Senin, 26 Januari 2026

MATIUS 3


 Matius 3 merupakan pasal yang sangat krusial dalam Perjanjian Baru karena menandai transisi dari masa persiapan (nubuatan Perjanjian Lama) ke realitas Kerajaan Allah yang hadir melalui Yesus Kristus.

Secara garis besar, analisis teologis Matius 3 berfokus pada dua tokoh utama: Yohanes Pembaptis dan Yesus Kristus.

1. Yohanes Pembaptis: Sang Perintis

Yohanes muncul sebagai jembatan antara zaman nabi-nabi dengan zaman Mesias.

 * Teologi Pertobatan (Metanoia): Seruan utama Yohanes adalah "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" (Mat 3:2). Pertobatan di sini bukan sekadar penyesalan emosional, melainkan perubahan orientasi hidup secara radikal (metanoia) sebagai syarat menyambut pemerintahan Allah.

 * Identitas Kenabian: Matius secara spesifik mengutip Yesaya 40:3 untuk mengidentifikasi Yohanes sebagai "suara yang berseru-seru di padang gurun". Pakaian bulu unta dan makanan belalang (mirip Nabi Elia) memperkuat pesan bahwa masa penghakiman dan pemulihan Allah telah tiba.

 * Kritik terhadap Formalisme Agama: Yohanes mengecam kaum Farisi dan Saduki yang mengandalkan garis keturunan (anak-anak Abraham) tanpa adanya "buah yang sesuai dengan pertobatan" (Mat 3:8-9). Secara teologis, ini menegaskan bahwa hubungan dengan Allah didasarkan pada iman yang hidup, bukan ritualistik atau warisan etnis.

2. Baptisan Air dan Baptisan Roh

Matius 3 memperkenalkan perbedaan antara dua jenis baptisan:

 * Baptisan Yohanes: Menggunakan media air sebagai tanda eksternal dari pertobatan batiniah.

 * Baptisan Kristus: Yohanes menyatakan bahwa Mesias akan membaptis dengan Roh Kudus dan api (Mat 3:11).

   * Roh Kudus: Melambangkan pemurnian, pembaruan hidup, dan kuasa ilahi.

   * Api: Melambangkan penghakiman bagi yang menolak (pemisahan gandum dan debu jerami).

3. Baptisan Yesus: Identitas dan Solidaritas

Peristiwa Yesus dibaptis oleh Yohanes mengandung kedalaman teologis yang unik:

 * Solidaritas dengan Manusia: Yesus yang tidak berdosa tidak perlu bertobat. Namun, Ia dibaptis untuk "genap seluruh kehendak Allah" (Mat 3:15). Ini menunjukkan solidaritas-Nya dengan umat manusia yang berdosa dan kesediaan-Nya memikul peran sebagai Hamba yang Menderita.

 * Penyataan Trinitas: Matius 3:16-17 adalah salah satu teks paling jelas mengenai doktrin Trinitas:

   * Anak: Yesus yang sedang dibaptis.

   * Roh Kudus: Turun seperti merpati ke atas-Nya.

   * Bapa: Suara dari sorga yang menyatakan perkenanan-Nya.

 * Deklarasi Mesianik: Suara dari langit—"Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan"—menggabungkan dua nubuatan besar: Raja Mesianik (Mazmur 2:7) dan Hamba Tuhan yang menderita (Yesaya 42:1).

Ringkasan Struktur Teologis

| Unsur | Makna Teologis |

|---|---|

| Gurun (Padang Gurun) | Tempat pengujian, pemurnian, dan awal baru bagi Israel. |

| Kerajaan Sorga | Pemerintahan Allah yang kini menerobos masuk ke dalam sejarah manusia. |

| Merpati | Simbol kedamaian, penciptaan baru, dan pengurapan raja. |

Analisis ini menunjukkan bahwa Matius 3 bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan proklamasi bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan, yang datang untuk memerintah melalui pengorbanan dan pembaruan oleh Roh.



Peristiwa pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis dalam Matius 3:13-17 merupakan momen krusial yang menandai awal pelayanan publik Yesus. Meskipun Yesus tidak berdosa, Ia memilih untuk dibaptis karena alasan-alasan teologis yang mendalam.

Berikut adalah tafsir poin-poin penting dari peristiwa tersebut:

1. "Menggenapkan Seluruh Kehendak Allah" (Ayat 15)

Ini adalah poin yang paling sering dipertanyakan: Mengapa Yesus yang suci perlu dibaptis dengan "baptisan pertobatan"?

 * Identifikasi dengan Manusia: Yesus menunjukkan solidaritas-Nya dengan manusia berdosa. Ia tidak berdiri terpisah dari kita, melainkan merendahkan diri untuk berjalan bersama kita.

 * Ketaatan Sempurna: Kata "kehendak Allah" (dalam beberapa terjemahan disebut "kebenaran") merujuk pada rencana keselamatan Allah. Yesus menaati setiap langkah yang ditetapkan Bapa untuk menjadi Mesias yang melayani.

 * Persiapan Penobatan: Secara simbolis, baptisan ini berfungsi sebagai "pelantikan" Yesus sebelum memulai tugas-Nya di bumi.

2. Yohanes Pembaptis: Sang Pendahulu

Yohanes sempat merasa segan dan berkata, "Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu" (Ayat 14).

 * Yohanes mengenali otoritas spiritual Yesus yang jauh lebih tinggi.

 * Interaksi ini menegaskan transisi dari era Hukum Taurat/Nabi (Yohanes) ke era Anugerah/Mesias (Yesus).

3. Manifestasi Tritunggal (Ayat 16-17)

Peristiwa ini adalah salah satu momen langka di mana ketiga pribadi Allah hadir secara nyata bersamaan:

 * Anak: Yesus yang sedang berada di dalam air.

 * Roh Kudus: Turun seperti burung merpati ke atas Yesus. Ini melambangkan pengurapan kuasa untuk pelayanan-Nya.

 * Bapa: Suara dari surga yang memberikan afirmasi.

4. Makna Simbolis Suara dari Surga

"Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."

Pernyataan ini menggabungkan dua nubuat besar dari Perjanjian Lama:

 * Mazmur 2:7: Menegaskan Yesus sebagai Raja Mesianik.

 * Yesaya 42:1: Menegaskan Yesus sebagai Hamba yang Menderita yang dipilih Allah.

Allah Bapa secara terbuka menyatakan identitas Yesus sebelum Yesus melakukan satu mujizat pun. Hal ini menunjukkan bahwa kasih Bapa didasarkan pada identitas-Nya, bukan sekadar hasil kerja-Nya.

Kesimpulan untuk Kita

Tafsir Matius 3 mengajarkan bahwa baptisan bukan sekadar ritual, melainkan pernyataan ketaatan dan identitas. Bagi umat Kristiani, peristiwa ini menjadi teladan untuk hidup dalam kerendahan hati dan mengikuti kehendak Allah secara penuh.


Peristiwa pembaptisan Yesus dalam Matius 3:13-17 merupakan salah satu titik balik terpenting dalam narasi Injil. Secara teologis, momen ini bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan sebuah proklamasi tentang jati diri Yesus dan misi penyelamatan-Nya. Berikut adalah beberapa poin kunci tafsir teologis atas peristiwa tersebut: 1. Solidaritas dengan Umat Manusia Mengapa Yesus, yang tidak berdosa, perlu dibaptis dengan "baptisan pertobatan"? * Identifikasi Diri: Dengan masuk ke sungai Yordan, Yesus mengidentifikasikan diri-Nya sepenuhnya dengan manusia berdosa. Ia tidak berdiri di kejauhan sebagai hakim, melainkan turun ke dalam kondisi manusia yang paling rendah. * Anak Domba Allah: Secara teologis, ini adalah langkah awal Yesus memikul dosa dunia. Meskipun Ia tidak butuh bertobat, Ia merangkul ritual pertobatan tersebut sebagai bentuk solidaritas. 2. "Menggenapkan Seluruh Kehendak Allah" Dalam ayat 15, Yesus berkata bahwa pembaptisan ini perlu untuk "menggenapkan seluruh kehendak Allah" (Yunani: plērōsai pasan dikaiosynēn). * Ketaatan Sempurna: Yesus menunjukkan ketaatan mutlak kepada rencana Bapa. * Awal Pelayanan Publik: Pembaptisan ini berfungsi sebagai pelantikan resmi Yesus ke dalam jabatan-Nya sebagai Mesias. Dalam tradisi Perjanjian Lama, imam dan raja sering kali diurapi sebelum memulai tugas mereka; di sini, Yesus "diurapi" oleh Roh Kudus. 3. Manifestasi Trinitarian Matius 3 adalah salah satu bagian Alkitab di mana ketiga pribadi Allah hadir secara eksplisit: * Anak: Yesus yang berdiri di dalam air. * Roh Kudus: Turun seperti burung merpati dan hinggap di atas-Nya. * Bapa: Suara dari sorga yang memberikan pengakuan. Kehadiran ketiganya menegaskan bahwa seluruh keberadaan Allah terlibat langsung dalam karya penebusan manusia. 4. Makna Suara dari Sorga Suara Bapa yang mengatakan, "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan" (ayat 17), menggabungkan dua identitas Mesianik dari Perjanjian Lama: * Mazmur 2:7: Merujuk pada Yesus sebagai Raja Mesias yang berkuasa. * Yesaya 42:1: Merujuk pada Hamba yang Menderita yang diurapi Roh untuk menanggung kesengsaraan. Ini menegaskan bahwa Yesus adalah Raja yang memerintah melalui pengurbanan diri. 5. Simbolisme Burung Merpati Turunnya Roh Kudus dalam rupa burung merpati melambangkan: * Penciptaan Baru: Seperti Roh Allah yang melayang-layang di atas air pada penciptaan pertama (Kejadian 1:2), di sini Roh hadir untuk memulai "penciptaan baru" melalui Yesus. * Kelembutan dan Damai: Berbeda dengan penghakiman api yang dinubuatkan Yohanes Pembaptis (ayat 11), Yesus memulai misi-Nya dengan kasih dan kelembutan. Kesimpulan: Pembaptisan Yesus adalah momen Epifani (penampakan kemuliaan Tuhan). Melalui peristiwa ini, Matius ingin pembacanya memahami bahwa Yesus bukan sekadar guru moral, melainkan Anak Allah yang taat, yang datang untuk memulihkan hubungan antara Allah dan manusia melalui jalan kerendahan hati.

Tidak ada komentar: