Bagian 1: Yesus, Sang Gembala yang Baik (Yohanes 10:1-21)
Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai pintu bagi domba-domba-Nya. Ia menegaskan bahwa hanya melalui Dialah keselamatan tersedia bagi setiap orang.
Sebagai Gembala yang baik, Yesus mengenal domba-domba-Nya secara pribadi, dan domba-domba itu pun mengenal suara-Nya serta tidak akan mengikuti orang asing. Berbeda dengan gembala upahan yang lari saat bahaya datang, Yesus menyatakan kasih-Nya yang luar biasa dengan rela menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya. Ia datang bukan untuk membinasakan, melainkan supaya domba-domba-Nya memiliki hidup yang berkelimpahan. Bahkan, Ia menyatakan memiliki domba-domba lain yang juga harus dibawa-Nya agar kelak menjadi satu kawanan di bawah satu Gembala. Pernyataan ini menimbulkan perpecahan di antara orang-orang Yahudi, sebagian menyebut-Nya kerasukan setan, sementara yang lain takjub akan perbuatan kuasa-Nya.
Bagian 2: Yesus Ditolak oleh Orang Yahudi (Yohanes 10:22-39)
Di tengah perayaan Pentahbisan di Yerusalem, orang-orang Yahudi mengerumuni Yesus dan mendesak-Nya agar berterus terang apakah Ia adalah Mesias. Yesus menjawab bahwa perbuatan-perbuatan yang dilakukan-Nya dalam nama Bapa-Nya telah menjadi kesaksian yang nyata, namun mereka tidak percaya karena mereka bukanlah domba-domba-Nya. Yesus menegaskan bahwa domba-domba-Nya mendengarkan suara-Nya, Ia mengenal mereka, dan Ia memberikan hidup yang kekal kepada mereka sehingga tidak seorang pun dapat merampas mereka dari tangan-Nya. Saat Yesus menyatakan kesatuan-Nya dengan Bapa, orang-orang Yahudi menjadi sangat marah dan mencoba merajam-Nya karena menganggap-Nya menghujat Allah. Namun, Yesus menantang mereka dengan menunjukkan karya-karya baik dari Bapa yang Ia kerjakan, menegaskan bahwa meskipun mereka tidak percaya kepada-Nya, hendaklah mereka percaya kepada pekerjaan-Nya agar mereka mengerti bahwa Bapa ada di dalam Dia dan Ia di dalam Bapa.
Bagian 3: Yesus di Seberang Sungai Yordan (Yohanes 10:40-42)
Setelah ketegangan di Yerusalem memuncak, Yesus pergi meninggalkan kota itu menuju ke seberang sungai Yordan. Ia kembali ke tempat di mana dahulu Yohanes Pembaptis membaptis orang. Di tempat yang penuh kenangan akan kesaksian Yohanes tersebut, Yesus tetap berkarya. Banyak orang datang kepada-Nya, dan mereka mengingat segala sesuatu yang pernah dikatakan Yohanes tentang Yesus sebagai kebenaran. Di tengah suasana yang lebih tenang dan jauh dari permusuhan para pemimpin agama, banyak orang di sana akhirnya percaya kepada Yesus. Mereka melihat bahwa meskipun Yohanes tidak melakukan satu tanda mukjizat pun, namun semua perkataannya tentang Yesus terbukti benar, sehingga iman mereka semakin diteguhkan di hadapan sang Gembala yang kini hadir secara pribadi di tengah-tengah mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar