Berikut adalah narasi pendek yang menggambarkan momen sakral saat para murid bertemu dengan Yesus yang telah bangkit, berdasarkan catatan Matius 28:16-20:
Cahaya di Atas Bukit Galilee
Pagi itu, udara di perbukitan Galilea terasa berbeda. Sebelas murid berjalan mendaki dengan perasaan yang bercampur aduk—antara harapan yang meluap dan sisa-sisa kesedihan yang belum sepenuhnya hilang. Mereka pergi ke bukit yang telah ditentukan Yesus sebelum Ia wafat.
Saat mereka tiba di puncak, sosok itu ada di sana. Berdiri tegak di balik cahaya pagi yang keemasan. Itu adalah Dia. Bukan lagi sosok yang penuh luka di kayu salib, melainkan Sang Raja yang menang atas maut.
Begitu melihat Yesus, seolah ada kekuatan magnetis yang menarik lutut mereka ke tanah. Mereka tersungkur dan menyembah-Nya. Di tengah keheningan bukit itu, pengabdian mereka tumpah sepenuhnya. Meski di sudut hati beberapa dari mereka masih ada keraguan yang membayang—sebuah ketidakpercayaan manusiawi atas keajaiban yang begitu besar—sembah sujud mereka tetap menjadi bukti pengakuan bahwa Ia adalah Tuhan.
Yesus kemudian mendekat, memecah kesunyian dengan suara yang penuh otoritas namun menenangkan:
> "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku..."
>
Sujud syukur itu berubah menjadi misi. Mereka yang menyembah di atas bukit itu kini berdiri kembali, bukan lagi sebagai pengikut yang ketakutan, melainkan sebagai saksi yang diutus untuk mengubah dunia, disertai janji setia: "Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
Apakah Anda ingin saya membuatkan renungan singkat atau poin-poin teologis berdasarkan narasi penyembahan di Matius 28 ini?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar