Sidoarjo, Penerbitmajas.com – Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jawa Timur sukses menggelar diskusi daring bertajuk "Jagongan ATL Jatim Seri 15" pada Minggu malam (11/1/2026). Acara dipimpin oleh Henri Nurcahyo selaku moderator ini membedah hasil kunjungan delegasi budaya Indonesia ke Rabindranath Tagore Centre (ICCR) di Kolkata, India, yang menjadi pusat pertemuan cendekiawan dan seniman dunia dalam seminar tradisi lisan internasional.
Ketua Umum ATL Jatim, Eko Suwargono, hadir sebagai pemantik utama untuk membagikan "oleh-oleh" intelektual dan kultural dari tanah Benggala. Tidak hanya membawa misi kesenian, Eko juga memaparkan materi mendalam mengenai konsep kepemimpinan dalam Wayang Jawa di hadapan peserta internasional di India.
Kepemimpinan Jawa di Panggung Internasional
Dalam paparannya, Eko Suwargono menekankan bahwa Wayang Jawa bukan sekadar hiburan, melainkan naskah tuntunan kepemimpinan. Ia memperkenalkan konsep-konsep adiluhung seperti Hastabrata—delapan watak alam yang harus dimiliki seorang pemimpin—kepada khalayak di India. Materi ini menarik perhatian besar karena memiliki resonansi dengan nilai-nilai filosofis yang diusung oleh Rabindranath Tagore mengenai keseimbangan antara manusia, alam, dan kepemimpinan yang beretika.
Diplomasi Boneka Lintas Negara
Selain paparan materi, panggung budaya di Kolkata tersebut dimeriahkan dengan festival boneka dunia yang mempertemukan berbagai tradisi unik:
Wayang Potehi (Indonesia): Tim delegasi Indonesia berhasil memukau publik India dengan seni akulturasi Potehi. Kelincahan gerak boneka kantong ini menjadi bukti dinamisnya tradisi lisan Nusantara yang mampu menyerap berbagai pengaruh budaya.
Wayang Boneka India: Tuan rumah menampilkan kekayaan narasi lokal mereka, seperti tradisi Kathputli, yang kental dengan iringan musik ritmik dan kisah kepahlawanan epik.
Delegasi Mancanegara: Berbagai negara lain turut memamerkan seni boneka tradisional mereka, menciptakan dialog visual yang membuktikan bahwa tradisi lisan adalah bahasa universal yang melampaui batas geografis.
Menyambung Jejak Sejarah Tagore
Kehadiran delegasi Indonesia di pusat kebudayaan tersebut seolah menghidupkan kembali memori sejarah tahun 1927, saat Rabindranath Tagore mengunjungi Jawa dan Bali serta jatuh cinta pada seni pertunjukan Indonesia.
"India menunjukkan kepada kita bagaimana tradisi lisan dikelola secara profesional sebagai identitas nasional. Kehadiran kita di sana, baik melalui pertunjukan Wayang Potehi maupun bedah filosofi kepemimpinan Wayang Jawa, adalah upaya menyambung kembali benang merah kebudayaan Asia," ujar Eko Suwargono.
Refleksi Bagi Pegiat Budaya
Diskusi yang didukung oleh kanal TVPANJI ini menjadi refleksi penting bagi pegiat tradisi di tanah air. ATL Jatim berharap semangat dari Kolkata dapat memicu inovasi dalam pelestarian seni tradisi agar tetap relevan di era modern. Melalui "Jagongan" ini, terbukti bahwa tradisi lisan lokal Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat dan sangat dihargai di panggung internasional.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar