Wah, ini topik sejarah yang sangat menarik dan cukup spesifik ya! Sepertinya Anda sedang menelusuri akar perbedaan Alkitab Katolik dan Protestan.
Ada sedikit koreksi halus soal linimasa dan konteksnya agar kita punya gambaran yang lebih jernih. Berikut adalah poin-poin pentingnya:
1. Konsili Trente (1545–1563)
Memang benar bahwa pada Tahun 1546, dalam sidang keempat Konsili Trente, Gereja Katolik Roma secara resmi (dogmatis) menetapkan daftar kitab-kitab Deuterokanonika sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Alkitab.
Namun, penting untuk dicatat bahwa Katolik sebenarnya sudah menggunakan kitab-kitab ini selama berabad-abad sebelumnya (sejak Konsili Hippo tahun 393 dan Kartago tahun 397). Konsili Trente dilakukan sebagai respons resmi untuk "mengunci" daftar tersebut karena adanya gerakan Reformasi Protestan.
2. Martin Luther dan Alkitab Jerman
Mengenai Martin Luther, waktunya sedikit lebih awal dari yang Anda sebutkan:
* 1534: Luther menerbitkan Alkitab lengkap dalam bahasa Jerman. Di dalamnya, ia menempatkan kitab-kitab Deuterokanonika dalam bagian terpisah yang ia sebut "Apokrifa".
* Pandangan Luther: Ia tidak serta-merta "membuang" semuanya ke tempat sampah, tetapi ia memberi catatan bahwa kitab-kitab tersebut "berguna dan baik untuk dibaca," namun tidak setara dengan Kitab Suci (tidak bisa dipakai sebagai dasar doktrin).
3. Isu "Berbicara dengan Orang Mati"
Poin yang disebutkan Pak Yonathan sangat relevan dengan alasan teologis di balik perbedaan ini. Salah satu kitab Deuterokanonika yang paling diperdebatkan adalah 2 Makabe.
* Dalam 2 Makabe 12:43-45, terdapat catatan tentang doa dan persembahan korban untuk orang-orang yang sudah mati agar mereka dibebaskan dari dosa.
* Reaksi Reformasi: Luther dan para tokoh Reformasi lainnya menolak ini karena dianggap bertentangan dengan doktrin Sola Fide (keselamatan hanya melalui iman) dan Sola Scriptura. Mereka merasa bahwa tidak ada komunikasi atau perantara antara yang hidup dan yang mati selain melalui Kristus.
Perbandingan Singkat
| Aspek | Katolik Roma (Post-Trente) | Protestan (Tradisi Luther/Calvin) |
|---|---|---|
| Status Deuterokanonika | Kanonik (Setara dengan PL lainnya) | Apokrifa (Bermanfaat tapi bukan otoritas) |
| Dasar Kanon PL | Septuaginta (Yunani) | Kanon Ibrani (Masoretik) |
| Doa untuk Orang Mati | Diterima (Dasar doktrin Purgatorium) | Ditolak (Hanya melalui anugerah Kristus) |
Jadi, secara teknis, Luther sudah mulai mempertanyakan otoritas kitab-kitab ini sejak debat Leipzig tahun 1519, jauh sebelum Konsili Trente mengeluarkan keputusan resminya.
Apakah Anda ingin saya menggali lebih dalam mengenai alasan mengapa Luther lebih memilih menggunakan standar "Kanon Ibrani" daripada Septuaginta yang digunakan gereja awal?
Istilah Deuterokanonika berasal dari bahasa Yunani, yaitu deuteros (kedua) dan kanon (aturan/tolok ukur). Secara harfiah, ini merujuk pada "kanon kedua."
Dalam tradisi Gereja Katolik dan Ortodoks, kitab-kitab ini dianggap sebagai bagian integral dari Alkitab Perjanjian Lama, meskipun sejarahnya penuh dengan diskusi panjang dibandingkan dengan kitab-kitab "Protokanonika" (kanon pertama).
Berikut adalah ringkasan sejarahnya:
1. Akar Sejarah: Septuaginta (LXX)
Pada abad ke-3 hingga ke-2 SM, komunitas Yahudi di Alexandria, Mesir, menerjemahkan Kitab Suci Ibrani ke dalam bahasa Yunani. Terjemahan ini dikenal sebagai Septuaginta.
* Septuaginta memuat lebih banyak kitab daripada naskah Ibrani (Tanakh) yang ada di Palestina saat itu.
* Kitab-kitab tambahan inilah yang nantinya disebut sebagai Deuterokanonika, seperti: Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, Bin Sirakh, Barukh, serta 1 & 2 Makabe.
2. Penggunaan oleh Gereja Perdana
Gereja Kristen perdana tumbuh dalam budaya bahasa Yunani. Para penulis Perjanjian Baru dan Bapa Gereja sering mengutip atau merujuk pada Septuaginta. Karena itu, kitab-kitab ini dianggap suci dan digunakan secara luas dalam ibadat serta pengajaran Kristen awal.
3. Munculnya Perbedaan (Abad ke-4 & Seterusnya)
Seiring berjalannya waktu, muncul diskusi mengenai status kitab-kitab ini:
* St. Hieronimus (Abad ke-4): Saat menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Latin (Vulgata), ia menyadari bahwa kitab-kitab tertentu tidak ada dalam naskah Ibrani asli. Ia menyebutnya sebagai "Apokrifa" (tersembunyi), namun tetap memasukkannya ke dalam Vulgata karena tradisi Gereja yang kuat.
* Konsili-Konsili Awal: Konsili Hippo (393 M) dan Konsili Kartago (397 M) secara resmi mendaftarkan kitab-kitab ini sebagai bagian dari kanon Alkitab.
4. Perpecahan di Masa Reformasi Protestan
Pada abad ke-16, Martin Luther dan tokoh Reformasi lainnya mempertanyakan otoritas kitab-kitab ini.
* Alasan: Mereka ingin kembali ke kanon Ibrani (naskah Masoret) yang tidak memuat kitab-kitab tersebut.
* Hasil: Dalam Alkitab Protestan, kitab-kitab ini dipisahkan atau dihilangkan sepenuhnya dari daftar kitab suci.
5. Jawaban Gereja Katolik: Konsili Trente (1546)
Menanggapi tantangan Reformasi, Gereja Katolik mengadakan Konsili Trente. Konsili ini secara dogmatis menegaskan bahwa kitab-kitab Deuterokanonika memiliki otoritas yang sama dengan kitab-kitab lainnya dalam Alkitab. Sejak saat itu, posisi Katolik tetap tidak berubah.
Ringkasan Perbedaan Kanon
| Tradisi | Status Kitab | Jumlah Kitab Perjanjian Lama |
|---|---|---|
| Katolik | Deuterokanonika (Sederajat) | 46 Kitab |
| Ortodoks | Mengakui bahkan lebih banyak kitab | 49+ Kitab |
| Protestan | Apokrifa (Bermanfaat tapi tidak setara) | 39 Kitab |
Apakah Anda ingin saya menjabarkan lebih detail mengenai isi dari masing-masing kitab Deuterokanonika tersebut?
Berikut adalah lini masa (garis waktu) perkembangan kitab-kitab Deuterokanonika, mulai dari penyusunannya hingga penetapan resminya dalam kanon Alkitab:
1. Masa Sebelum Masehi (Pra-Kristen)
* ± 250 – 100 SM: Penulisan dan penerjemahan Septuaginta (LXX) di Aleksandria, Mesir. Komunitas Yahudi yang menggunakan bahasa Yunani memasukkan kitab-kitab seperti Tobit, Yudit, Makabe, dll., ke dalam koleksi kitab suci mereka.
* ± 100 SM: Kitab-kitab ini digunakan secara luas oleh orang-orang Yahudi di diaspora (luar Palestina) sebagai literatur rohani yang otoritatif.
2. Masa Gereja Perdana (Abad ke-1 – ke-4 M)
* Abad ke-1: Yesus dan para Rasul menggunakan Septuaginta. Banyak kutipan di Perjanjian Baru merujuk pada teks Yunani ini.
* Abad ke-2 – ke-3: Para Bapa Gereja (seperti Irenaeus, Tertullian, dan Clement dari Aleksandria) mengutip kitab-kitab Deuterokanonika sebagai Kitab Suci dalam tulisan-tulisan mereka.
* ± 382 M: Konsili Roma di bawah Paus Damasus I menetapkan daftar kitab yang mencakup Deuterokanonika.
* ± 390 – 405 M: St. Hieronimus menerjemahkan Alkitab ke bahasa Latin (Vulgata). Ia memberikan catatan bahwa kitab-kitab ini tidak ada dalam naskah Ibrani, namun ia tetap memasukkannya atas permintaan Gereja.
3. Pengesahan Administratif Awal (Abad ke-4 – ke-5 M)
* 393 M: Konsili Hippo mengonfirmasi daftar kitab suci (kanon) yang mencakup 7 kitab Deuterokanonika.
* 397 M & 419 M: Konsili Kartago menegaskan kembali keputusan Konsili Hippo bahwa kitab-kitab tersebut adalah bagian dari Perjanjian Lama.
4. Masa Pertengahan hingga Reformasi (Abad ke-15 – ke-16 M)
* 1442 M: Konsili Florence (Uni dengan Gereja-gereja Timur) menegaskan kembali daftar kanon yang sama.
* 1520-an – 1534 M: Martin Luther mulai menerjemahkan Alkitab ke bahasa Jerman. Ia memisahkan kitab-kitab ini ke bagian khusus yang disebut "Apokrifa," menganggapnya bermanfaat untuk dibaca tetapi tidak setara dengan Kitab Suci lainnya.
* 1546 M: Konsili Trente (Gereja Katolik) secara resmi dan dogmatis menetapkan bahwa kitab-kitab Deuterokanonika adalah bagian tak terpisahkan dari Alkitab (sebagai respons terhadap gerakan Reformasi).
5. Masa Modern
* 1566 M: Istilah "Deuterokanonika" (Kanon Kedua) pertama kali diciptakan oleh teolog Katolik Sixtus dari Siena untuk membedakannya dari "Protokanonika" (kitab yang tidak pernah diperdebatkan).
* 1826 M: Lembaga Alkitab di Inggris dan Amerika mulai mencetak Alkitab Protestan tanpa bagian Apokrifa sama sekali untuk menghemat biaya cetak, yang menjadi standar Alkitab Protestan hingga saat ini.
Ringkasan Lini Masa Utama:
* LXX (250 SM): Munculnya kitab-kitab tersebut.
* Kartago (397 M): Penetapan resmi pertama oleh otoritas Gereja.
* Reformasi (1534 M): Pemisahan oleh pihak Protestan.
* Trente (1546 M): Penegasan final dan dogmatis oleh Gereja Katolik.
Sejarah Deuterokanonika adalah kisah tentang bagaimana kumpulan kitab tertentu dalam Alkitab Kristen memiliki status yang berbeda antara tradisi Katolik/Ortodoks dan Protestan. Istilah "Deuterokanonika" sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti "kanon kedua".
Berikut adalah garis besar sejarahnya agar Anda mendapatkan gambaran yang utuh:
1. Akar Sejarah: Septuaginta (LXX)
Pada abad ke-3 hingga ke-2 SM, komunitas Yahudi di Alexandria, Mesir, menerjemahkan Kitab Suci Ibrani ke dalam bahasa Yunani. Terjemahan ini dikenal sebagai Septuaginta.
Dalam Septuaginta, terdapat beberapa kitab yang tidak ada dalam naskah Ibrani (Tanakh) yang disusun kemudian oleh para Rabi di Palestina. Kitab-kitab inilah yang nantinya disebut Deuterokanonika, seperti:
* Tobit, Yudit, 1 & 2 Makabe.
* Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, Barukh.
* Tambahan pada Kitab Ester dan Daniel.
2. Gereja Perdana dan Penggunaan Kitab
Gereja Kristen perdana menggunakan Septuaginta sebagai Alkitab utama mereka karena bahasa Yunani adalah lingua franca saat itu. Para Rasul dan penulis Perjanjian Baru sering mengutip atau merujuk pada pemikiran yang ada dalam kitab-kitab ini.
Namun, sejak awal memang ada diskusi mengenai status kitab-kitab ini:
* Athanasius dan Yerome: Cenderung lebih menyukai kanon Ibrani yang lebih pendek, meskipun mereka tetap menghormati kitab-kitab ini untuk dibaca sebagai bahan instruksi moral.
* Agustinus dan Konsili-Konsili Lokal (Hippo 393, Kartago 397): Menegaskan bahwa kitab-kitab ini adalah bagian dari kanon Kitab Suci yang terinspirasi.
3. Perpecahan pada Masa Reformasi
Titik balik terbesar terjadi pada abad ke-16:
* Martin Luther (1534): Dalam terjemahan Alkitabnya, Luther memisahkan kitab-kitab ini ke bagian khusus yang disebut "Apokrifa". Ia menganggapnya berguna untuk dibaca, tetapi tidak setara dengan Kitab Suci karena tidak ditemukan dalam teks Ibrani Masoret.
* Konsili Trente (1546): Sebagai tanggapan terhadap Reformasi, Gereja Katolik secara dogmatis menegaskan kembali bahwa kitab-kitab ini adalah Deuterokanonika—artinya sah, terinspirasi, dan setara dengan kitab lainnya dalam kanon.
Perbedaan Istilah Saat Ini
Penting untuk dicatat bahwa perbedaan penyebutan mencerminkan sudut pandang teologis:
| Istilah | Digunakan Oleh | Makna |
|---|---|---|
| Deuterokanonika | Katolik & Ortodoks | Kanon kedua yang tetap dianggap firman Allah yang sah. |
| Apokrifa | Protestan | Kitab-kitab yang "tersembunyi" atau non-kanonik, meski memiliki nilai sejarah/moral. |
Mengapa Disebut "Kedua"?
Sebutan "kedua" bukan berarti kitab-kitab ini kurang penting atau menyusul. Istilah ini diperkenalkan oleh Sixtus dari Siena pada tahun 1566 untuk membedakan kitab-kitab yang sempat diperdebatkan (Deuterokanon) dengan kitab-kitab yang sejak awal diterima tanpa perdebatan oleh semua pihak (Protokanon).
Penyebutan kitab-kitab tersebut sebagai "Apokrifa" (bukan Deuterokanonika) berasal dari kalangan Protestan, dengan akar sejarah utama pada masa Reformasi.
Berikut adalah rincian tokoh-tokoh kunci yang mempopulerkan istilah atau pandangan tersebut:
1. St. Hieronimus (Jerome) – Abad ke-4
Meskipun ia adalah seorang Bapa Gereja Katolik, Hieronimus adalah orang pertama yang secara teknis membedakan antara kitab-kitab dalam naskah Ibrani dengan kitab-kitab tambahan yang ada dalam Septuaginta (Yunani).
* Saat menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Latin (Vulgata), ia memberikan catatan bahwa kitab-kitab yang tidak ada dalam naskah Ibrani disebut sebagai "Apokrifa".
* Namun, ia tetap memasukkannya ke dalam Alkitab Vulgata karena menghormati tradisi Gereja saat itu.
2. Martin Luther – Abad ke-16
Tokoh Reformasi inilah yang secara tegas memisahkan kitab-kitab ini dari kanon utama. Dalam Alkitab bahasa Jerman yang ia terjemahkan (selesai tahun 1534), ia meletakkan kitab-kitab ini di bagian terpisah di antara Perjanjian Lama dan Baru.
* Luther memberi judul bagian tersebut: "Apokrifa: Kitab-kitab yang tidak dianggap setara dengan Kitab Suci, tetapi berguna dan baik untuk dibaca."
* Luther mendasarkan keputusannya pada kanon Yahudi Palestina (Teks Masoret) yang tidak memuat kitab-kitab tersebut.
3. Tradisi Gereja Protestan Umumnya
Setelah Martin Luther, tradisi Protestan (seperti Calvinis dan Anglikan) terus menggunakan istilah Apokrifa untuk merujuk pada kitab-kitab ini.
* Dalam pandangan Protestan, karena kitab-kitab ini tidak dianggap "terinspirasi" secara ilahi setingkat dengan 39 kitab Perjanjian Lama lainnya, maka mereka tidak boleh digunakan untuk membangun doktrin atau iman.
Sebagai Perbandingan:
Istilah Deuterokanonika justru baru diciptakan pada tahun 1566 oleh Sixtus dari Siena (seorang teolog Katolik) pasca Konsili Trente. Tujuannya adalah untuk menegaskan bahwa kitab-kitab tersebut adalah "kanon kedua" yang tetap sah dan setara, sebagai jawaban atas label "Apokrifa" yang diberikan oleh kaum Reformator.
Kesimpulannya:
Pihak yang mengatakan atau melabeli kitab-kitab tersebut sebagai Apokrifa adalah Martin Luther dan tradisi gereja-gereja Protestan, mengikuti keraguan awal yang sempat dilontarkan oleh St. Hieronimus.
Sebelum istilah Deuterokanonika diciptakan dan digunakan secara resmi, tidak ada satu istilah tunggal yang seragam untuk menyebut kitab-kitab tersebut. Namun, para teolog dan Bapa Gereja menggunakan beberapa sebutan berbeda tergantung pada sudut pandang mereka:
1. "Apokrifa" (Versi St. Hieronimus)
Pada abad ke-4, St. Hieronimus (Jerome) menggunakan istilah "Apokrifa" (dari bahasa Yunani apokryphos yang berarti "tersembunyi") untuk merujuk pada kitab-kitab yang ada dalam Septuaginta tetapi tidak ditemukan dalam naskah Ibrani.
* Perlu dicatat: Pada masa itu, istilah "Apokrifa" bagi Hieronimus bukan berarti "sesat" atau "palsu", melainkan hanya berarti "tidak ada dalam kanon Ibrani". Ia tetap menganggap kitab-kitab ini bermanfaat untuk dibaca jemaat.
2. "Ecclesiastici" (Kitab-Kitab Gerejawi)
Sebutan yang sangat umum digunakan oleh Gereja Latin sebelum masa Reformasi adalah "Libri Ecclesiastici" atau Kitab-Kitab Gerejawi.
* Istilah ini digunakan untuk membedakan antara kitab-kitab Kanonik (yang digunakan untuk dasar doktrin/iman) dan kitab-kitab Gerejawi (yang dibaca di Gereja untuk pembinaan moral dan katekese, tetapi otoritasnya masih didiskusikan oleh sebagian cendekiawan).
* Contohnya, St. Cyprianus dari Kartago sering menyebut kitab-kitab ini sebagai kitab yang layak dibaca di dalam gereja.
3. Bagian dari "Septuaginta"
Bagi banyak orang Kristen perdana, kitab-kitab ini tidak memiliki nama khusus karena mereka hanya dianggap sebagai bagian integral dari Septuaginta (LXX). Bagi mereka, Alkitab ya berarti Septuaginta, dan semua kitab di dalamnya (termasuk Tobit, Yudit, Makabe, dll.) diterima begitu saja sebagai Kitab Suci tanpa pembedaan kategori "pertama" atau "kedua".
4. "Anagignoskomena" (Dalam Tradisi Timur/Yunani)
Dalam tradisi Gereja Ortodoks Timur, istilah yang sering digunakan adalah "Anagignoskomena", yang berarti "kitab-kitab yang layak dibaca". Istilah ini masih digunakan hingga sekarang dalam beberapa tradisi Ortodoks untuk merujuk pada kitab-kitab yang berada di luar kanon Ibrani namun tetap dianggap suci.
Ringkasan Transisi Istilah:
* Abad 1-4: Dianggap bagian dari Septuaginta (Kitab Suci Yunani).
* Abad 4-15: Disebut Apokrifa (oleh Hieronimus) atau Ecclesiastici (Kitab Gerejawi).
* Abad 16 (Reformasi): Kaum Protestan menetapkan istilah Apokrifa secara permanen untuk kitab-kitab yang dikeluarkan dari kanon.
* Tahun 1566: Sixtus dari Siena memperkenalkan istilah Deuterokanonika untuk menegaskan bahwa kitab-kitab tersebut adalah "kanon kedua" (yang baru disahkan secara dogmatis di Konsili Trente) namun setara dengan "kanon pertama" (Protokanonika).
Secara tegas jawabannya adalah: YA, kitab-kitab yang sekarang disebut Deuterokanonika dipakai secara luas, dikutip sebagai Kitab Suci, dan otoritasnya ditegaskan oleh para Bapa Gereja setelah abad ke-3.
Berikut adalah fakta-fakta sejarah yang mempertegas hal tersebut:
* Penggunaan dalam Tulisan Bapa Gereja:
Setelah abad ke-3, tokoh-tokoh besar seperti St. Agustinus dari Hippo, St. Ambrosius, dan St. Sirilus dari Yerusalem secara rutin mengutip kitab-kitab seperti Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, dan Makabe dalam khotbah serta tulisan teologis mereka, memperlakukannya sama seperti kitab-kitab nabi lainnya.
* Keputusan Konsili-Konsili Resmi:
Pada akhir abad ke-4, Gereja mulai merasa perlu menetapkan daftar (kanon) Alkitab secara resmi untuk melawan ajaran sesat. Konsili-konsili yang dihadiri para Bapa Gereja secara tegas memasukkan kitab-kitab Deuterokanonika dalam daftar Kitab Suci:
* Konsili Hippo (393 M)
* Konsili Kartago (397 M)
* Konsili Kartago (419 M)
Ketiga konsili ini mendaftarkan 46 kitab Perjanjian Lama (termasuk tujuh kitab Deuterokanonika) sebagai kitab yang "kanonik dan diilhami Allah."
* Surat Festal St. Athanasius (367 M):
Meskipun St. Athanasius membedakan antara kitab yang "kanonik" dan kitab yang "dibaca untuk instruksi" (Anagignoskomena), ia tetap merekomendasikan penggunaan kitab-kitab seperti Yudit, Tobit, dan Sirakh sebagai bahan pengajaran resmi Gereja.
* Penerimaan dalam Vulgata (Abad ke-4/5):
Meskipun St. Hieronimus (Jerome) sempat meragukan statusnya karena tidak ada dalam teks Ibrani, ia akhirnya tunduk pada otoritas Gereja dan memasukkan kitab-kitab tersebut ke dalam Vulgata, Alkitab standar bahasa Latin yang digunakan selama lebih dari 1000 tahun.
Kesimpulan Tegas:
Meskipun sempat ada perdebatan akademis mengenai status "kanonik"-nya dibandingkan teks Ibrani, secara praktis dan liturgis, para Bapa Gereja setelah abad ke-3 tetap memakai, mengakui, dan mengesahkan kitab-kitab tersebut sebagai bagian dari tradisi iman Kristen.
Deuterokanonika merujuk pada tujuh kitab dan bagian tambahan Perjanjian Lama yang terdapat dalam Septuaginta (terjemahan Yunani), yang diterima Gereja Katolik melalui kanon Gereja awal dan Konsili Hippo (393)/Kartago (397), namun tidak terdapat dalam Alkitab Ibrani. Istilah ini berbeda dengan protokanonika (kanon pertama) dan sering disebut Apokrifa oleh Protestan.
Sejarah dan Poin Penting Deuterokanonika:
Septuaginta (Abad 3-1 SM): Kitab-kitab ini (Tobit, Yudit, 1-2 Makabe, Kebijaksanaan, Sirakh, Barukh, serta tambahan Ester dan Daniel) disertakan dalam Septuaginta, Alkitab Yunani yang umum digunakan umat Yahudi diaspora dan dikutip para rasul.
Kanon Gereja Awal: Gereja Katolik berpegang pada tradisi para rasul dan memasukkan kitab-kitab ini ke dalam kanon resmi, ditegaskan oleh Paus Damasus I (382) dan konsili-konsili awal, kemudian diterjemahkan ke Vulgata oleh St. Jerome.
Istilah "Deuterokanonika": Istilah ini pertama kali dicetuskan pada abad ke-16 (1566) oleh Sixtus of Siena untuk menunjukkan "kanon kedua" atau yang pernah diragukan di beberapa tempat sebelum akhirnya diterima.
Perbedaan Reformasi: Pada masa Reformasi, Protestan (diikuti LAI) lebih memilih kanon Ibrani (39 kitab) dan mengkategorikan kitab-kitab ini sebagai Apokrifa, sedangkan Katolik tetap mempertahankan Deuterokanonika sebagai bagian dari inspirasi Roh Kudus.
Alasan Katolik: Kitab-kitab ini digunakan oleh para Bapa Gereja, terdapat dalam Vulgata, dan memiliki kesatuan teologis dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Kitab Deuterokanonika merupakan bagian integral dari Alkitab Katolik, sementara dalam tradisi lain dianggap sebagai literatur berharga namun bukan kitab kanonik utama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar