Kamis, 22 Januari 2026

YESUS DI TENGAH KERUMUNAN ORANG BANYAK

Dalam studi hermeneutik (ilmu tafsir) Alkitab, momen Yesus berada di tengah kerumunan orang Yahudi bukan sekadar latar belakang cerita, melainkan sebuah elemen teologis yang sangat kaya. Berikut adalah beberapa sudut pandang hermeneutik untuk memahami interaksi tersebut: 

 1. Konteks Historis dan Sosiokultural Secara historis, Yesus hidup dalam masyarakat Yahudi abad pertama yang berada di bawah pendudukan Romawi. Kerumunan yang mengelilingi-Nya biasanya terdiri dari berbagai kelompok dengan motivasi berbeda: Rakyat Jelata (Am ha-Aretz): Mereka yang mencari kesembuhan, makanan, atau pengharapan akan Mesias yang membebaskan mereka dari penindasan. Para Pemimpin Agama (Farisi dan Saduki): Seringkali berada di kerumunan untuk menguji otoritas Yesus atau mencari celah hukum dalam pengajaran-Nya. Murid-murid: Lingkaran dalam yang mencoba memahami makna lebih dalam dari tindakan-Nya. 2. Hermeneutik Identitas: "Anak Manusia" di Tengah Umat-Nya Interaksi Yesus dengan kerumunan menunjukkan konsep Inkarnasi. Yesus tidak tampil sebagai sosok yang eksklusif atau jauh di dalam istana, melainkan "berkemah" di tengah-tengah umat-Nya. Solidaritas: Dia menyentuh penderita kusta, makan bersama pemungut cukai, dan berbicara dengan perempuan (hal yang tabu secara sosial saat itu). Otoritas: Di tengah kerumunan, Yesus sering memberikan "Tafsiran Baru" atas Taurat (misalnya dalam Khotbah di Bukit), yang membuat orang banyak takjub karena Ia mengajar dengan otoritas, bukan seperti ahli Taurat mereka. 3. Ketegangan Teologis: Kerumunan vs. Murid Dalam hermeneutik Injil (terutama Injil Markus), sering muncul perbedaan tajam antara "orang banyak" dan "murid": Orang Banyak: Seringkali hanya melihat mukjizat fisik tetapi gagal memahami identitas rohani Yesus. Mereka adalah kelompok yang berseru "Hosana" saat Ia masuk Yerusalem, namun juga yang berseru "Salibkan Dia" beberapa hari kemudian. Murid: Dipanggil keluar dari kerumunan untuk masuk ke dalam hubungan yang lebih dalam dan memahami rahasia Kerajaan Allah. 4. Simbolisme Eskatologis Kehadiran Yesus di tengah kerumunan sering dianggap sebagai penggenapan nubuatan nabi-nabi Perjanjian Lama tentang Allah yang mengunjungi umat-Nya. "Aku akan diam di tengah-tengah mereka dan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku." (Bdk. Yehezkiel 37:27). Analisis Lanjut: Jika kita melihat dari kacamata Hermeneutik Pembebasan, Yesus di tengah kerumunan adalah simbol keberpihakan Tuhan pada kaum yang terpinggirkan (the marginalized). Kerumunan tersebut adalah representasi dari kemanusiaan yang lelah dan terlantar "seperti domba yang tidak mempunyai gembala." 

 Ayat-ayat ini menunjukkan dinamika hubungan antara Yesus dan kerumunan orang Yahudi dari berbagai sudut pandang: 1. Belas Kasihan terhadap Kondisi Rakyat Dalam pandangan hermeneutik, Yesus melihat kerumunan bukan sebagai angka, melainkan sebagai jiwa yang membutuhkan bimbingan. Matius 9:36: "Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan telantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala." Lukas 19:48: "tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melaksanakannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia." 2. Otoritas Pengajaran yang Berbeda Hermeneutik menekankan bahwa Yesus memberikan tafsiran Taurat yang radikal dan hidup di depan umum. Matius 7:28-29: "Dan setelah Yesus mengakhiri pengajaran ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, dan tidak sama seperti ahli-ahli Taurat mereka." 3. Penolakan dan Ujian dari Pemimpin Agama Di tengah kerumunan, sering terjadi perdebatan hukum (disputasi) yang bertujuan untuk menjatuhkan Yesus. Lukas 11:53-54: "Dan setelah Yesus keluar dari tempat itu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus-menerus mendesak-Nya dengan hebat dan memancing-Nya berbicara tentang berbagai-bagai hal. Untuk itu mereka menghadang-Nya dan berusaha menangkap sesuatu yang keluar dari mulut-Nya." 4. Mukjizat sebagai Tanda di Tengah Khalayak Interaksi fisik di tengah kerumunan sering kali menjadi sarana penyataan kuasa Allah. Markus 5:30-31: "Pada saat itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: 'Siapa yang menjamah jubah-Ku?' Murid-murid-Nya menjawab: 'Engkau melihat orang banyak ini berdesak-desakan di dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?'" (Kisah perempuan yang sakit pendarahan). 5. Ketidakstabilan Hati Orang Banyak Hermeneutik biblika sering menyoroti ironi antara penyambutan dan penolakan dalam waktu singkat. Penyambutan (Yohanes 12:12-13): "Keesokan harinya ketika orang banyak yang datang merayakan hari raya mendengar, bahwa Yesus sedang di tengah jalan menuju Yerusalem, mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: 'Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan...'" Penolakan (Matius 27:20): "Tetapi oleh hasutan imam-imam kepala dan tua-tua, orang banyak bertekad meminta supaya Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum mati." Kesimpulan Hermeneutik Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa kerumunan orang Yahudi berfungsi sebagai "panggung teologis" di mana Yesus menyatakan dua hal secara bersamaan: Kemanusiaan-Nya (hadir secara fisik, lelah, dan tersentuh) dan Keilahian-Nya (melalui otoritas firman dan mukjizat). 

Tidak ada komentar: