Diskusi mengenai kritik ateis terhadap Alkitab sering kali berpusat pada logika, sains, dan moralitas. Beberapa serangan utama yang sering muncul dan bagaimana perspektif iman Kristen memberikan jawaban yang dianggap masuk akal (apologetika):
1. Kritik Mengenai Kontradiksi Internal
Serangan: Ateis sering menunjukkan ayat-ayat yang tampak bertentangan, seperti perbedaan detail dalam kisah kebangkitan Yesus atau perbedaan silsilah Yesus antara Injil Matius dan Lukas.
Jawaban Iman Kristen:
* Perspektif Saksi Mata: Perbedaan kecil justru sering dianggap sebagai tanda keaslian. Jika empat saksi memberikan laporan yang persis sama kata demi kata, hal itu biasanya mengindikasikan kolusi (persekongkolan).
* Konteks Penulisan: Silsilah dalam Matius mungkin berfokus pada garis keturunan legal (Yusuf), sementara Lukas berfokus pada garis keturunan biologis (Maria).
* Prinsip Non-Kontradiksi: Banyak "kontradiksi" selesai ketika dipelajari melalui bahasa asli (Ibrani/Yunani) dan latar belakang budaya saat itu.
2. Kritik Mengenai Sains (Penciptaan vs Evolusi)
Serangan: Narasi penciptaan 6 hari dalam Kitab Kejadian dianggap bertentangan dengan bukti ilmiah mengenai usia bumi yang mencapai miliaran tahun dan teori evolusi.
Jawaban Iman Kristen:
* Genre Sastra: Alkitab bukan buku teks sains, melainkan pernyataan teologis. Banyak teolog melihat Kejadian 1 sebagai puisi atau narasi terstruktur untuk menunjukkan siapa yang mencipta, bukan bagaimana secara teknis.
* Interpretasi Kata "Hari": Kata Ibrani Yom bisa berarti 24 jam, tetapi juga bisa berarti "periode waktu yang tidak ditentukan" (seperti istilah "pada zaman dahulu").
* Fine-Tuning (Penalaan Halus): Argumen Kristen justru sering menggunakan sains untuk menunjukkan bahwa alam semesta memiliki konstanta fisika yang sangat presisi, yang menunjukkan adanya Desainer Cerdas.
3. Kritik Mengenai Moralitas (Kekerasan di Perjanjian Lama)
Serangan: Tuhan dalam Perjanjian Lama sering dianggap kejam karena memerintahkan peperangan atau hukuman mati.
Jawaban Iman Kristen:
* Keadilan vs Kekejaman: Dalam pandangan Kristen, tindakan tersebut bukan kekejaman semena-mena, melainkan penghakiman ilahi atas bangsa-bangsa yang melakukan praktik amoral ekstrem (seperti pengorbanan anak).
* Bahasa Hiperbola: Banyak ahli Alkitab mencatat bahwa bahasa militer kuno sering menggunakan hiperbola (misalnya "tumpas habis") yang merupakan idiom budaya untuk kemenangan telak, bukan genosida total secara harfiah.
* Progresivitas Wahyu: Alkitab adalah cerita panjang menuju Yesus. Hukum-hukum kuno bersifat sementara untuk mengatur masyarakat bangsa tersebut pada masanya, namun etika tertingginya memuncak pada ajaran kasih Yesus.
4. Kritik Mengenai Keandalan Sejarah
Serangan: Alkitab dianggap sebagai kumpulan mitos yang ditulis jauh setelah peristiwa terjadi, sehingga tidak bisa dipercaya.
Jawaban Iman Kristen:
* Bukti Arkeologi: Penemuan seperti Gulungan Laut Mati (Dead Sea Scrolls) membuktikan bahwa teks Alkitab telah disalin dengan akurasi yang luar biasa selama ribuan tahun.
* Naskah Kuno: Dibandingkan dengan karya klasik lain (seperti karya Plato atau Caesar), Perjanjian Baru memiliki jumlah salinan naskah kuno terbanyak dan jarak waktu terpendek antara peristiwa dengan penulisan.
Kesimpulan
Jawaban iman Kristen biasanya tidak menolak logika, melainkan mengajak untuk melihat Alkitab secara utuh: konteks sejarah, jenis sastra, dan tujuan teologisnya. Iman tidak harus berarti "percaya buta", tetapi sering kali merupakan "iman yang mencari pengertian" (fides quaerens intellectum).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar