Kamis, 30 Agustus 2018

PELANGI TERAKHIR UNTUK ADINDA

Sering dalam berbagai pertemuan pembahasan buku terbitan Kelompok Penerbit Majas ditanyakan oleh peserta tentang teknis menghadapi kemandegan proses menulis karena kebuntuan ide.Jawabannya adalah sederhana bahwa sesungguhnya kita perlu istirahat sejenak untuk mengumpulkan kembali tenaga terutama tenaga pikiran dan mata yang butuh kesegaran untuk melanjutkan proses. Kebuntuan tersebut terutama dialami oleh penulis yang menulis dengan kebutuhan napas yang panjang seperti menulis novel yang butuh ruang tulia yang panjang, ruang isi yang kompleks. Sedangkan tentang cerpen, pertanyaan tentang kebuntuan ide relatif kurang. Dapat dimengerti karena ruang tulisan cerpen memang tidak sepanjang novel, dan ruang isi dapat hanya satu tanpa cerita pendukung cerita utama. Cerita pendek atau cerpen memang mempunyai satu ciri kesamaan yang mengikat, apabila memperhatikan pendapat-pendapat para ahli tentang cerita pendek begitu bervariasi dan satu sama lain dapat berbeda. Indonesia memang mempunyai ahli-ahli atau pelaku cerpen yang berbeda pendapatnya, apalagi ditambah ahli cerpen dunia yang memperkaya pendapat itu. Baiklah kita ambil garis besarnya saja bahwa cerpen bersifat pendek dari segi panjang tulisan, tokohnya tidak sekompleks novel, ceritanya dapat hanya salah satu epsiode kehidupan seseorang, permasalahan yang diangkat dapat cuma satu masalah tanpa unsur masalah lain pendukung, dan pembacaannya dapat selesai dalam sekali duduk. Pendeknya, tidak ada yang dapat menghalangi kita menulis cerpen meskipun sependek apapun, dan penulis cerpen dapat menulis apapun yang ada dalam benakn, hati, perasaannya tanpa terikat rumusan apapun. Penceritaannya dapat berupa monolog, dialog ataupun bentuk, yang pasti sebuah cerpen haruslah bersifat prosa. Prosa dalam cerpen jelas adalah prosa yang fiktif. Kalaupun berasal dari cerita nyata bila sudah menjadi cerpen maka sifatnya sudah menjadi fiktif, agar yang dapat diambil manfaatnya dapat mengambil pesan moral yang bersifat bebas. Para siswa SMA menulis cerpen pun dapat berpola demikian, apalagi setiap orang berlatar belakang apapun pasti punya preferensi tersendiri menurut pengalaman pancainderanya.

Judul Buku: PELANGI TERAKHIR UNTUK ADINDA: Kumpulan Cerpen 

Pengarang: 8 Siswa SMA Negeri 1 Padangan 

Friska Aning Pratiwi 
Dentamera Kusuma 
Dwi Susilowati 
Eva Silviana 
Kharisma Nanda P.P. 
Tabia Ahlika Ayu Deni 
Indra Setiawan 
Anni Nurjannah 

ISBN: 978-602-6346-72-8

Tidak ada komentar: