Minggu, 22 Februari 2026

Yesus di Taman Getsemani

 Berikut adalah narasi peristiwa tersebut yang disusun berdasarkan karakteristik unik dari masing-masing penulis Injil:

1. Injil Markus: Kegentaran Sang Hamba di Ambang Maut

Dalam narasi ini, Yesus di taman Getsemani digambarkan berada dalam puncak penderitaan batin yang paling mentah. Setelah membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes terpisah dari yang lain, Ia mulai merasa sangat takut dan gentar. Dengan hati yang hancur, Ia merebahkan diri ke tanah dan berseru dalam bahasa yang sangat intim, "Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki." Markus menekankan kemanusiaan Yesus yang bergumul hebat, di mana Ia kembali hingga tiga kali dan mendapati murid-murid-Nya tertidur karena tidak sanggup berjaga-jaga bersama-Nya.

2. Injil Matius: Ketaatan Mesias pada Kehendak Bapa

Narasi dalam Injil ini memperlihatkan Yesus di taman Getsemani sebagai sosok yang sangat disiplin dalam doa dan ketaatan. Matius mencatat adanya perkembangan sikap Yesus; pada doa pertama Ia memohon jika mungkin cawan itu lalu, namun pada doa kedua dan ketiga, kalimat-Nya berubah menjadi penerimaan yang mutlak: "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!" Matius menonjolkan bahwa Yesus bukan sekadar pasrah, melainkan secara aktif memilih untuk menundukkan kehendak kemanusiaan-Nya di bawah rencana besar Allah untuk menyelamatkan umat-Nya.

3. Injil Lukas: Perjuangan Fisik dan Penguatan dari Langit

Lukas sang tabib memberikan detail yang paling dramatis mengenai kondisi fisik Yesus di taman Getsemani. Di tengah pergumulan yang disebut sebagai agonia, Yesus berdoa dengan sangat intens hingga peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah. Di tengah keletihan yang luar biasa itu, Lukas mencatat kehadiran malaikat yang turun dari langit untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Kalimat doa yang diucapkan-Nya pun sangat dalam: "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi."

4. Injil Yohanes: Kedaulatan Sang Firman yang Berkuasa

Berbeda dengan ketiga Injil lainnya, Yohanes tidak menampilkan adegan Yesus yang bergumul atau tersungkur. Yesus di taman Getsemani (yang disebut sebagai taman di seberang sungai Kidron) tampil sebagai sosok Raja yang memegang kendali penuh atas situasi. Tidak ada doa permohonan agar cawan dilalukan; sebaliknya, ketika Petrus mencoba melawan dengan pedang, Yesus justru menegaskan kesiapan-Nya dengan kalimat: "Sarungkanlah pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?" Di taman ini, wibawa Yesus begitu besar sehingga pasukan yang datang menjemput-Nya justru rebah ke tanah saat mendengar suara-Nya.

Setiap Injil memberikan kepingan puzzle yang berbeda untuk membentuk gambaran utuh tentang pengorbanan-Nya. Apakah Anda ingin saya membantu menganalisis mengapa detail "peluh darah" hanya muncul di Injil Lukas secara medis?


Peristiwa di Taman Getsemani adalah salah satu momen paling emosional dalam Alkitab, namun keempat penulis Injil memberikan tekanan yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang teologis mereka.

Berikut adalah perbandingan perbedaan utamanya:

Perbandingan Narasi Getsemani

| Fitur | Matius | Markus | Lukas | Yohanes |

|---|---|---|---|---|

| Kondisi Emosional | Sangat sedih dan gentar. | Sangat takut dan gentar. | Sangat ketakutan (Agonia). | Tenang dan berwibawa. |

| Jumlah Doa | 3 kali berdoa. | 3 kali berdoa. | 1 kali (diceritakan singkat). | Tidak ada doa "cawan". |

| Detail Fisik | Sujud dan berdoa. | Rebah ke tanah. | Peluh seperti titik darah. | Berdiri menghadapi pasukan. |

| Kehadiran Malaikat | Tidak disebutkan. | Tidak disebutkan. | Malaikat menguatkan. | Tidak disebutkan. |

| Momen Penangkapan | Yesus dicium Yudas. | Yesus dicium Yudas. | Yudas mendekat (tapi tidak eksplisit mencium). | Pasukan rebah saat Yesus bicara. |

Analisis Unik Tiap Injil

1. Matius & Markus: Kemanusiaan yang Nyata

Keduanya sangat mirip dalam menggambarkan penderitaan batin Yesus. Yesus mengajak Petrus, Yakobus, dan Yohanes untuk berjaga, namun mereka tertidur. Fokus di sini adalah ketaatan Yesus kepada kehendak Bapa meskipun secara manusiawi Ia merasa sangat gentar.

 * Kata Kunci: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya."

2. Lukas: Perspektif Medis & Penguatan

Sebagai seorang tabib, Lukas mencatat detail fisik yang tidak ada di Injil lain: Hematidrosis (keringat darah). Lukas juga satu-satunya yang mencatat kehadiran malaikat yang memberi kekuatan, serta penyembuhan telinga hamba Imam Besar (Malkhus) yang dipotong Petrus.

 * Kata Kunci: "Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah."

3. Yohanes: Kristus yang Berkuasa (Kedaulatan)

Injil Yohanes sangat berbeda. Tidak ada adegan Yesus bergumul dengan doa "Lalukanlah cawan ini." Sebaliknya, Yesus digambarkan sebagai sosok yang memegang kendali penuh.

 * Saat pasukan datang mencari "Yesus orang Nazaret", Ia menjawab "Akulah Dia", dan seketika itu seluruh pasukan rebah ke tanah. Di sini, Yesus bukan "korban" yang tertangkap, melainkan Tuhan yang menyerahkan diri secara sukarela.

 * Kata Kunci: "Akulah Dia." (Yohanes 18:6).

> Catatan Penting: Perbedaan ini bukan berarti antar Injil saling bertentangan, melainkan saling melengkapi untuk memberikan gambaran utuh: Yesus sepenuhnya manusia (Matius, Markus, Lukas) sekaligus sepenuhnya Allah yang berdaulat (Yohanes).

Apakah Anda ingin saya menggali lebih dalam mengenai makna teologis di balik "Peluh Darah" dalam Injil Lukas atau alasan mengapa Yohanes melewati adegan doa di taman?


Tentu, mari kita bedah lebih detail perbedaan antara Matius dan Markus, karena meskipun keduanya sangat mirip (sinoptik), mereka memiliki penekanan kata dan struktur yang sedikit berbeda dalam menggambarkan peristiwa di Getsemani.
Berikut adalah pemisahan narasi antara Injil Matius dan Markus:
1. Menurut Injil Markus (Markus 14:32-42)
Markus dianggap sebagai Injil tertua, sehingga narasinya sangat mentah dan menunjukkan kemanusiaan Yesus yang sangat dalam.
 * Kondisi Emosional: Markus menggunakan kata yang sangat kuat dalam bahasa Yunani (ekthambeistai), yang berarti "sangat takut dan gentar" atau terkejut luar biasa.
 * Posisi Berdoa: Yesus "merebahkan diri ke tanah" (tersungkur sepenuhnya), menunjukkan kehancuran hati yang luar biasa.
 * Isi Doa: Markus mencatat Yesus memanggil Allah dengan sebutan "Abba, ya Bapa" (kata Aram yang sangat intim, seperti "Papa"). Yesus meminta agar, jika mungkin, "saat itu" lalu daripada-Nya.
 * Teguran kepada Murid: Yesus secara khusus menegur Petrus dengan nama lamanya, "Simon, tidurkah engkau?", menekankan kegagalan Petrus yang sebelumnya sombong akan setia sampai mati.
 * Struktur: Markus menekankan bahwa Yesus kembali sebanyak tiga kali dan setiap kali Ia mendapati mereka tidur, mereka "tidak tahu apa yang harus mereka katakan kepada-Nya."
2. Menurut Injil Matius (Matius 26:36-46)
Matius menulis untuk audiens Yahudi, jadi ia lebih menekankan pada Yesus sebagai Mesias yang taat dan penggenapan nubuat.
 * Kondisi Emosional: Matius menggunakan kata "sedih dan gentar". Meskipun mirip Markus, Matius menambahkan kalimat: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya."
 * Posisi Berdoa: Yesus "sujud dan berdoa". Ini menunjukkan sikap hormat dan ketaatan seorang hamba kepada Raja/Bapanya.
 * Isi Doa (Perkembangan): Berbeda dengan Markus yang meringkas doa Yesus, Matius menunjukkan perubahan isi doa Yesus:
   * Doa Pertama: "Jikalau mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku..."
   * Doa Kedua & Ketiga: "Jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!" (Ada perkembangan dari meminta luput menjadi penerimaan penuh).
 * Teguran kepada Murid: Yesus menegur Petrus tetapi menggunakan kata jamak ("tidakkah kamu sanggup..."), yang berarti teguran itu berlaku untuk semua murid yang ada di sana.
 * Penekanan Teologis: Matius lebih menonjolkan bahwa Yesus sadar akan "cawan" yang harus Ia minum sebagai bagian dari rencana keselamatan Allah.
Ringkasan Perbedaan Utama (Matius vs Markus)
| Fitur | Markus | Matius |
|---|---|---|
| Kekuatan Kata | Menekankan Keterkejutan/Ketakutan (Amazed/Terrified). | Menekankan Kesedihan Mendalam (Sorrowful). |
| Panggilan Bapa | Menggunakan istilah "Abba". | Menggunakan istilah "Bapa-Ku". |
| Isi Doa | Fokus pada permohonan agar "saat itu" lalu. | Menunjukkan proses penerimaan kehendak Bapa secara bertahap. |
| Fokus Teguran | Spesifik kepada Simon (Petrus). | Kepada semua murid (jamak). |
Kesimpulannya: Markus ingin kita melihat betapa menderitanya Yesus secara emosional, sedangkan Matius ingin kita melihat betapa taatnya Yesus dalam mematuhi rencana Bapa-Nya meskipun dalam kesedihan yang luar biasa.


Tentu, mari kita rangkum perbedaan mendalam mengenai peristiwa di Taman Getsemani berdasarkan keempat Injil secara terpisah. Masing-masing penulis (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) memberikan "warna" yang berbeda untuk menunjukkan siapa Yesus menurut sudut pandang mereka.
1. Injil Markus: Kemanusiaan dan Ketakutan
Markus menggambarkan Yesus yang sangat "manusiawi" dalam penderitaan-Nya. Fokusnya adalah pada beban emosional yang luar biasa.
 * Emosi: Yesus merasa "sangat takut dan gentar".
 * Posisi: Ia "merebahkan diri ke tanah" (menunjukkan kehancuran hati).
 * Doa: Ia memanggil dengan sebutan "Abba, ya Bapa" (sangat intim). Ia meminta agar jika mungkin, "saat itu" lalu dari pada-Nya.
 * Murid: Yesus menegur Simon (Petrus) secara pribadi: "Simon, tidurkah engkau?".
 * Keunikan: Narasi Markus adalah yang paling mentah, menunjukkan Yesus yang benar-benar bergumul dengan kengerian maut.
2. Injil Matius: Ketaatan Sang Mesias
Matius mengikuti struktur Markus tetapi lebih menekankan pada kepatuhan Yesus terhadap rencana Allah (kedaulatan Bapa).
 * Emosi: Yesus merasa "sedih dan gentar".
 * Posisi: Ia "sujud dan berdoa" (sikap hormat seorang hamba).
 * Doa: Matius mencatat perubahan doa Yesus. Dari meminta "cawan ini lalu" (doa pertama) menjadi "jadilah kehendak-Mu" (doa kedua dan ketiga).
 * Murid: Yesus menegur Petrus, tetapi menggunakan kata ganti "kamu" (jamak), menegur semua murid.
 * Keunikan: Menekankan bahwa Yesus meminum "cawan" itu sebagai penggenapan nubuat.
3. Injil Lukas: Perjuangan Fisik dan Penguatan
Lukas, yang dikenal sebagai tabib, memberikan detail-detail yang berkaitan dengan kondisi fisik dan intervensi surgawi.
 * Emosi: Yesus dalam "agonia" (pergumulan batin yang hebat).
 * Detail Fisik: Lukas adalah satu-satunya yang mencatat bahwa "peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah" yang menetes ke tanah.
 * Intervensi: Muncul seorang malaikat dari langit untuk memberi kekuatan kepada-Nya.
 * Doa: Yesus hanya dicatat berdoa satu kali dengan sangat intens, lalu mendapati murid-murid tidur karena "dukacita".
 * Keunikan: Fokus pada belas kasih Yesus; Ia sempat menyembuhkan telinga hamba Imam Besar yang putus saat penangkapan.
4. Injil Yohanes: Keagungan dan Kedaulatan Ilahi
Yohanes memiliki perspektif yang sangat berbeda. Di sini, Yesus tidak digambarkan bergumul atau ketakutan, melainkan sebagai Raja yang memegang kendali.
 * Doa Getsemani: Yohanes tidak mencatat doa "lalukan cawan ini". Yesus sudah siap sepenuhnya.
 * Momen Penangkapan: Yesus yang mendatangi pasukan, bukan bersembunyi. Saat Ia berkata "Akulah Dia" (Ego Eimi—nama ilahi), seluruh pasukan mundur dan rebah ke tanah.
 * Kedaulatan: Yesus memastikan para murid-Nya dilepaskan ("Biarkanlah mereka ini pergi").
 * Tujuan: Yesus menegur Petrus yang menghunus pedang dengan berkata, "Bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?"
 * Keunikan: Tidak ada adegan penderitaan batin; fokusnya adalah Yesus sebagai Logos yang berkuasa atas maut.
Tabel Ringkasan Cepat
| Aspek | Markus | Matius | Lukas | Yohanes |
|---|---|---|---|---|
| Fokus Utama | Kemanusiaan/Ketakutan | Ketaatan Mesias | Penderitaan Fisik | Kedaulatan Ilahi |
| Deskripsi Doa | Sangat Gentar | "Jadilah kehendak-Mu" | Keringat Darah | Tidak ada doa cawan |
| Jumlah Doa | 3 Kali | 3 Kali | 1 Kali (Singkat) | (Langsung penangkapan) |
| Momen Kunci | Panggilan "Abba" | Penggenapan Firman | Malaikat menguatkan | Pasukan rebah ke tanah |
Apakah Anda ingin saya menjelaskan lebih detail tentang istilah "Cawan" yang sering disebut dalam keempat Injil tersebut?


Berikut adalah narasi peristiwa Yesus di Taman Getsemani yang disusun berdasarkan karakteristik unik dari masing-masing Injil:
1. Narasi Injil Markus: Yesus yang Teramat Gentar
Dalam Injil Markus, kita melihat Yesus yang sangat manusiawi dan tertekan oleh beban maut. Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes ke dalam taman, lalu Ia mulai merasa sangat takut dan gentar. Ia berkata kepada mereka, "Hati-Ku sangat sedih, seolah-olah mau mati rasanya."
Ia pergi sedikit lebih jauh dan merebahkan diri ke tanah, berdoa agar jika mungkin, saat penderitaan itu lalu dari pada-Nya. Ia berseru, "Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki." Tiga kali Ia kembali dan mendapati murid-murid-Nya tertidur. Dengan kecewa Ia menegur Simon Petrus, "Simon, tidurkah engkau? Tidakkah engkau sanggup berjaga-jaga satu jam saja?"
2. Narasi Injil Matius: Yesus yang Taat pada Kehendak Bapa
Matius menggambarkan Yesus sebagai Mesias yang sadar akan tugas-Nya. Setelah menyatakan kesedihan-Nya yang mendalam kepada para murid, Ia pergi sujud dan berdoa. Doa pertama-Nya adalah permohonan agar cawan itu lalu jika mungkin.
Namun, pada doa kedua dan ketiga, narasinya berubah menunjukkan penerimaan yang progresif. Ia berdoa, "Ya Bapa-Ku, jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!" Di sini, fokus utama bukan lagi pada ketakutan-Nya, melainkan pada penyerahan diri yang bulat kepada rencana Allah. Ia menegur murid-murid-Nya yang tertidur dengan mengingatkan bahwa meskipun roh penurut, daging itu lemah.
3. Narasi Injil Lukas: Pergumulan Fisik dan Penguatan Surgawi
Lukas memberikan detail yang sangat intens dan dramatis. Yesus berlutut dan berdoa dengan sangat sungguh-sungguh. Dalam pergumulan batin yang hebat (disebut Agonia), muncul seorang malaikat dari langit untuk memberi kekuatan kepada-Nya.
Karena tekanan batin yang luar biasa itu, Yesus berdoa dengan semakin tegang. Lukas mencatat sebuah fenomena fisik yang unik: peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah. Setelah bangkit dari doa, Ia mendapati para murid tertidur bukan karena malas, melainkan karena kelelahan oleh dukacita. Yesus kemudian membangunkan mereka untuk berdoa agar tidak jatuh ke dalam pencobaan, tepat sebelum Yudas datang.
4. Narasi Injil Yohanes: Kristus yang Berdaulat dan Berkuasa
Dalam Injil Yohanes, suasana di taman (yang disebut sebagai sebuah kebun di seberang sungai Kidron) sangat berbeda. Tidak ada catatan tentang Yesus yang sujud ketakutan atau meminta cawan itu lalu. Sebaliknya, Yesus digambarkan sebagai sosok yang memegang kendali penuh.
Yesus tahu semua yang akan menimpa diri-Nya. Ketika pasukan datang dengan obor dan senjata, Yesuslah yang melangkah maju menemui mereka dan bertanya, "Siapakah yang kamu cari?" Saat Ia menjawab "Akulah Dia", kekuatan ilahi terpancar sehingga pasukan dan penjual-penjual Bait Allah itu mundur dan rebah ke tanah. Yesus tidak terlihat sebagai korban yang pasrah, melainkan sebagai Raja yang dengan sukarela menyerahkan diri demi melindungi murid-murid-Nya.
Perbedaan Utama dalam Sekali Pandang
 * Markus: Menonjolkan emosi (sangat takut) dan panggilan intim "Abba".
 * Matius: Menonjolkan ketaatan hukum dan perubahan isi doa menjadi "Jadilah kehendak-Mu".
 * Lukas: Menonjolkan sisi medis/fisik (peluh darah) dan bantuan malaikat.
 * Yohanes: Menonjolkan wibawa ilahi (pasukan rebah) dan kedaulatan Yesus atas maut.
Apakah Anda ingin saya membantu membuatkan perbandingan dialog spesifik yang diucapkan Yesus di masing-masing Injil tersebut?


Berikut adalah kutipan kalimat doa Yesus di Taman Getsemani menurut masing-masing Injil secara spesifik:
1. Injil Markus (Markus 14:36)
Markus mencatat doa Yesus dengan nuansa kedekatan yang sangat intim namun penuh dengan kegentaran.
> "Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki."
2. Injil Matius (Matius 26:39, 42)
Matius mencatat adanya perkembangan dalam kalimat doa Yesus dari doa pertama hingga doa kedua.
 * Doa Pertama:
   > "Ya Bapa-Ku, jikalau mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Aku kehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."
   > 
 * Doa Kedua & Ketiga:
   > "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!"
   > 
3. Injil Lukas (Lukas 22:42)
Lukas menekankan sisi penyerahan diri Yesus di tengah pergumulan fisik yang hebat (peluh darah).
> "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi."
4. Injil Yohanes (Yohanes 18:11)
Injil Yohanes tidak mencatat adegan Yesus bergumul dalam doa di taman seperti tiga Injil lainnya (Sinoptik). Namun, Yohanes mencatat kalimat Yesus saat menghadapi penangkapan (tepat setelah di taman), yang menunjukkan ketetapan hati-Nya untuk menerima rencana Bapa:
> "Sarungkanlah pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?"
(Catatan: Dalam Yohanes pasal 17, terdapat "Doa Imam Besar" yang sangat panjang yang diucapkan Yesus sebelum sampai ke taman, namun di dalam taman itu sendiri, Yohanes lebih fokus pada otoritas Yesus saat ditangkap).
Perbedaan Kata Kunci:
 * Markus: Menggunakan kata "Abba" (panggilan anak yang sangat dekat).
 * Matius: Menekankan kalimat "Jadilah kehendak-Mu" (mirip Doa Bapa Kami).
 * Lukas: Menekankan kondisi "Jikalau Engkau mau".
 * Yohanes: Menekankan kedaulatan untuk meminum cawan tersebut tanpa tawar-menawar.

The narrative of Jesus's experience in the Garden of Gethsemane is structured based on the unique characteristics of each Gospel.
There are profound differences regarding the events in the Garden of Gethsemane, based on the four Gospels individually. Each author (Matthew, Mark, Luke, and John) provides a different "color" to show who Jesus was from their perspective.
Each Gospel provides different pieces of the puzzle to form a complete picture of His sacrifice. Key Differences at a Glance
​Mark: Emphasizes emotion (deep fear) and the intimate call "Abba."
​Matthew: Emphasizes obedience to the law and the change in the prayer to "Thy will be done."
​Luke: Emphasizes the medical/physical aspect (bloody sweat) and the assistance of angels.
​John: Emphasizes divine authority (the fallen troops) and Jesus' sovereignty over death.

1. The Gospel of Mark: The Servant's Trembling on the Verge of Death
In this narrative, Jesus in the Garden of Gethsemane is depicted as being at the peak of his rawest inner suffering. After separating Peter, James, and John from the others, He began to feel great fear and trembling. Heartbroken, He fell to the ground and cried out in profoundly intimate language, "Abba, Father, nothing is impossible for You; take this cup from Me; however, not what I will, but what You will." Mark emphasizes Jesus' intense human struggle, returning three times to find His disciples asleep, unable to keep watch with Him.
2. Matthew's Gospel: Messiah's Obedience to the Father's Will
The narrative in this Gospel shows Jesus in the Garden of Gethsemane as a man of intense discipline in prayer and obedience. Matthew records a development in Jesus' attitude; in the first prayer, He begged if the cup might pass, but in the second and third, His words changed to absolute acceptance: "My Father, if this cup cannot pass unless I drink it, Your will be done!" Matthew emphasizes that Jesus did not simply submit, but actively chose to submit His human will to God's greater plan to save His people.
3. Luke's Gospel: Physical Struggle and Strengthening from Heaven
Luke the physician provides the most dramatic details of Jesus' physical condition in the Garden of Gethsemane. In the midst of this struggle, known as agonia, Jesus prayed so intensely that His sweat became like drops of blood falling to the ground. Amidst this incredible exhaustion, Luke records the presence of an angel descending from heaven to strengthen Him. The words of His prayer are profound: "My Father, if You are willing, remove this cup from Me; yet not My will, but Yours, be done."
4. John's Gospel: The Sovereignty of the Powerful Word
Unlike the other three Gospels, John does not depict Jesus struggling or falling down. Jesus in the Garden of Gethsemane (referred to as the garden beyond the Kidron River) appears as a King in complete control of the situation. There is no prayer for the cup to be passed; instead, when Peter tries to resist with a sword, Jesus confirms His readiness with the words: "Sheathe your sword; must I not drink the cup the Father has given Me?" In this garden, Jesus' authority is so great that the soldiers who came to fetch Him fell to the ground at the sound of His voice.

narasi peristiwa Yesus di Taman Getsemani disusun berdasarkan karakteristik unik dari masing-masing Injil.
Ada perbedaan mendalam mengenai peristiwa di Taman Getsemani berdasarkan keempat Injil secara terpisah. Masing-masing penulis (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) memberikan "warna" yang berbeda untuk menunjukkan siapa Yesus menurut sudut pandang mereka.
Setiap Injil memberikan kepingan puzzle yang berbeda untuk membentuk gambaran utuh tentang pengorbanan-Nya. Perbedaan Utama dalam Sekali Pandang
​Markus: Menonjolkan emosi (sangat takut) dan panggilan intim "Abba".
​Matius: Menonjolkan ketaatan hukum dan perubahan isi doa menjadi "Jadilah kehendak-Mu".
​Lukas: Menonjolkan sisi medis/fisik (peluh darah) dan bantuan malaikat.
​Yohanes: Menonjolkan wibawa ilahi (pasukan rebah) dan kedaulatan Yesus atas maut.




Tidak ada komentar: