Kamis, 01 Januari 2026

ALIRAN SAPTA DARMA

Aliran Sapta Darma adalah salah satu aliran kepercayaan di Indonesia yang cukup dikenal.

🧘 Inti dan Ajaran Utama Sapta Darma

Sapta Darma didirikan oleh Bapak Sri Gutomo pada tahun 1954 di Pare, Kediri, Jawa Timur. Secara harfiah, "Sapta Darma" berarti Tujuh Ajaran Kebajikan.

Ajaran ini bersifat monoteistik, percaya pada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi juga menempatkan Suwung (kekosongan abadi, sumber segala sesuatu) sebagai sumber keberadaan.

Tujuh Ajaran (Darma)

Anggota Sapta Darma wajib menjalankan tujuh ajaran pokok, yang menekankan kebajikan universal dan etika sosial:

 * Setia kepada Tuhan Yang Maha Esa: Iman yang kuat dan kepatuhan terhadap kehendak Tuhan.

 * Setia kepada Hukum: Menjalankan hukum negara dan hukum alam.

 * Setia kepada Orang Tua: Berbakti dan menghormati orang tua.

 * Setia kepada Guru: Menghormati dan mematuhi ajaran guru.

 * Setia kepada Sesama: Menyayangi sesama manusia dan makhluk hidup tanpa memandang perbedaan.

 * Setia kepada Bangsa dan Negara: Mencintai tanah air dan menjaga keutuhan bangsa.

 * Setia kepada Diri Sendiri: Menjaga kesucian jiwa dan raga.

Ritual Inti: Sujud

Ritual ibadah utama dalam Sapta Darma disebut Sujud. Sujud dilakukan sebagai bentuk penyatuan diri dengan Tuhan, dilakukan dengan posisi tertentu (mirip yoga/meditasi) dan ditujukan ke arah Timur.

 * Sujud bukan hanya gerakan fisik, tetapi merupakan latihan batin untuk mencapai ketenangan, keheningan, dan kesadaran spiritual.

 * Sujud dapat dilakukan kapan saja, namun umumnya dilakukan dua kali sehari, pagi dan sore.

🏛️ Status dan Pengakuan

 * Sapta Darma diakui oleh pemerintah Indonesia sebagai Aliran Kepercayaan yang sah, bukan sebagai agama resmi (seperti Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu).

 * Aliran ini memiliki organisasi bernama Perkumpulan Persatuan Warga Sapta Darma (PPWSD).

Sapta Darma (aliran kepercayaan) dan Semar (tokoh mitologi/pewayangan).

Berikut adalah penjelasan ringkas mengenai keterkaitan atau konteks umum kedua entitas tersebut dalam budaya Jawa dan spiritualitas Indonesia.

1. Sapta Darma (Aliran Kepercayaan)

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Sapta Darma adalah aliran kepercayaan yang berfokus pada Tujuh Ajaran Kebajikan dan ritual utama Sujud untuk menyatu dengan Tuhan Yang Maha Esa (Sang Maha Suwung).

 * Fokus: Monoteisme, etika universal, penyucian batin.

 * Praktik: Sujud (meditasi dan penyerahan diri) menghadap Timur.

 * Kedudukan: Diakui sebagai Aliran Kepercayaan.

2. Semar (Tokoh Mistik Jawa)

Semar (sering disebut Kyai Lurah Semar Badranaya) adalah tokoh yang sangat sentral dan memiliki makna filosofis yang mendalam dalam mitologi Jawa, terutama dalam pertunjukan Wayang Kulit (Mahabharata versi Jawa).

 * Kedudukan: Ia adalah tokoh Punokawan (abdi dalem/pengasuh) para ksatria Pandawa. Ia tidak pernah absen dalam setiap peperangan Pandawa.

 * Fisik: Digambarkan dengan wajah tua, badan bulat, rambut kuncung putih, tetapi ia selalu tersenyum. 

 * Filosofi Inti: Semar bukan sekadar badut atau abdi. Ia adalah representasi Dewa Ismaya (kakak dari Dewa Syiwa) yang menjelma menjadi rakyat jelata. Ini melambangkan:

   * Manunggaling Kawula Gusti: Penyatuan antara rakyat (hamba) dan pemimpin (Tuhan/penguasa).

   * Keseimbangan: Wajahnya sedih namun selalu tersenyum, melambangkan penerimaan terhadap penderitaan dan kebahagiaan.

   * Kebenaran dan Kearifan: Meskipun berpenampilan sederhana, Semar adalah penasihat paling bijaksana yang selalu membimbing para ksatria menuju Dharma (kebenaran).

🤝 Keterkaitan dan Persinggungan

Meskipun Sapta Darma dan Semar adalah entitas yang berbeda (satu adalah organisasi kepercayaan modern, yang lain adalah tokoh mitologi kuno), keduanya bersinggungan dalam konteks Kejawen dan spiritualitas Jawa:

 * Fokus pada Batin: Kedua konsep menekankan pentingnya kekuatan batin, keheningan, dan kesucian jiwa. Ajaran Sapta Darma sangat kental dengan spiritualitas Jawa (Kejawen), yang juga menjadi landasan filosofi Semar.

 * Harmoni dan Keseimbangan: Ajaran Sapta Darma tentang Dharma (kebajikan) sangat selaras dengan tugas Semar sebagai pembimbing ksatria menuju Dharma (kebenaran dan keadilan).

 * Kearifan Lokal: Baik Sapta Darma maupun sosok Semar adalah bagian dari upaya pemeliharaan kearifan lokal (Local Wisdom) Indonesia yang tidak dapat dipisahkan dari tradisi budaya Jawa.

Secara langsung, Sapta Darma tidak menyembah Semar, tetapi filosofi kearifan yang dibawa Semar sangat mungkin dihormati oleh penganut Sapta Darma karena relevan dengan ajaran etika universal dan kebajikan.

Mengenai gambar Semar pada ruang semadi (sujudan) aliran Sapta Darma adalah topik yang menarik dan memiliki kaitan filosofis yang kuat.

Berdasarkan ajaran dan praktik Sapta Darma, berikut adalah penjelasannya:

1. Keberadaan Simbol Semar

Ya, simbol atau gambar Semar umum ditemukan di ruang sujudan (tempat ibadah) Sapta Darma, biasanya diposisikan di dinding sebelah Timur. Arah Timur (Wetan, atau Kawitan yang berarti "asal mula") adalah arah yang dihadap oleh penganut Sapta Darma saat melakukan ritual Sujud.

2. Makna Filosofis Semar dalam Sapta Darma

Penting untuk dicatat bahwa dalam Sapta Darma, Semar tidak disembah dan bukan merupakan dewa atau objek sesembahan. Semar di sini adalah simbol filosofis atau gambaran batin yang sangat mendalam:

 * Roh Suci Manusia (Nur): Semar melambangkan roh suci (Nur Cahaya) yang berasal dari Allah Hyang Maha Kuasa (Tuhan Yang Maha Esa) dan ada di dalam diri setiap manusia. Gambar Semar adalah representasi dari budi luhur dan cahaya spiritual manusia.

 * Pembeda Semar Wayang vs. Semar Sapta Darma: Warga Sapta Darma menekankan bahwa simbol yang mereka gunakan bukan Semar wayang dalam arti Punokawan, melainkan simbol Semar yang lebih universal—gambaran roh suci manusia.

 * Petunjuk Monoteisme: Gambar Semar seringkali ditunjukkan dengan jari telunjuk tangan kanan yang menunjuk ke atas. Ini adalah petunjuk atau isyarat filosofis kepada manusia bahwa hanya ada satu Zat Yang Maha Kuasa yang wajib disembah, yaitu Allah Hyang Maha Kuasa.

 * Pengendali Nafsu: Tangan kiri Semar yang menggenggam (ngregem) melambangkan upaya manusia untuk mengendalikan nafsu dan unsur-unsur negatif dalam diri.

3. Interior Ruang Sujudan

Ruang sujudan Sapta Darma (yang kadang disebut Sanggar Candi) umumnya memiliki ciri-ciri:

 * Minimalis: Tidak ada sesaji, dupa, atau media klenik lainnya, karena hal tersebut dilarang dalam ajaran Sapta Darma.

 * Arah Timur: Ritual Sujud selalu menghadap ke arah Timur.

 * Simbol: Di dinding Timur seringkali terdapat simbol utama Sapta Darma: persegi dengan dominasi warna hijau yang di dalamnya terdapat gambar Semar dengan penekanan pada simbol-simbol filosofis di atas.

Jadi, Semar dalam konteks Sapta Darma adalah simbolisasi batin dan kearifan Jawa yang membantu memandu penganutnya menuju pemahaman yang lebih mendalam tentang keberadaan Tuhan dan kesucian diri.


Tidak ada komentar: