Dalam era informasi yang serba cepat ini, kemudahan akses sering kali membuat kita terjebak dalam lingkaran sumber sekunder. Mulai dari ulasan buku, ringkasan, hingga komentar atas suatu teks penting, informasi tersebut disajikan dengan cepat dan ringkas. Namun, kemudahan ini sering mengorbankan kedalaman dan keakuratan, terutama ketika menyangkut masalah substansial seperti iman dan pemahaman teologi.
Penting untuk disadari, bahwa terlalu seringnya kita mengandalkan sumber sekunder dapat menghasilkan kesimpulan yang dangkal dan bahkan menyesatkan.
Kasus Charles Templeton: Antara Klaim dan Realitas Pribadi
Ambil contoh figur seperti Charles Templeton, seorang tokoh yang pandangan spiritualnya sering dibicarakan, terutama terkait perubahan dramatis dari penginjil populer menjadi seorang agnostik. Rata-rata tulisan dan khotbah yang membahasnya—terutama mengenai perubahan pandangannya—hanya mengambil dari sumber sekunder. Akibatnya, penilaian yang muncul bisa jadi bias dan tidak berimbang, seperti yang disimpulkan, "Mohon maaf, tidak sepadan."
Kita tidak akan pernah benar-benar memahami perjalanan spiritualnya jika kita tidak membaca buku-buku Templeton sendiri. Apakah ia benar-benar menjadi ateis, ataukah sekadar agnostik? Dan yang lebih penting, bagaimana secara pribadi arti Yesus baginya, terutama setelah ia mengambil jarak dari imannya? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar ini tidak dapat ditemukan dalam ringkasan atau komentar. Hanya dengan kembali ke sumber primer—tulisan tangan Templeton sendiri—kita bisa memperoleh pemahaman yang jujur, kontekstual, dan adil.
> Poin Kunci: Mengandalkan sumber sekunder dalam menilai pandangan spiritual atau teologis seseorang sering kali menghasilkan kesimpulan yang terdistorsi dan tidak akurat.
>
Kasus Teologi: Kembali kepada Prinsip Sola Scriptura
Fenomena yang sama, dan bahkan lebih krusial, terjadi dalam pembahasan Alkitab di lingkungan gerejawi. Seringkali, fokus diskusi bergeser dari Alkitab itu sendiri ke komentar, tafsir, atau buku pelajaran yang disusun pihak lain.
Contohnya, dalam sebuah diskusi, pemimpin hanya mengandalkan komentar penyusun pelajaran tanpa pernah membacakan satu pun ayat Alkitab. Ini menunjukkan bahaya berfokus pada tafsiran tanpa dasar teks aslinya.
Prinsip teologis mendasar dari Reformasi, Sola Scriptura—Hanya Alkitab/Hanya Firman—menekankan bahwa Alkitab adalah satu-satunya standar yang tidak salah dan mengikat untuk iman dan praktik. Dalam konteks ini:
* Sumber Primer adalah Alkitab: Firman Tuhan adalah Alkitab itu sendiri, bukan komentar atau penjelasan.
* Komentar adalah Tafsir: Penjelasan penyusun buku pelajaran, khotbah, atau tafsiran adalah tafsir, bukan Firman Tuhan.
* Semua Harus Diuji: Setiap tafsir, komentar, dan khotbah wajib diuji dan dipertanggungjawabkan berdasarkan otoritas Firman Tuhan sendiri dalam Alkitab.
Kecenderungan untuk "ngoceh ngalor ngidul" berdasarkan komentar, alih-alih pada teks Alkitab, sering membuat pembahasannya lepas konteks. Meskipun khotbah dan diskusi semacam itu mungkin sering dipuja karena "meredakan beban hidup," kita harus waspada. Kepuasan emosional atau motivasi personal tidak boleh menggeser otoritas teks Alkitab. Setiap pembahasan Alkitab seharusnya dimulai dari membaca ayat Alkitab, setidaknya satu perikop, agar tidak lepas konteks.
Dari Sola Scriptura menjadi Prima Scriptura?
Ketika muncul persepsi bahwa "Firman Tuhan yang hidup ya tidak mesti melulu baca Alkitab, asal bahasannya dapat dipertanggungjawabkan sumber inspirasinya sesuai Alkitab," kita sedang bergerak menjauh dari Sola Scriptura.
Persepsi ini lebih cenderung mengarah pada Prima Scriptura (Alkitab yang Utama), di mana Alkitab memang memiliki posisi otoritatif tinggi, tetapi sumber tradisi, ajaran gereja, atau pengalaman pribadi juga diizinkan berfungsi sebagai otoritas yang mengikat dalam pemahaman dan praktik, asalkan konsisten dengan Alkitab.
Sola Scriptura menempatkan Alkitab sebagai otoritas tunggal dan tertinggi, sedangkan Prima Scriptura menempatkannya sebagai otoritas utama di antara otoritas-otoritas lain.
Kesimpulan dan Tantangan
Untuk memastikan pemahaman yang benar dan adil, baik dalam menilai tokoh spiritual (seperti Templeton) maupun dalam mempelajari teologi:
* Kembali ke Teks: Mulailah pembahasan Alkitab dengan membaca ayat Alkitab, setidaknya satu perikop, untuk memahami konteksnya.
* Verifikasi Sumber: Jangan mudah puas dengan ringkasan atau komentar. Tantanglah diri sendiri untuk mencari dan membaca sumber primer (seperti buku-buku yang ditulis Charles Templeton atau Alkitab itu sendiri).
* Jaga Prinsip: Pertahankan prinsip bahwa tafsiran harus tunduk pada otoritas teks, bukan sebaliknya.
Kita perlu bersabar dan menunggu mereka yang sungguh-sungguh membaca sumber primer. Hanya dengan cara itulah kita bisa benar-benar tahu dan membedakan antara kebenaran teks asli dengan tafsiran dan komentar orang lain. Inilah panggilan untuk kedalaman, bukan sekadar kecepatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar