32)

Ini adalah salah satu cerita paling terkenal di dunia, melibatkan tiga karakter utama:

A. Si Anak Bungsu (Pemberontak)

Ia meminta warisan selagi ayahnya masih hidup (penghinaan besar), pergi ke negeri jauh, dan menghabiskan hartanya dengan foya-foya. Saat kelaparan melanda dan ia harus menjaga babi (pekerjaan paling rendah bagi Yahudi), ia sadar dan memutuskan pulang sebagai "upahan".

B. Sang Ayah (Gambaran Allah)

Alih-alih menunggu dengan amarah, sang Ayah berlari menyongsong anaknya saat masih jauh, memeluk, dan menciumnya. Ia tidak membiarkan anaknya menjadi hamba, melainkan memulihkan statusnya dengan jubah terbaik, cincin, dan sepatu.

C. Si Anak Sulung (Si Merasa Benar)

Ia marah melihat pesta untuk adiknya yang berdosa. Ia merasa sudah melayani ayahnya bertahun-tahun tanpa perayaan.

 * Teguran Ayah: "Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku... tetapi kita harus bersukacita karena adikmu ini telah mati dan menjadi hidup kembali."

Intisari Lukas 15

Ketiga perumpamaan ini memiliki pola yang sama: Kehilangan \rightarrow Pencarian \rightarrow Penemuan \rightarrow Perayaan.

Yesus sedang menyindir orang Farisi (si Anak Sulung) yang tidak senang melihat orang berdosa (si Anak Bungsu) diterima kembali. Lukas 15 menegaskan bahwa misi utama Yesus adalah mencari dan menyelamatkan yang hilang.

> Poin Renungan: Apakah kita lebih sering merasa seperti si Anak Bungsu yang butuh pengampunan, atau si Anak Sulung yang sulit mengampuni orang lain?

Lukas 16 berikutnya akan membahas sesuatu yang sangat kontras: Uang dan Bendahara yang tidak jujur. Mau kita lanjut ke sana?


Tidak ada komentar: