Apakah gereja perjanjian baru harus punya majelis bila orangnya sedikit
Pertanyaan yang sangat bagus dan relevan bagi banyak komunitas kecil. Jawabannya bisa dilihat dari dua sisi: prinsip Alkitabiah dan kebutuhan praktis.
Secara singkat: Tidak ada jumlah minimum anggota yang ditetapkan Alkitab untuk membentuk kemajelisan, namun kepemimpinan tetap harus ada agar gereja berjalan dengan sehat.
Berikut adalah beberapa poin pertimbangan untuk gereja dengan jumlah orang yang sedikit:
1. Pola Alkitabiah di Perjanjian Baru
Di Perjanjian Baru, kita melihat bahwa rasul-rasul biasanya menetapkan penatua (majelis) di setiap jemaat (Kisah Para Rasul 14:23). Namun, pada fase awal atau dalam "gereja rumah" yang sangat kecil, kepemimpinan seringkali bersifat organik.
* Fungsi di atas Jabatan: Yang terpenting bukan "sebutan" majelisnya, melainkan adanya fungsi pengawasan (oversight) dan penggembalaan.
* Kualifikasi: Alkitab (1 Timotius 3 dan Titus 1) lebih menekankan pada kualitas karakter calon pemimpin daripada jumlah pemimpin. Jika belum ada yang memenuhi kualifikasi, lebih baik tidak memaksakan adanya majelis daripada mengangkat orang yang belum siap.
2. Pertimbangan untuk Jemaat Kecil
Jika jumlah anggota hanya 5-10 orang, membentuk struktur majelis yang lengkap (Ketua, Sekretaris, Bendahara, Penatua, Diaken) mungkin terasa berlebihan.
| Aspek | Strategi Jemaat Kecil |
|---|---|
| Struktur | Gunakan struktur yang flat/datar. Fokus pada kebersamaan. |
| Kepemimpinan | Cukup tunjuk 1-2 orang yang paling dewasa secara rohani untuk menjadi pendamping pemimpin/pendeta. |
| Akuntabilitas | Meskipun sedikit, tetap harus ada transparansi (terutama soal keuangan) agar tidak terjadi fitnah. |
3. Risiko Tanpa Majelis/Pemimpin
Meskipun orangnya sedikit, gereja sebaiknya tidak berjalan sendirian tanpa pengawasan karena:
* Kerentanan Doktrin: Tanpa pemimpin yang berjaga, pengajaran sesat lebih mudah masuk.
* Beban Terpusat: Jika hanya ada satu orang yang mengerjakan semuanya (misal: hanya Pendeta), ia akan cepat mengalami burnout.
* Resolusi Konflik: Majelis berfungsi sebagai penengah jika terjadi perselisihan antar anggota.
Kesimpulan
Jika gereja Anda masih sangat kecil, Anda tidak wajib memiliki "Majelis" dalam bentuk organisasi formal yang kaku. Namun, Anda membutuhkan kepemimpinan yang kolektif.
Bahkan jika hanya ada satu atau dua orang yang mendampingi pemimpin utama, itu sudah merupakan bentuk "majelis" dalam arti esensial—yaitu sekelompok orang yang bertanggung jawab atas pertumbuhan rohani jemaat.
> Saran Praktis: Fokuslah pada pertumbuhan kedewasaan jemaat terlebih dahulu. Seiring bertambahnya usia rohani mereka, struktur organisasi akan terbentuk dengan sendirinya secara alami.
>
Anggota hanya 20 apa perlu majelis?
Pertanyaan yang sangat bagus dan relevan bagi banyak komunitas kecil. Jawabannya bisa dilihat dari dua sisi: prinsip Alkitabiah dan kebutuhan praktis.
Secara singkat: Tidak ada jumlah minimum anggota yang ditetapkan Alkitab untuk membentuk kemajelisan, namun kepemimpinan tetap harus ada agar gereja berjalan dengan sehat.
Berikut adalah beberapa poin pertimbangan untuk gereja dengan jumlah orang yang sedikit:
1. Pola Alkitabiah di Perjanjian Baru
Di Perjanjian Baru, kita melihat bahwa rasul-rasul biasanya menetapkan penatua (majelis) di setiap jemaat (Kisah Para Rasul 14:23). Namun, pada fase awal atau dalam "gereja rumah" yang sangat kecil, kepemimpinan seringkali bersifat organik.
* Fungsi di atas Jabatan: Yang terpenting bukan "sebutan" majelisnya, melainkan adanya fungsi pengawasan (oversight) dan penggembalaan.
* Kualifikasi: Alkitab (1 Timotius 3 dan Titus 1) lebih menekankan pada kualitas karakter calon pemimpin daripada jumlah pemimpin. Jika belum ada yang memenuhi kualifikasi, lebih baik tidak memaksakan adanya majelis daripada mengangkat orang yang belum siap.
2. Pertimbangan untuk Jemaat Kecil
Jika jumlah anggota hanya 5-10 orang, membentuk struktur majelis yang lengkap (Ketua, Sekretaris, Bendahara, Penatua, Diaken) mungkin terasa berlebihan.
| Aspek | Strategi Jemaat Kecil |
|---|---|
| Struktur | Gunakan struktur yang flat/datar. Fokus pada kebersamaan. |
| Kepemimpinan | Cukup tunjuk 1-2 orang yang paling dewasa secara rohani untuk menjadi pendamping pemimpin/pendeta. |
| Akuntabilitas | Meskipun sedikit, tetap harus ada transparansi (terutama soal keuangan) agar tidak terjadi fitnah. |
3. Risiko Tanpa Majelis/Pemimpin
Meskipun orangnya sedikit, gereja sebaiknya tidak berjalan sendirian tanpa pengawasan karena:
* Kerentanan Doktrin: Tanpa pemimpin yang berjaga, pengajaran sesat lebih mudah masuk.
* Beban Terpusat: Jika hanya ada satu orang yang mengerjakan semuanya (misal: hanya Pendeta), ia akan cepat mengalami burnout.
* Resolusi Konflik: Majelis berfungsi sebagai penengah jika terjadi perselisihan antar anggota.
Kesimpulan
Jika gereja Anda masih sangat kecil, Anda tidak wajib memiliki "Majelis" dalam bentuk organisasi formal yang kaku. Namun, Anda membutuhkan kepemimpinan yang kolektif.
Bahkan jika hanya ada satu atau dua orang yang mendampingi pemimpin utama, itu sudah merupakan bentuk "majelis" dalam arti esensial—yaitu sekelompok orang yang bertanggung jawab atas pertumbuhan rohani jemaat.
> Saran Praktis: Fokuslah pada pertumbuhan kedewasaan jemaat terlebih dahulu. Seiring bertambahnya usia rohani mereka, struktur organisasi akan terbentuk dengan sendirinya secara alami.
Untuk jemaat dengan jumlah 20 orang, jawabannya adalah: Secara administratif mungkin belum wajib, tetapi secara fungsi kepemimpinan sangat perlu.
Dalam tradisi gereja (seperti GBI, GPdI, atau gereja-gereja reformasi), jemaat dengan 20 orang biasanya dikategorikan sebagai "Pos Pelayanan" atau "Jemaat Perintisan". Meskipun belum memerlukan struktur organisasi yang kompleks, Anda tetap membutuhkan pendamping bagi pemimpin utama.
Berikut adalah pertimbangan mengapa dan bagaimana bentuk "majelis" untuk 20 orang:
1. Mengapa Perlu (Fungsi Kepemimpinan)
Walaupun orangnya sedikit, tetap ada tugas-tugas berat yang tidak boleh dipikul sendirian oleh satu orang (misalnya hanya oleh Pendeta/Gembala):
* Akuntabilitas Keuangan: Untuk 20 orang pun, persembahan tetap ada. Harus ada orang lain (semacam Diaken) yang mencatat dan mengelola agar transparan dan menghindari fitnah.
* Pendampingan Rohani: Jika ada anggota yang sakit atau bermasalah, pemimpin butuh rekan untuk berbagi beban doa dan kunjungan.
* Keamanan Doktrin: Memiliki 1-2 orang yang dewasa rohani membantu memastikan pengajaran tetap lurus dan ada tempat untuk berdiskusi.
2. Struktur yang Disarankan (Minimalis)
Jangan memaksakan struktur besar (seperti 10 orang majelis untuk 20 anggota). Gunakan pola Kepemimpinan Kolektif Minimalis:
| Posisi | Peran Utama |
|---|---|
| Gembala/Pemimpin | Fokus pada Firman, visi, dan pengajaran. |
| 1 Penatua (Elders) | Mendampingi Gembala dalam urusan rohani dan keputusan penting. |
| 1 Diaken (Deacons) | Fokus pada administrasi, keuangan, dan kebutuhan praktis (sarana prasarana). |
3. Kapan Sebaiknya Membentuk Majelis Formal?
Beberapa sinode memiliki aturan tertentu, misalnya:
* GPdI: Biasanya memerlukan minimal 25 orang dewasa untuk status "Jemaat Lokal" yang lengkap.
* GBI: Minimal 12 orang dewasa yang sudah baptis untuk menjadi Jemaat Lokal dan memiliki pengurus.
* Prinsip Alkitab: Titus 1:5 menyebutkan "menetapkan penatua-penatua di setiap kota." Ini menunjukkan bahwa setelah jemaat terbentuk (berapapun jumlahnya), langkah selanjutnya adalah menetapkan pemimpin yang dewasa rohani.
Saran saya:
Jika di antara 20 orang tersebut sudah ada yang memiliki karakter yang matang (sesuai 1 Timotius 3), mulailah tunjuk 1 atau 2 orang sebagai "rekan pelayan" atau "pengurus inti". Tidak perlu jabatan yang mentereng, yang penting ada pembagian tugas dan saling mengawasi.
Orang tidak pernah ke gereja apa pantas jadi majelis? Secara tegas, jawabannya adalah tidak pantas dan sangat tidak disarankan.
Dalam perspektif Alkitab maupun manajemen organisasi gereja, kehadiran dan keterlibatan aktif adalah syarat mutlak bagi seorang pemimpin (majelis/penatua/diaken). Menjadikan orang yang tidak pernah ke gereja sebagai majelis justru akan menimbulkan masalah besar bagi jemaat yang berjumlah 20 orang tersebut.
Berikut adalah alasan mengapa hal ini tidak boleh dilakukan berdasarkan prinsip Perjanjian Baru:
1. Majelis Adalah "Teladan" (1 Petrus 5:3)
Tugas utama majelis bukan hanya mengatur rapat, tapi menjadi teladan bagi jemaat.
* Jika seorang majelis tidak hadir dalam persekutuan, pesan apa yang disampaikan kepada 20 anggota lainnya?
* Bagaimana ia bisa menasehati orang lain untuk setia beribadah jika ia sendiri tidak melakukannya?
2. Syarat "Tidak Bercacat" (1 Timotius 3:2)
Alkitab menetapkan standar yang sangat tinggi untuk majelis. Salah satu kualifikasinya adalah memiliki nama baik dan kehidupan rohani yang terlihat oleh orang lain.
* Kehadiran adalah indikator paling dasar dari komitmen rohani seseorang terhadap komunitasnya.
* Seseorang yang tidak hadir tidak bisa dievaluasi karakternya oleh jemaat.
3. Majelis Harus "Mengenal Domba"
Tugas majelis adalah menggembalakan dan mengawasi jemaat.
* Bagaimana mungkin seseorang bisa menggembalakan 20 orang anggota jika ia tidak pernah bertemu, tidak tahu pergumulan mereka, dan tidak hadir di tengah-tengah mereka?
* Kepemimpinan di gereja adalah kepemimpinan relasional, bukan sekadar jabatan di atas kertas.
4. Risiko Bagi Jemaat Kecil (20 Orang)
Dalam jemaat kecil, pengaruh satu orang sangat terasa. Jika salah satu dari sedikit pemimpin tersebut tidak pernah muncul:
* Kecemburuan Sosial: Anggota lain yang rajin akan merasa tidak adil jika orang yang tidak aktif justru diberi jabatan.
* Kehilangan Wibawa: Keputusan yang diambil oleh majelis tersebut tidak akan dihormati oleh jemaat karena ia dianggap tidak punya kontribusi nyata.
Apa yang Harus Dilakukan?
Jika Anda kekurangan orang untuk menjadi majelis, lebih baik menunda pembentukan majelis daripada mengangkat orang yang tidak layak. Berikut langkahnya:
* Gunakan Sistem "Pelayan Sementara": Jika ada tugas praktis (seperti keuangan), berikan tugas itu sebagai "asisten" atau "pelayan", bukan sebagai "Majelis" yang memiliki wewenang rohani.
* Berikan Tantangan (Challenge): Jika orang tersebut memiliki potensi tetapi jarang datang, katakan dengan jujur: "Kami membutuhkan pemimpin, tapi syarat utama pemimpin adalah kesetiaan dalam ibadah. Mari mulai aktif kembali selama 6-12 bulan, baru kita bicarakan soal tanggung jawab lebih besar."
* Fokus pada yang "Setia dalam Perkara Kecil": Pilihlah orang dari antara 20 anggota yang paling setia datang, meskipun mungkin mereka tidak memiliki pendidikan tinggi atau kekayaan. Kesetiaan jauh lebih berharga daripada status sosial.
> Ingat: Jabatan majelis bukan "hadiah" untuk menarik orang agar rajin ke gereja. Justru, jabatan diberikan karena orang tersebut sudah terbukti setia dan dewasa secara rohani.
>
Tidak ada komentar:
Posting Komentar