Betul sekali, perbedaan antara praktik puasa murid-murid Yesus dan murid-murid Yohanes Pembaptis bahkan menjadi salah satu poin diskusi yang cukup hangat dalam catatan Injil (misalnya di Matius 9:14-17).
Secara teologis dan praktis, perbedaannya cukup kontras. Berikut adalah poin-poin utamanya:
1. Tujuan dan Motivasi
* Yohanes Pembaptis: Puasanya bersifat penyesalan dan persiapan. Sebagai tokoh transisi yang menyerukan pertobatan, puasa Yohanes dan murid-muridnya mencerminkan kedukaan atas dosa dan penantian akan kedatangan Mesias. Ini adalah bentuk disiplin diri yang sangat ketat dan asketis.
* Yesus: Puasa yang diajarkan Yesus lebih berfokus pada hubungan intim dengan Bapa dan otoritas spiritual. Yesus tidak mewajibkan murid-murid-Nya berpuasa selama Ia masih bersama mereka karena itu adalah waktu "perayaan" (mempelai laki-laki ada bersama mereka). Puasa baru dilakukan setelah Ia pergi sebagai bentuk kerinduan dan penguatan rohani.
2. Gaya Hidup (Asketisme vs. Relevansi)
| Aspek | Yohanes Pembaptis | Yesus Kristus |
|---|---|---|
| Lokasi | Di padang gurun, memisahkan diri. | Di tengah masyarakat, makan bersama pemungut cukai. |
| Makanan | Sangat terbatas (belalang dan madu hutan). | Tidak ada pantangan makanan tertentu, namun berpuasa total saat momen khusus. |
| Citra Publik | Dilihat sebagai sosok yang "keras" dan berpantang. | Sering dituduh sebagai "pelahap dan peminum" oleh musuhnya karena Ia tidak menjauhkan diri dari perjamuan. |
3. Puasa 40 Hari Yesus
Penting untuk diingat bahwa Yesus memang melakukan puasa yang sangat ekstrem di padang gurun selama 40 hari. Namun, puasa ini bukan sekadar ritual rutin, melainkan:
* Persiapan Pelayanan: Menghadapi pencobaan Iblis.
* Identitas: Menunjukkan bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.
4. Perumpamaan Kantong Anggur
Ketika ditanya mengapa murid-Nya tidak berpuasa seperti murid Yohanes, Yesus menjawab dengan perumpamaan kantong anggur yang baru.
> Artinya: Yesus membawa "Anggur Baru" (perjanjian baru, sukacita, kasih karunia) yang tidak bisa dimasukkan ke dalam "kantong lama" (tradisi hukum yang kaku). Puasa dalam ajaran Yesus bukan lagi sekadar kewajiban hukum, tapi respons hati.
>
Singkatnya, puasa Yohanes adalah tentang menanti fajar, sementara kehadiran Yesus adalah terbitnya fajar itu sendiri.
Apakah Anda ingin saya menggali lebih dalam mengenai makna perumpamaan "Kantong Anggur Baru" tersebut atau mungkin membahas instruksi spesifik Yesus tentang cara berpuasa di Khotbah di Bukit?
Berikut adalah bunyi teks Matius 9:14-17 berdasarkan Terjemahan Baru (TB) dari Lembaga Alkitab Indonesia:
Matius 9:14-17
(14) Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?"
(15) Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.
(16) Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena tambalan itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya.
(17) Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggurnya terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya."
Poin Menarik dari Ayat Ini:
* Simbol Mempelai: Yesus menyebut diri-Nya sebagai "Mempelai Laki-laki". Dalam tradisi Yahudi, pesta pernikahan adalah waktu di mana orang dilarang berpuasa karena itu adalah momen sukacita tertinggi.
* Perubahan Paradigma: Lewat ayat 16 dan 17, Yesus menjelaskan bahwa ajaran-Nya (kasih karunia) tidak bisa sekadar "ditempelkan" pada sistem hukum yang lama. Dibutuhkan hati dan cara pandang yang baru ("kantong baru") untuk menerima ajaran-Nya.
Apakah Anda ingin saya menjelaskan lebih lanjut mengenai maksud dari perumpamaan "kain yang belum susut" atau "kantong kulit yang tua" tersebut?
Selain Matius 9:14-17, Alkitab mencatat banyak ayat lain mengenai puasa, baik di Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Berikut adalah beberapa ayat kunci yang menjelaskan makna, cara, dan tujuan puasa:
1. Cara Berpuasa yang Benar (Ajaran Yesus)
Matius 6:16-18
> "(16) Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah wajahnya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah menerima upahnya. (17) Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, (18) supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."
>
* Pesan: Puasa adalah hubungan pribadi antara manusia dengan Tuhan, bukan untuk pamer kesalehan.
2. Puasa yang Dikehendaki Tuhan (Keadilan Sosial)
Yesaya 58:6-7
> "(6) Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, (7) supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!"
>
* Pesan: Tuhan tidak berkenan pada ritual puasa jika hati seseorang masih dipenuhi ketidakadilan. Puasa sejati harus disertai dengan kemurahan hati dan menolong sesama.
3. Puasa sebagai Bentuk Penyesalan/Pertobatan
Yoel 2:12-13
> "(12) 'Tetapi sekarang juga,' demikianlah firman TUHAN, 'berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan meratap.' (13) Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia..."
>
* Pesan: Puasa adalah tanda lahiriah dari pertobatan batin yang sungguh-sungguh.
4. Puasa untuk Persiapan Rohani & Otoritas
Matius 17:21 (Beberapa terjemahan menyertakan ayat ini)
> "Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa."
>
* Pesan: Ada peperangan rohani atau pergumulan tertentu yang membutuhkan disiplin doa dan puasa yang lebih dalam.
5. Puasa untuk Mencari Kehendak Tuhan (Gereja Mula-mula)
Kisah Para Rasul 13:2-3
> "(2) Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: 'Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.' (3) Maka setelah mereka berpuasa dan berdoa, dan meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan kedua orang itu pergi."
>
* Pesan: Gereja mula-mula menggunakan puasa sebagai cara untuk mendengar tuntunan Roh Kudus sebelum mengambil keputusan besar atau mengutus misionaris.
Ringkasan Singkat:
* Perjanjian Lama: Puasa sering dikaitkan dengan perkabungan, pertobatan nasional, dan kerendahan hati di hadapan Tuhan.
* Perjanjian Baru: Puasa lebih ditekankan sebagai disiplin rohani untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan mempersiapkan diri untuk pelayanan atau tugas khusus.
Apakah ada tokoh tertentu (seperti puasa Musa, Ester, atau Daniel) yang ingin Anda ketahui lebih detail ayatnya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar