Kematian Evangelis dunia Billy Graham pada tahun 2018 seolah menandai berakhirnya sebuah era. Graham, yang dikenal dengan kebaktian massal berskala stadion dan nasihatnya kepada banyak Presiden Amerika Serikat, sering kali menempatkan fokus utama penginjilannya pada tema kedatangan kedua Yesus Kristus—yang sering disebut Maranata—sebagai seruan mendesak untuk pertobatan.
Namun, pengamatan terhadap lanskap penginjilan global saat ini menunjukkan adanya pergeseran fokus yang signifikan. Pertanyaan mendasar muncul: Mengapa sejak Billy Graham meninggal, arah penginjilan global tampaknya berubah, tidak lagi tertuju pada kedatangan kedua Tuhan Yesus, melainkan lebih menekankan pada ketaatan dan kekudusan hidup?
🧠Pergeseran Tema Inti: Kekudusan dan Ketaatan
Di berbagai mimbar penginjilan, termasuk dari para Pendeta terkemuka di media massa, terlihat tren yang menguat untuk fokus pada ketaatan dan kekudusan hidup orang percaya saat ini. Pembahasan tentang Maranata—kesiapan menghadapi kedatangan Kristus yang kedua—seolah-olah menjadi topik yang jarang diangkat.
Sebagaimana dicermati, tema sentral penginjilan kini berputar pada:
* Terima Yesus sebagai fokus awal.
* Bertumbuh dan hidup taat.
* Mencapai kekudusan yang sempurna seperti Yesus.
Tujuan rohani tampaknya bergeser menjadi: "Yang penting di bumi seperti di surga," menempatkan praktik etis dan spiritual harian sebagai prioritas, sementara urusan kedatangan Kristus dianggap sebagai urusan mutlak Tuhan.
> Secara Alkitabiah, penekanan pada hidup kudus dan taat adalah hal yang benar dan penting, bagian dari ajaran untuk menggunakan "perlengkapan senjata Allah" (Efesus 6:11-18). Namun, perhatian terhadap "kesediaan" yang juga diserukan Alkitab terkait Maranata, kini terancam terlupakan.
>
🕰️ Tantangan Zaman yang Berbeda: Konteks Pasca-Perang vs. Dunia Modern
Perbedaan ini tidak terlepas dari konteks zaman yang berbeda:
1. Era Billy Graham: Pasca-Perang dan Ketidakpastian
Billy Graham muncul pada zaman pasca-Perang Dunia, diikuti oleh Perang Dingin dan berbagai konflik lokal. Era tersebut dipenuhi dengan bayang-bayang kematian massal, ketidakamanan, dan potensi kehancuran global. Dalam konteks ini, seruan Maranata—persiapan mendesak untuk menghadapi Tuhan yang bisa datang kapan saja—sangatlah relevan.
> Dampaknya: Tema Maranata secara historis terbukti menjadi motor penggerak pertobatan massal pada era tersebut, memberikan penghiburan dan harapan bagi banyak orang yang menghadapi ketidakpastian hidup.
>
2. Era Kontemporer: Stabilitas, Budaya, dan Institusi
Konteks saat ini cenderung lebih stabil di banyak wilayah dan menghadapi tantangan yang berbeda: sekularisme, relativisme moral, krisis keadilan sosial, dan integrasi iman dengan budaya/politik.
Ambil contoh dengan lahirnya gerakan-gerakan teologis baru—seperti Manifesto Reformed Injili (1996) yang digagas oleh R.C. Sproul, James Montgomery Boice, dan lainnya—yang bertujuan memperkuat peran Gereja dalam masyarakat, menekankan keutuhan Injil dalam setiap aspek kehidupan, dan melawan relativisme. Gerakan-gerakan ini secara alami cenderung lebih fokus pada relevansi Injil sekarang dan pembangunan institusi yang taat di tengah dunia.
🎯 Konsekuensi dan Rumusan Permasalahan
Pergeseran ini membawa konsekuensi yang perlu dianalisis:
* Potensi Melupakan Maranata: Fokus yang berlebihan pada kekudusan di dunia dapat membuat orang Kristen lupa akan dimensi eskatologis (akhir zaman) dari iman mereka.
* Motivasi Pertobatan yang Berbeda: Jika Billy Graham menggunakan urgensi kedatangan Kristus sebagai pemicu pertobatan, maka pengkhotbah masa kini menggunakan urgensi ketaatan dan pembentukan karakter Kristus di dunia sebagai seruan utamanya.
Maka, rumusan permasalahannya adalah: Mampukah fokus penginjilan pada kekudusan dan ketaatan saat ini menghasilkan gelombang pertobatan yang sebanding dengan era Billy Graham yang berfokus pada Maranata, mengingat tantangan dan latar belakang historis-budaya yang berbeda?
Tampaknya, perubahan fokus penginjilan bukan sekadar masalah preferensi, melainkan respons terhadap tantangan zaman yang berbeda. Era Billy Graham memerlukan kepastian di tengah ancaman kematian; era kini memerlukan ketaatan etis dan integritas institusional di tengah kekacauan moral dan budaya. Tugas penginjilan modern adalah menemukan cara untuk mengintegrasikan tuntutan kekudusan di masa kini tanpa mematikan kesiapsiagaan rohani akan kedatangan Kristus yang dijanjikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar