Rabu, 14 Januari 2026

Melampaui Labirin Teologi: Menggugat Berhala Dogma dan Menemukan Hidup yang Nyata

Dalam dunia pemikiran iman, kita sering terjebak dalam labirin perdebatan yang tak berujung. Mulai dari pertanyaan apakah Raja Saul adalah pemimpin yang benar-benar diinginkan Tuhan, hingga pertentangan klasik antara Kalvinisme dan Arminianisme. Namun, seringkali dalam upaya kita "menghitung" kedaulatan Tuhan secara kuantitatif layaknya seorang insinyur, kita justru kehilangan hakikat dari iman itu sendiri.

Dilema Kedaulatan dan Logika "Free Thinker"

Jika kita melihat Perjanjian Lama (PL) secara literalis melalui kacamata logika manusia modern, kita mungkin akan terbentur pada narasi kedaulatan yang terasa keras, bahkan "kejam" di mata seorang freethinker. Hukum "mata ganti mata" dan penumpasan bangsa-bangsa sering kali dianggap sebagai potret Allah yang sangat berbeda dengan narasi kasih di Perjanjian Baru (PB).

Seorang pemikir bebas mungkin akan berargumen secara provokatif: “Apakah PB hadir hanya untuk membayar 'utang' Allah kepada manusia atas kerasnya masa lalu?” Tentu, secara teologis normatif, gagasan ini ditolak. Namun, perspektif ini menyentil satu hal: penebusan memang tentang "membayar utang" dosa, tetapi manusia sering kali gagal memahami kesinambungan kasih tersebut karena terlalu sibuk mengotak-ngotakkan sifat Tuhan.

Jebakan "Kakehan Mikir" (Terlalu Banyak Berpikir)

Ada kecenderungan manusia untuk memikirkan hal-hal yang sebenarnya bukan bagiannya. Kita berusaha mengaudit kedaulatan Tuhan hingga ke detail terkecil, seolah-olah Tuhan tidak memberikan ruang bagi tanggung jawab dan kaderisasi manusia.

Mengutip filsuf kosmologi Karlina Supelli yang memilih menjadi Katolik, ada hikmah besar di sana: Tidak perlu memikirkan apa yang bukan bagian manusia. Hal ini selaras dengan nasihat dalam Roma 12:3, agar kita tidak memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kita pikirkan.

Terjebak dalam pusaran perdebatan teologis sering kali hanyalah cara kita menghabiskan waktu secara sia-sia. Sementara kita sibuk berdebat tentang nasib dan kehendak bebas, hidup yang hanya satu kali ini terus berjalan tanpa menghasilkan buah yang nyata.

Kritik Terhadap "Berhala" Organisasi dan Teologi

Fenomena yang menyedihkan adalah ketika gereja lokal tidak mengalami kemajuan karena terbelenggu oleh sistem organisasi yang kaku. Ketika urusan administratif—seperti penyetoran perpuluhan ke pusat—lebih diutamakan daripada pembangunan umat di akar rumput, di situlah agama berubah menjadi birokrasi yang mematikan.

Banyak umat terjebak dalam apa yang bisa disebut sebagai "Berhala Teolog". Mereka terikat pada pendapat pendeta atau aturan organisasi hanya karena iming-iming "tiket surga" (freepass). Jika kita kembali membaca surat-surat Rasul Paulus, fokus utamanya adalah pertumbuhan rohani, bukan kerumitan administratif yang superfisial.

Kesimpulan: Kembali ke Esensi

Tuhan mungkin tidak "resek" (cerewet) mengurusi setiap detail teknis hidup Anda seolah Anda adalah robot. Dia memberikan akal budi dan tanggung jawab. Teologi Kedaulatan Tuhan tidak boleh dijadikan alasan untuk menjadi pasif atau kehilangan kemanusiaan kita.

Pesan utamanya sederhana:

 * Jangan sia-siakan hidup dalam pusaran pertentangan teologis yang hanya membuang energi.

 * Waspadai "permainan" di balik perdebatan yang hanya menguntungkan organisasi atau ego para pemikir.

 * Hiduplah secara nyata. Cukup percaya, turuti mau-Nya, dan jadilah berkat di dunia yang konkret.

Jangan sampai saat kita sibuk berdebat tentang Tuhan, kita justru lupa menjadi manusia yang diinginkan-Nya. Back to laptop: Berhentilah berwacana, mulailah bekerja dan berbuah.


Tidak ada komentar: