Ini sebuah statement ambigu oleh karena kasih yang benar hanya lahir dari pengajaran yang benar. Iman berasal dari pendengaran Firman Tuhan (Roma 10:17). Iman yang benar pun dari pendengaran yang Firman Tuhan yang benar. Pengajaran yang benar. Bila kuat dalam nalar dan logika, maka kasih akan mengikutinya karena pengajarannya benar. Ada missing link antara nalar dan rasa dan tindakan kalau begini. Tapi dapat pula dibilang ada konsep yang bermasalah dalam hal kasih berbasis emosi ataukah pengajaran yang benar.
Bayangkan Yesus baru saja turun dari puncak gunung setelah semalam suntuk berdoa. Ia tidak menunggu di atas agar orang datang, melainkan Ia menghampiri mereka di sebuah tanah datar. Di sana, ribuan orang dengan luka, penyakit, dan keputusasaan sudah menunggu. Suasana riuh berubah menjadi hening saat Ia mulai menatap mata murid-murid-Nya.
Suara-Nya memecah kesunyian dengan sebuah kejutan. Ia tidak memuji yang kuat, melainkan berkata: "Berbahagialah kamu yang miskin dan lapar, karena kamulah pemilik Kerajaan Allah." Namun, nada-Nya berubah serius saat Ia memperingatkan mereka yang merasa nyaman: "Celakalah kamu yang kaya dan kenyang, karena kamu sudah menerima upahmu." Sebuah revolusi nilai baru saja dimulai di tanah itu.
Ia lalu menantang nurani mereka. Jangan hanya mencintai yang baik padamu, tapi kasihilah musuhmu. Jangan menghakimi jika matamu sendiri masih tertutup debu kemunafikan. Yesus menegaskan bahwa agama bukan soal tampilan luar, melainkan soal hati yang meluap ke dalam tindakan nyata.
Di akhir khotbah-Nya, Ia memberikan pilihan: Menjadi pendengar yang hancur saat badai datang, atau menjadi pelaku firman yang kokoh di atas batu karang. Yesus berhenti bicara, membiarkan angin padang rumput membawa pesan-Nya: Bahwa Kerajaan Allah telah turun ke bumi melalui tangan yang melayani dan hati yang mencintai tanpa batas.
Dan Yesus tak bosan-bosan khotbah di berbagai tempat. Bukit. Tanah datar. Bukit Zaitun. Bait Allah. Tepi danau. Bahkan tepi neraka. Semua khotbah-Nya benar nalar dan fakta empiris.
Yang kita tahu kita harus menerima Firman Yang Benar. Itu masalah pertama. Berikutnya akan mengikuti. Bisa praktik benar. Tidak benar. Setengah benar.
Langkah mendengar Firman Yang benar... Itu pun sebuah kebenaran yang harus dilakukan.
Meski kita tahu, semua hanya anugerah Yesus sendiri.
Mendengar Logos memang berbeda dengan mendengar Rhema. Missing link antara mendengar Firman dengan tindakanlah penyebab Logos tidak mengubah hidup.
Tetapi bagi saya itulah bedanya manusia beriman atau tidak. Dan 60 tahun sampai menjadi manula bisa jadi seseorang baru tampak bahwa ia sebetulnya tanah yang tandus.
Entah kalau Rhema menghendaki suatu konsep kasih yang tidak mudah dihakimi hanya berdasar penampakan luar dengan pisau analisis berupa kapak menghancurkan karena penilaiannya juga oleh manusia yang dirasuki serigala berbulu domba.
Stigma terhadap pribadi dan kelompok, telah umum menjadi stempel dari pihak berseberangan. Padahal dalam shema seseorang mendengarkan Firman Tuhan bukan sekedar sebagai pendengaran tetapi juga sikap, sifat dan tindakan.
Namun semua ada awalnya yaitu pencerapan inderawi terhadap fenomena Firman itu. Dalam bahasa saya, baru mendengar. Belum mendengarkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar