Senin, 19 Januari 2026

Nuansa teologis mengenai transisi etika

Nuansa teologis mengenai transisi etika dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru. Sering kali, pembaca terjebak pada dikotomi antara "Tuhan yang kejam" di masa lalu dan "Tuhan yang kasih" di masa kini, padahal narasi Alkitab menunjukkan satu karakter Tuhan yang konsisten: Keadilan yang berjalan beriringan dengan Kesabaran.

Berikut adalah beberapa poin pendalaman mengenai konsep "Kedurjaan yang Genap" dan Wahyu Progresif tersebut:

1. Keadilan yang Terukur (Bukan Kebencian Rasial)

Ayat Kejadian 15:16 yang Anda kutip adalah kunci penting. Ini membuktikan bahwa penghukuman Tuhan atas bangsa Amori (dan bangsa Kanaan lainnya) bukanlah tindakan genosida yang semena-mena, melainkan eksekusi yudisial.

 * Masa Tunggu 400 Tahun: Tuhan memberikan waktu berabad-abad bagi bangsa tersebut untuk bertobat.

 * Standar Moral: Penghukuman baru terjadi ketika "kedurjaan" mereka sudah mencapai puncaknya (praktik pengorbanan anak, amoralitas seksual yang ekstrem, dan penindasan).

 * Tanpa Pilih Bulu: Ketika bangsa Israel melakukan dosa yang sama di kemudian hari, Tuhan menggunakan bangsa lain (Asyur dan Babel) untuk menghakimi mereka dengan cara yang sama kerasnya.

2. Wahyu Progresif (Progressive Revelation)

Istilah "progresif" yang Anda gunakan menjelaskan bagaimana Tuhan menyatakan diri-Nya secara bertahap. Alkitab ibarat sebuah buku teks yang bergerak dari tingkat dasar ke tingkat lanjut:

 * Masa Kanak-kanak (Hukum Taurat): Fokus pada batasan-batasan eksternal dan konsekuensi fisik yang nyata untuk mengajarkan kesucian Tuhan.

 * Masa Dewasa (Kristus): Dalam Yesus, kita melihat penggenapan hukum tersebut. Kasih Kristus tidak menghapus keadilan, tetapi menyerap hukuman keadilan itu ke dalam diri-Nya sendiri di atas kayu salib.

3. Kasih Kristus sebagai Puncak Etika

Dalam Perjanjian Baru, peperangan tidak lagi bersifat fisik (merebut tanah teritorial), melainkan bersifat spiritual.

 * Musuh: Bukan lagi orang dari bangsa lain, melainkan dosa dan kuasa kegelapan.

 * Senjata: Bukan pedang, melainkan kebenaran dan kasih (Efesus 6).

Kesimpulan

Kekerasan dalam Perjanjian Lama berfungsi sebagai pengingat serius akan gravitasi dosa. Tanpa memahami betapa mengerikannya penghakiman Tuhan atas dosa di Perjanjian Lama, kita tidak akan pernah benar-benar menghargai betapa besarnya anugerah dan pengorbanan Kristus di Perjanjian Baru.

?


Tidak ada komentar: