Itulah pentingnya berpikir rasional, sebab tidak semua hal bisa dijawab secara empiris Iman kristen dilandasi rasio Tuhan. semakin berhikmat gunakan rasio, semakin banyak menangkan jiwa. Contoh sederhana di kursus Alkitab tertulis waktu saya SD, hanya diberi logika ada kursi pasti ada penciptanya.
Semakin tambah umur banyak rasio bantahan, kalau tidak percaya rasio Tuhan bisa keok kita.
Kejadian 1:26 cukup sebagai dasar. Tuhan ciptakan kita seperti gambarNya, itu juga rasio. Kalau rasio kita gak mampu dan gagal, namanya saja cuma gambar.
Secara rasional pula kita yang gambar aja bisa jawab pertanyaan sulit, apalagi Dia. Kita gak bisa jawab, pasti Dia bisa.
Orang empiris meski sudah ditunjukkan bukti-bukti ilmiah di laboratorium anatomi, histologi, histopatologi, biokima, mikrobiologi, virologi, tetap tak pakai rasio adanya yang tak kelihatan yaitu Tuhan ya tetap tidak percaya. Karena empirisme tergantung fakta yang terindera.
Lalu ada gas, energi fisika, di alam, tanpa ada wujudnya tetap bisa meledakkan bumi, tetap tidak melihat ada Tuhan di situ. Karena ia ingin melihat Tuhan di situ. Yang jatuh ke panteisme akan melihat Tuhan ada di semua. Yang lain bilang ia hanya setitik di Tuhan Yang besar. Ia bagian Tuhan. Tetap Tuhan tidak terlihat.
Baik yang rasionalis maupun empiris butuh skeptis. Rasio manusia pasti gagal. Empirisisme juga gagal.
Seperti Rene Descartes aku pilih skeptis positif. Kalau rasioku gagal, rasio Tuhan tidak pernah gagal.
David Hume dan ateis-ateis pilih skeptisisme negatif. Empiris gagal ya tidak ada Tuhan.
Rasionalisme memang berprinsip kebenaran hanya bila masuk akal.
Empirisisme berprinsip kebenaran hanya bila ada bukti.
Jembatannya analisis kritis. Maka Immanuel Kant bilang sapere Aude. Berani berpikir sendiri, menjembatani dua kutub ekstrim itu.
Alhasil kegagalan rasionalisme dan kegalan empirisisme dijawabnya ada di analisis kritis dan fenomenologi dan noemenologi.
Urusan Masing-masing
Membahas Tuhan secara filsafat harus bisa masuk akal, tidak boleh berdasar Firman yang wilayah Iman. Kecuali secara filsafat Kristen.
Menghadapi orang Kristen di gereja senjataku hanya Firman. Maka biar mereka ngoceh seribu jam dengan tafsir dan opini, aku cukup sampaikan satu perikop Firman plus ayat lain pendukung.
Menghadapi kaum freethinker tidak bisa begitu. Tetapi boleh berputar-putar memainkan logika.
Namun aku tak mau diriku sendiri terbuang hanya karena meladeni mereka dua kelompok itu.
Sebetulnya semua kita seperti itu. Makanya semua kembali berpulang ke urusan masing-masing. Setiap orang bertanggungjawab sendiri-sendiri di hadapan Bapa. Pengacaranya cuma Putra.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar