BOJONEGORO, Penerbitmajas.com – Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 (SMPN 2) Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro, bersiap menggelar pementasan Teater Tradisional Sandur dalam waktu dekat. Acara ini akan menjadi hiburan utama dalam rangkaian penerimaan rapor semester gasal Tahun Ajaran 2025/2026.
Pementasan istimewa ini merupakan hasil kolaborasi intensif, di mana para siswa dibimbing langsung oleh Suyanto, S.Pd. Beliau adalah seorang seniman dari Sanggar Abdi Dalem Sugihwaras sekaligus guru di sekolah tersebut, memastikan integrasi antara pendidikan formal dan pelestarian budaya lokal berjalan optimal.
Lakon "Salah Sangka" Angkat Konflik Sosial Remaja
Dalam pementasan ini, kelompok Sandur SMPN 2 Sugihwaras akan membawakan lakon berjudul "Salah Sangka." Naskah drama ini dirancang khusus oleh pembimbing agar relevan dengan dunia remaja, mengangkat isu dan konflik sosial yang dekat dengan kehidupan anak SMP.
"Melalui bimbingan Bapak Suyanto, kami memastikan Sandur yang ditampilkan tidak hanya otentik secara tradisi, tetapi juga efektif menyampaikan pesan moral sesuai usia anak-anak," ujar perwakilan sekolah.
Inti Cerita: Prestasi dan Kesalahpahaman Sang Ayah
Kisah "Salah Sangka" berputar pada tokoh Cawik dan Pethak. Permasalahan muncul saat Ayah Cawik, tokoh Tangsil, salah paham setelah menemukan catatan dari Pethak, “WIK AKU SENENG KAMU.”
Tangsil mengira kalimat itu adalah ungkapan cinta, padahal Pethak bermaksud menyatakan apresiasi dan kebanggaan atas prestasi akademik Cawik yang selalu menjadi juara kelas dan juara kabupaten.
Sandur sebagai Penggerak Prestasi "Motor Sekolah"
Setelah konflik teratasi dan kesalahpahaman Tangsil terungkap, lakon ditutup dengan pesan kuat dari Tangsil: "Jika ingin pintar seperti Cawik, kalian harus rajin belajar!"
Melalui media Sandur, SMPN 2 Sugihwaras tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga menjadikannya alat motivasi. Pementasan ini sekaligus menegaskan predikat siswa-siswi sekolah tersebut sebagai "Motor Sekolah" dalam hal semangat belajar dan prestasi.
Dengan dukungan penuh dari Suyanto, S.Pd. dan Sanggar Abdi Dalem Sugihwaras, pementasan Sandur ini diharapkan menjadi inspirasi bagi sekolah lain dalam mengintegrasikan seni tradisi ke dalam kegiatan pendidikan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar