Kamis, 15 Januari 2026

Israel Bangsa Pilihan

 Pertanyaan mengenai status Israel sebagai "bangsa pilihan" adalah topik mendalam yang memiliki jawaban berbeda tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya: teologi agama (Yudaisme, Kristen, Islam) atau perspektif sosiopolitik modern.

Berikut adalah uraian mengenai bagaimana berbagai keyakinan memandang konsep ini:

1. Perspektif Yudaisme (Agama Yahudi)

Dalam Yudaisme, konsep "bangsa pilihan" (Am Segula) tetap menjadi bagian inti dari identitas mereka.

 * Perjanjian Abadi: Mayoritas penganut Yahudi percaya bahwa janji Allah kepada Abraham, Ishak, dan Yakub bersifat abadi.

 * Tanggung Jawab, Bukan Hak Istimewa: Penting untuk dicatat bahwa dalam teologi Yahudi, menjadi "terpilih" bukan berarti mereka lebih unggul secara rasial, melainkan memikul beban tanggung jawab yang lebih berat untuk menjalankan hukum Taurat dan menjadi "cahaya bagi bangsa-bangsa" (Or LaGoyim).

2. Perspektif Kekristenan

Pandangan Kristen mengalami perkembangan yang signifikan dalam sejarahnya:

 * Teologi Penggantian (Suprasisionisme): Secara tradisional, banyak gereja dulu mengajarkan bahwa karena penolakan terhadap Yesus, status "bangsa pilihan" berpindah dari Israel secara fisik ke Gereja (Israel Rohani).

 * Teologi Perjanjian Ganda: Namun, banyak denominasi modern (terutama Evangelikal dan Katolik pasca-Vatikan II) percaya bahwa Allah tidak pernah membatalkan janji-Nya kepada bangsa Yahudi, dan bahwa Israel tetap memiliki peran khusus dalam rencana Allah di akhir zaman.

3. Perspektif Islam

Dalam Al-Qur'an, status Bani Israil disebutkan dengan sangat jelas dalam konteks sejarah:

 * Pernah Dilebihkan: Islam mengakui bahwa Allah pernah melebihkan Bani Israil di atas bangsa-bangsa lain pada masa nabi-nabi mereka (QS. Al-Baqarah: 47).

 * Syarat Keimanan: Namun, dalam pandangan Islam, kemuliaan suatu bangsa tidak bersifat mutlak atau keturunan, melainkan bergantung pada ketakwaan dan kepatuhan kepada perintah Allah. Ketika mereka melanggar perjanjian, status istimewa tersebut dianggap hilang, dan kemuliaan berpindah kepada umat yang beriman kepada risalah Nabi Muhammad SAW.

4. Perspektif Sosiopolitik Modern

Di dunia modern, istilah "Israel" sering kali merujuk pada Negara Israel (entitas politik), bukan sekadar kelompok religius.

 * Banyak orang membedakan antara janji religius di kitab suci dengan tindakan politik negara modern.

 * Secara hukum internasional, Israel dianggap sama dengan bangsa-bangsa lain yang terikat pada hukum dan hak asasi manusia universal, tanpa status "pilihan" dalam ranah hukum global.

Kesimpulan

Apakah Israel "sudah bukan" bangsa pilihan bergantung sepenuhnya pada keyakinan pribadi Anda. Jika Anda melihatnya dari kacamata Yudaisme, jawabannya adalah mereka tetap terpilih. Jika dari kacamata Islam atau sebagian pandangan Kristen, status tersebut telah berubah atau bersyarat pada keimanan.


Tidak ada komentar: