Film "Badarawuhi di Desa Penari" yang disutradarai oleh Kimo Stamboel ini, sebagai prekuel dari film terlaris KKN di Desa Penari, menuai beragam kritik dari penonton dan kritikus.
Berikut adalah rangkuman kritik utama yang sering dilontarkan terhadap film tersebut:
1. Masalah pada Skenario dan Plot
- Premis yang Terasa Repetitif: Banyak penonton merasa alur cerita film ini (karakter baru datang ke Desa Penari dan terjebak teror Badarawuhi) terlalu mirip dengan film pertamanya (KKN di Desa Penari), sehingga terasa seperti soft reboot alih-alih prekuel yang mendalam.
- Minim Eksplorasi Asal-Usul: Meskipun diklaim sebagai prekuel, film ini dikritik karena kurang berhasil merinci secara memuaskan asal-usul, sejarah, atau konteks Badarawuhi dan Desa Penari. Ekspektasi penonton untuk mendapatkan penjelasan mendalam tidak terpenuhi.
- Karakter Pendukung yang Hambar: Beberapa karakter pendamping (terutama karakter pria) dianggap kurang penting atau tidak memberi esensi signifikan pada cerita, bahkan terasa mengganggu karena lelucon yang kurang pas, sehingga jalan cerita tetap bisa berjalan tanpa kehadiran mereka.
- Alur Lambat dan Bertele-tele: Alur cerita dianggap melambat di beberapa bagian, terutama menjelang akhir, yang membuat resolusi konflik terasa berputar-putar dan antiklimaks.
2. Kritik Terhadap Penceritaan (Prekuel vs. Reboot)
- Lebih Mirip Reboot: Sejumlah kritikus berpendapat bahwa film ini lebih cocok disebut reboot (pengulangan dengan pemeran berbeda) daripada prekuel sejati, karena alur intinya tidak memberikan informasi baru yang esensial untuk semesta KKN di Desa Penari dan bisa berdiri sendiri.
- Formula Horor yang Sama: Film ini dinilai masih menggunakan formula horor yang sama dengan film pendahulunya, termasuk pengulangan adegan horor tertentu, sehingga tidak ada momen horor yang benar-benar baru atau tak terlupakan (memorable).
3. Aspek Teknis (Kelemahan di Tengah Kelebihan)
- Pace dan Dialog: Beberapa dialog terasa kurang alami (artificial), dan tempo penceritaan dinilai terlalu lambat di awal, memperpanjang durasi tanpa esensi.
- Penggunaan Jump Scare: Film ini dianggap minim jump scare yang efektif atau momen horor yang benar-benar mencekam, meski berhasil membangun atmosfer mistis yang kental.
Di Sisi Lain, Ada Poin-Poin Positif yang Dipuji:
Meskipun mendapat kritik, film ini juga menerima pujian, terutama dari segi teknis dan visual:
- Sinematografi dan Estetika: Pengambilan gambar dan kualitas visual secara umum dinilai lebih baik dan lebih sinematik dibandingkan KKN di Desa Penari.
- Kualitas Produksi: Desain produksi, tata rias, dan kostum (terutama Badarawuhi) dipuji karena sangat detail dan sesuai dengan era yang digambarkan (1980-an).
- Koreografi Tari: Adegan-adegan tari tradisional ditampilkan dengan sangat rapi, anggun, mistis, dan sakral, memberi kekuatan estetis pada film.
- Aulia Sarah (Badarawuhi): Penampilan Aulia Sarah sebagai Badarawuhi dianggap lebih matang, elegan, dan menawan secara visual dibandingkan film pertama.
Secara keseluruhan, kritik utama tertuju pada penulisan naskah yang dianggap tidak memenuhi ekspektasi sebagai prekuel yang mengungkap latar belakang entitas Badarawuhi dan terlalu mengandalkan formula cerita yang sudah ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar