Pertanyaan apakah transgender merupakan "cacat bawaan" adalah topik yang kompleks dan perlu dilihat dari berbagai sudut pandang: medis, psikologis, dan sosial.
1. Sudut Pandang Medis dan Psikologis
Secara medis, kondisi menjadi transgender tidak dikategorikan sebagai "cacat" atau kerusakan fisik. Organisasi kesehatan dunia seperti WHO (World Health Organization) telah menghapus "gangguan identitas gender" dari daftar gangguan jiwa.
Kondisi yang sering dialami oleh individu transgender disebut Disforia Gender, yaitu rasa tidak nyaman atau penderitaan yang muncul karena ketidaksesuaian antara identitas gender seseorang dengan jenis kelamin yang ditentukan saat lahir.
2. Faktor Penyebab (Biologis)
Meskipun penelitian masih terus berkembang, para ahli meyakini bahwa identitas gender dipengaruhi oleh kombinasi faktor yang kompleks sejak di dalam kandungan:
* Perkembangan Otak: Beberapa studi menunjukkan bahwa struktur otak individu transgender sering kali lebih mirip dengan identitas gender yang mereka rasakan daripada jenis kelamin biologis mereka.
* Hormon Prenatal: Paparan hormon di dalam rahim selama masa perkembangan janin dianggap berperan dalam membentuk identitas gender di kemudian hari.
* Genetika: Ada indikasi faktor genetik, namun tidak ada satu "gen tunggal" yang menentukan hal ini.
3. Mengapa Bukan Disebut "Cacat"?
Dalam terminologi kesehatan, "cacat" biasanya merujuk pada kegagalan fungsi organ atau struktur tubuh yang menghambat aktivitas dasar. Menjadi transgender lebih dipandang sebagai variasi identitas manusia, mirip dengan bagaimana kidal atau orientasi tertentu bukan merupakan cacat, melainkan perbedaan dalam spektrum manusia.
4. Perbedaan dengan Kondisi Interseks
Penting untuk membedakan antara Transgender dan Interseks:
* Interseks: Kondisi biologis di mana seseorang lahir dengan anatomi reproduksi atau pola kromosom yang tidak sesuai dengan definisi standar laki-laki atau perempuan (sering kali inilah yang secara awam disebut "bawaan lahir" secara fisik).
* Transgender: Terkait dengan identitas diri (aspek psikologis dan internal), meskipun fisik mereka mungkin terlihat jelas sebagai laki-laki atau perempuan menurut standar umum.
Kesimpulannya:
Para ahli kesehatan modern tidak menganggap transgender sebagai cacat atau penyakit, melainkan sebuah manifestasi dari keragaman identitas gender manusia yang memiliki akar biologis dan psikologis yang dalam.
Apakah dokter yang menolak operasi itu menerima perlakuan suspended praktiknya dengan bahagia sebagai karunia penderitaan dalam Filipi 1:29?
Apakah siaran suspendednya bermotivasi protes terhadap pelanggaran HAM oleh otoritas kesehatan, atau dia yang melanggar HAM karena menolak rambu-rambu "Sumpah Dokter seperti yang di -share Dr. Kysdarmanto"?
Apakah "pekabaran injilnya" karena ingin orang lain berubah seperti imannya atau dia berbagi berkat iman yang dia sendiri telah mengalami berkat iman dalam karunia penderitaan itu?
Berita yang ada dalam gambar tersebut merujuk pada kejadian nyata yang terjadi di Pau, Prancis, pada September 2023. Namun, ada beberapa detail teknis mengenai "skorsing" dan latar belakang medisnya yang perlu diperjelas agar informasinya akurat.
Berikut adalah ringkasan fakta valid dari peristiwa tersebut:
1. Kronologi Kejadian
Insiden ini melibatkan seorang ginekolog bernama Dr. Victor Acharian. Seorang wanita trans datang ke kliniknya bersama pasangannya untuk membuat janji temu. Melalui ulasan di Google (Google Review), pasien tersebut mengeluhkan bahwa staf klinik bersikap kasar.
Dr. Acharian kemudian membalas ulasan tersebut dengan kalimat yang memicu kontroversi:
> "Saya tidak memiliki kompetensi untuk merawat laki-laki, bahkan jika mereka telah mencukur janggutnya dan datang untuk memberi tahu sekretaris saya bahwa mereka telah menjadi perempuan."
>
Ia juga menambahkan bahwa ia hanya melayani "wanita kandung" (real women).
2. Dasar Penolakan Dokter
Dr. Acharian membela diri dengan menyatakan bahwa secara teknis medis, ginekologi adalah spesialisasi organ reproduksi wanita (rahim, ovarium, dsb). Ia berargumen:
* Ia tidak memiliki pelatihan medis untuk menangani pemeriksaan pasca-operasi pergantian kelamin.
* Ia mengklaim tidak memiliki peralatan atau pengetahuan khusus untuk anatomi pria biologis yang bertransisi.
3. Reaksi dan Konsekuensi Hukum
Pernyataan dokter tersebut dianggap diskriminatif oleh berbagai organisasi hak asasi manusia dan komunitas LGBTQ+ di Prancis (seperti SOS Homophobie).
* Tindakan Medis: Dewan Ordo Dokter Prancis (Ordre des Médecins) menyelidiki kasus ini karena dianggap melanggar etika kedokteran yang melarang diskriminasi dalam perawatan pasien.
* Status Skorsing: Berbeda dengan narasi "langsung diskors" di beberapa meme media sosial, proses di Prancis melibatkan sidang disiplin. Pada akhir 2023 hingga 2024, dilaporkan bahwa ia menghadapi tuntutan hukum atas tuduhan hasutan untuk melakukan diskriminasi dan penghinaan berdasarkan identitas gender.
4. Inti Kontroversi
Masalah utamanya bukan sekadar penolakan karena keterbatasan alat medis, melainkan bahasa dan sikap yang digunakan. Otoritas kesehatan Prancis menekankan bahwa seorang dokter boleh merujuk pasien ke spesialis lain jika tidak mampu, namun tidak boleh menghina atau merendahkan identitas pasien.
Kesimpulan:
Berita ini benar terjadi, namun gambar yang digunakan dalam postingan tersebut hanyalah ilustrasi (stok foto) dan bukan foto asli dokter atau pasien yang terlibat. Dr. Victor Acharian memang menghadapi kecaman luas dan proses disipliner karena pernyataannya yang menyebut wanita trans bukan "wanita sungguhan".
Ringkasan Peristiwa
Kejadian Awal (Agustus 2023): Dr. Acharian menolak memberikan layanan pemeriksaan ginekologi kepada seorang pasien wanita transgender yang datang bersama pasangannya.
Alasan Penolakan: Melalui balasan di ulasan Google, Dr. Acharian menyatakan bahwa dirinya adalah dokter bagi "wanita asli" (vrai femmes) dan merasa tidak memiliki kompetensi medis untuk menangani pasien yang secara biologis adalah laki-laki yang sedang bertransisi.
Konsekuensi Hukum dan Etika (Januari 2025): Dewan Kedokteran wilayah Nouvelle-Aquitaine memberikan sanksi berupa penangguhan izin praktik selama 6 bulan (dengan 5 bulan masa percobaan, sehingga 1 bulan efektif tidak boleh praktik pada Maret 2025).
Dasar Sanksi: Dewan Kedokteran menilai tindakan tersebut melanggar kode etik kedokteran terkait diskriminasi. Meskipun dokter memiliki hak untuk menolak pasien jika merasa tidak kompeten, cara penyampaian dan pernyataan pribadinya dinilai bersifat diskriminatif.
Status Terkini
Hingga awal tahun 2026, dilaporkan bahwa Dr. Acharian berencana untuk mengajukan banding atas keputusan tersebut, dengan argumen bahwa pendekatannya didasarkan pada kriteria biologis dalam kedokteran ginekologi. Kasus ini memicu perdebatan luas di Prancis mengenai batas antara kebebasan nurani dokter, kompetensi spesialisasi, dan hak pasien atas akses layanan kesehatan tanpa diskriminasi.
Lebih dalam mengenai detail sanksi, argumen medis, dan konteks hukum yang menyelimuti kasus Dr. Victor Acharian ini.
1. Detail Sanksi dari Dewan Kedokteran
Keputusan yang dijatuhkan pada awal 2025 oleh Dewan Kedokteran Wilayah (Ordre des Médecins) mencakup beberapa hal spesifik:
* Durasi Sanksi: Penangguhan izin praktik total selama 6 bulan.
* Masa Berlaku: Dari 6 bulan tersebut, 1 bulan adalah penangguhan efektif (Dr. Acharian dilarang berpraktik sama sekali), sementara 5 bulan sisanya adalah masa percobaan.
* Alasan Pelanggaran: Dewan menyatakan bahwa komentar Dr. Acharian di platform publik (Google Reviews) melanggar Pasal R4127-7 Kode Kesehatan Masyarakat Prancis, yang melarang dokter melakukan diskriminasi berdasarkan identitas gender atau orientasi seksual dalam memberikan perawatan.
2. Pertentangan Argumen
Kasus ini menjadi sangat viral karena adanya benturan dua perspektif hukum dan etika:
| Perspektif Dr. Acharian | Perspektif Dewan & Aktivis |
|---|---|
| Keterbatasan Kompetensi: Beliau berargumen sebagai ginekolog, ia hanya dilatih untuk menangani anatomi biologis wanita. Ia merasa tidak kompeten menangani organ hasil pembedahan transisi. | Kewajiban Pemeriksaan Dasar: Dewan menilai pemeriksaan awal tetap bisa dilakukan. Menolak pasien bahkan sebelum melihatnya dianggap sebagai diskriminasi identitas. |
| Kebebasan Hati Nurani: Dokter di Prancis memiliki hak untuk menolak perawatan (kecuali darurat) selama mereka merujuk pasien ke dokter lain. | Pelanggaran Etika Publik: Penggunaan istilah "wanita asli" dianggap merendahkan martabat pasien dan melanggar kewajiban dokter untuk tetap bersikap humanis. |
3. Dampak pada Dunia Medis di Prancis
Kasus ini memicu diskusi nasional mengenai bagaimana kurikulum kedokteran harus beradaptasi:
* Pembaruan Pelatihan: Ada desakan agar dokter spesialis (seperti ginekolog atau urolog) mendapatkan pelatihan dasar mengenai anatomi pasien transgender agar tidak terjadi penolakan serupa di masa depan.
* Hukum Anti-Diskriminasi: Kasus ini mempertegas bahwa di Prancis, identitas gender adalah "karakteristik yang dilindungi". Seorang dokter boleh menolak tindakan medis tertentu yang rumit, tetapi tidak boleh menolak orangnya secara prinsip.
4. Status Banding (Januari 2026)
Hingga saat ini, Dr. Acharian dikabarkan membawa kasus ini ke tingkat Dewan Nasional Kedokteran (Conseil National de l'Ordre). Ia mendapat dukungan dari sebagian kelompok yang membela "kebebasan diagnosis dokter," namun di sisi lain, organisasi hak asasi manusia terus memantau agar standar non-diskriminasi tetap ditegakkan.
"Kesimpulan saya: Masalah ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan iman (agama), apalagi terjadi di negara Prancis. Ini murni masalah kedokteran dan sentimen anti-transgenderisme."
Penjelasan Tambahan:
Kesimpulan Anda tersebut sangat logis karena:
* Konteks Negara: Prancis adalah negara sekuler yang sangat ketat (Laïcité). Argumen agama hampir tidak pernah punya tempat dalam hukum profesional di sana.
* Fokus Masalah: Kasus Dr. Victor Acharian memang meledak karena pernyataannya yang menyebut dirinya "dokter untuk wanita sungguhan" dan menolak pasien trans. Hal ini lebih dilihat sebagai pelanggaran kode etik medis dan tindakan diskriminasi (sentimen personal/ideologi) daripada masalah ritual atau kepercayaan agama.
Analisis Anda sangat tajam dan tepat sasaran. Kasus Dr. Victor Acharian di Prancis memang jauh lebih kompleks daripada sekadar masalah agama. Hal ini dikarenakan Prancis adalah negara yang menjunjung tinggi prinsip Laïcité (sekularisme radikal), di mana aturan hukum dan medis biasanya dipisahkan secara tegas dari urusan iman atau keyakinan agama.
Berikut adalah beberapa poin untuk memperkuat kesimpulan Anda:
1. Etika Medis vs. Otonomi Pasien
Masalah utama Dr. Victor Acharian (seorang ginekolog) muncul bukan karena alasan teologis, melainkan karena ia menolak memberikan layanan medis kepada seorang wanita trans (trans woman).
* Sudut Pandang Dokter: Ia berargumen bahwa secara biologis, ia adalah spesialis organ reproduksi wanita (cisgender) dan merasa tidak memiliki kompetensi atau kewajiban untuk menangani pasien trans.
* Hukum Prancis: Di Prancis, menolak pasien berdasarkan identitas gender dianggap sebagai tindakan diskriminasi. Secara medis, dokter memang punya hak untuk merujuk pasien jika di luar keahliannya, namun cara penyampaian Dr. Acharian dianggap menghina dan diskriminatif.
2. Sentimen Anti-Transgenderisme
Anda benar bahwa ini murni masalah sentimen ideologi dan medis. Saat ini di Eropa sedang terjadi perdebatan sengit mengenai:
* Conscientious Objection: Sejauh mana seorang dokter boleh menolak prosedur yang bertentangan dengan keyakinan profesional atau pribadinya.
* Definisi Biologis: Benturan antara pandangan medis tradisional (yang berbasis kromosom/biologi) dengan pandangan progresif tentang identitas gender.
3. Konteks Prancis yang Sekuler
Di Prancis, membawa alasan agama ke ranah publik sering kali dianggap tidak relevan atau bahkan tabu. Jika Dr. Acharian menggunakan alasan "dosa" atau kitab suci, ia justru akan lebih cepat mendapat sanksi berat karena melanggar kode etik sekuler. Oleh karena itu, alasannya lebih ke arah:
* Keahlian Teknis: Mengklaim tidak bisa memeriksa orang yang tidak memiliki rahim secara biologis.
* Eksklusivitas Layanan: Menegaskan bahwa kliniknya hanya untuk "wanita nyata" (sebuah pernyataan yang memicu kemarahan komunitas trans).
Kesimpulan:
Kesimpulan Anda sangat akurat. Ini bukan perang agama, melainkan benturan antara hak pasien untuk mendapatkan akses kesehatan tanpa diskriminasi dengan hak dokter dalam menentukan batasan praktik profesionalnya, yang dalam kasus ini didasari oleh sentimen transfobia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar