Rabu, 18 Februari 2026

Markus 14

 Markus 14 adalah salah satu pasal terpanjang dan paling dramatis dalam Injil Markus. Pasal ini menandai dimulainya narasi Sengsara Yesus, yang membawa pembaca dari momen keintiman bersama para murid hingga pengkhianatan di taman.

Berikut adalah ringkasan peristiwa utama dalam Markus 14:

1. Persiapan dan Pengurapan di Betania

Pasal ini dibuka dengan rencana para pemuka agama untuk membunuh Yesus. Di tengah ketegangan itu, muncul momen kontras di rumah Simon si kusta:

 * Pengurapan Yesus: Seorang wanita memecahkan buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal dan mengurapi kepala Yesus.

 * Maknanya: Yesus menyebut tindakan ini sebagai persiapan untuk hari penguburan-Nya. Sementara itu, Yudas Iskariot pergi menemui imam-imam kepala untuk mengkhianati-Nya.

2. Perjamuan Malam Terakhir

Yesus merayakan Paskah bersama kedua belas murid-Nya. Di sini, dua hal penting terjadi:

 * Pemberitahuan Pengkhianatan: Yesus menyatakan bahwa salah satu dari mereka yang makan bersama-Nya akan menyerahkan-Nya.

 * Penetapan Perjamuan Kudus: Yesus memecah-mecahkan roti dan memberikan cawan anggur, menyebutnya sebagai tubuh dan darah-Nya yang merupakan darah perjanjian.

3. Getsemani: Pergumulan Batin

Setelah nyanyian pujian, mereka pergi ke Bukit Zaitun.

 * Prediksi Penyangkalan Petrus: Yesus menubuatkan bahwa Petrus akan menyangkal-Nya tiga kali sebelum ayam berkokok dua kali.

 * Doa di Taman: Yesus merasakan sedih dan gentar yang amat sangat. Ia berdoa, "Ya Abba, ya Bapa... ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki." Sementara itu, para murid justru tertidur.

4. Penangkapan dan Peradilan

 * Ciuman Yudas: Yudas mengkhianati Yesus dengan sebuah ciuman sebagai tanda bagi para penjaga. Yesus ditangkap, dan semua murid-Nya melarikan diri.

 * Di Hadapan Mahkamah Agama: Yesus dibawa ke hadapan Imam Besar. Ketika ditanya apakah Ia adalah Mesias, Yesus menjawab dengan tegas: "Akulah Dia." Hal ini membuat-Nya dituduh menghujat Allah dan dijatuhi hukuman mati.

5. Penyangkalan Petrus

Sesuai nubuat Yesus, di halaman istana Imam Besar, Petrus menyangkal mengenal Yesus sebanyak tiga kali. Ketika ayam berkokok untuk kedua kalinya, Petrus sadar dan menangis dengan sedihnya.

> Poin Kunci: Markus 14 menonjolkan kesendirian Yesus. Ia dikhianati oleh teman-Nya (Yudas), ditinggalkan oleh sahabat-sahabat-Nya, disangkal oleh pemimpin murid-Nya (Petrus), dan akhirnya menghadapi pengadilan sendirian.

Apakah Anda ingin saya mendalami salah satu bagian tertentu, seperti makna teologis dari doa di Getsemani atau detail peradilan di hadapan Mahkamah Agama?

Tentu, ini adalah narasi yang lebih mendalam dan kontemplatif mengenai peristiwa di Taman Getsemani berdasarkan Markus 14:32-42. Narasi ini disusun untuk menggambarkan suasana mencekam, pergumulan batin Yesus, dan kegagalan para murid.
Narasi: Pergumulan di Taman Getsemani
1. Keheningan yang Mencekam
Setelah Perjamuan Malam Terakhir, Yesus membawa murid-murid-Nya melintasi Lembah Kidron menuju sebuah taman bernama Getsemani (yang berarti "pemerasan zaitun"). Suasana malam itu sangat kontras; di luar sana Yerusalem mungkin sedang merayakan Paskah, namun di taman ini, Yesus mulai merasakan beban yang luar biasa. Ia meminta sebagian besar murid-Nya duduk di dekat pintu masuk, sementara Ia membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes lebih jauh ke dalam kegelapan taman.
2. Kegentaran dan Kesedihan yang Amat Sangat
Di sinilah Markus mencatat aspek kemanusiaan Yesus yang paling jujur. Yesus mulai merasa "gentar dan sedih" (ayat 33). Kepada ketiga sahabat terdekat-Nya, Ia mengaku, "Hati-Ku sedih sekali, seakan-akan mati rasanya." Sang Mesias, yang selama ini selalu tampak tenang di hadapan badai dan musuh, kini tersungkur ke tanah dalam penderitaan batin yang hebat.
3. Doa Penyerahan: "Abba, Ya Bapa"
Dalam kesendirian-Nya, Yesus berdoa. Ia memanggil Allah dengan sebutan "Abba", sapaan yang sangat intim seperti seorang anak kepada ayahnya.
 * Permohonan-Nya: Jika mungkin, biarlah "cawan" (simbol penderitaan dan murka Allah atas dosa) itu berlalu dari hadapan-Nya.
 * Penyerahan-Nya: Namun, Ia menutup doa itu dengan ketaatan mutlak: "Tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki." Ini adalah momen penentuan di mana Yesus memilih untuk tetap meminum "cawan" tersebut demi keselamatan manusia.
4. Kegagalan Sahabat-Sahabat-Nya
Setiap kali Yesus selesai berdoa dan kembali kepada Petrus, Yakobus, dan Yohanes, Ia mendapati mereka sedang tertidur. Di tengah pergumulan kosmik yang sedang dihadapi Gurunya, para murid tidak sanggup berjaga-jaga bahkan untuk satu jam saja.
Yesus menegur Petrus dengan lembut namun tajam: "Roh memang penurut, tetapi daging lemah."
5. Akhir Pergumulan: Saatnya Tiba
Setelah tiga kali berdoa dengan isi yang sama, Yesus melihat Yudas dan rombongan bersenjata mendekat. Pergumulan doa telah selesai. Yesus tidak lagi tampak gentar; Ia berdiri dengan ketenangan yang baru. Ia membangunkan para murid-Nya dan berkata, "Bangunlah, marilah kita pergi. Lihat, orang yang menyerahkan Aku sudah dekat."
Makna Teologis dalam Markus 14
 * Kemanusiaan dan Keilahian: Getsemani memperlihatkan Yesus sebagai manusia sejati yang merasakan ketakutan luar biasa terhadap kematian, namun sebagai Anak Allah, Ia tetap setia pada misi ilahi-Nya.
 * Kontras Ketaatan: Saat Adam gagal di taman (Eden) karena ketidaktaatan, Yesus menang di taman (Getsemani) melalui ketaatan total kepada kehendak Bapa.
 * Kesendirian Yesus: Bagian ini menekankan bahwa dalam menanggung dosa dunia, Yesus harus berjalan sendirian—bahkan sahabat terdekat-Nya pun tidak mampu menemani-Nya dalam doa.
Apakah narasi ini untuk bahan renungan, khotbah, atau studi pribadi? Saya bisa menyesuaikan gaya bahasanya jika diperlukan.

Dalam tradisi Kristen, khususnya jika kita merujuk pada tulisan-tulisan Ellen G. White (yang sering disebut sebagai "Roh Nubuat" dalam Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh), narasi mengenai Getsemani digambarkan dengan sangat emosional dan mendalam.
Berikut adalah narasi Getsemani berdasarkan perspektif tersebut, yang diambil dari buku Kerinduan Segala Zaman (The Desire of Ages):
Narasi Getsemani dalam Perspektif "Roh Nubuat"
1. Beban Dosa Dunia
Ketika Yesus memasuki taman, Ia merasa seolah-olah hubungan-Nya dengan Bapa terputus. Roh Nubuat menekankan bahwa yang membuat Yesus sangat menderita bukanlah ketakutan akan kematian fisik, melainkan beban dosa seluruh umat manusia. Ia merasakan ngerinya murka Allah terhadap dosa, dan sebagai Pengganti manusia, Ia harus merasakan keterpisahan dari Bapa-Nya.
2. Pergumulan Kosmik
Di bawah bayang-bayang pohon zaitun, terjadi pertempuran hebat di alam spiritual. Iblis membisikkan bahwa jika Ia menjadi penanggung dosa, perpisahan dengan Allah itu akan bersifat kekal.
 * Tiga Kali Berdoa: Yesus jatuh tersungkur. Peluh-Nya menjadi seperti tetesan darah yang jatuh ke tanah. Setiap kali Ia pergi ke murid-murid-Nya mencari penghiburan, Ia mendapati mereka tidur. Ia benar-benar sendirian.
3. Keputusan Final
Pada doa yang ketiga, pergumulan itu mencapai puncaknya. Yesus melihat nasib umat manusia yang binasa jika Ia mundur. Karena kasih-Nya yang sangat besar, Ia mengambil keputusan final: Ia akan menyelamatkan manusia, berapapun harganya bagi diri-Nya sendiri. > "Keputusan itu telah diambil. Ia akan menyelamatkan manusia dengan risiko apapun bagi diri-Nya... Ia telah jatuh ke tanah karena tidak ada tangan manusia yang menopang-Nya."
4. Penghiburan dari Surga
Setelah keputusan itu diambil, dalam kondisi yang sangat lemah, seorang malaikat (Gabriel) datang dari surga. Malaikat itu tidak mengangkat "cawan" penderitaan tersebut, tetapi memberikan kekuatan fisik dan penghiburan kepada Yesus agar Ia sanggup melangkah menuju salib. Yesus berdiri dengan ketenangan surgawi, siap menghadapi pengkhianat-Nya.
Perbandingan Singkat:
| Aspek | Injil Markus 14 | Roh Nubuat (E.G. White) |
|---|---|---|
| Fokus Utama | Ketaatan Yesus dan kegagalan murid. | Kedalaman penderitaan mental & beban dosa. |
| Suasana | Singkat, padat, dan dramatis. | Deskriptif, emosional, dan melankolis. |
| Intervensi Ilahi | Tidak disebutkan (Markus fokus pada kesendirian). | Malaikat datang menguatkan Yesus setelah doa ketiga. |
Apakah Anda sedang mencari kutipan spesifik dari bab tertentu di buku "Kerinduan Segala Zaman", atau ingin saya menghubungkan peristiwa Getsemani ini dengan nubuatan di Perjanjian Lama?


Istilah "Roh Nubuat" secara spesifik muncul dalam Alkitab (TB - Terjemahan Baru) hanya di satu ayat, yaitu dalam Kitab Wahyu.
Berikut adalah ayatnya:
Wahyu 19:10
> "Maka tersungkurlah aku di depan kakinya untuk menyembah dia, tetapi ia berkata kepadaku: 'Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba sama seperti engkau dan saudara-saudaramu, yang memiliki kesaksian Yesus. Sembahlah Allah! Karena kesaksian Yesus adalah roh nubuat.'"
Makna dan Konteks Ayat Ini:
 * Kesaksian Yesus: Ayat ini menjelaskan bahwa inti atau "jiwa" dari setiap nubuatan sejati adalah untuk memberi kesaksian tentang Yesus Kristus. Segala nubuat dalam Alkitab, dari Kejadian sampai Wahyu, berfokus pada rencana keselamatan melalui Dia.
 * Identitas Umat Sisa: Dalam teologi tertentu (khususnya Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh), istilah ini dihubungkan dengan Wahyu 12:17, yang menyebutkan tentang keturunan perempuan yang "menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus." Mereka meyakini bahwa karunia nubuat adalah salah satu ciri khas umat Tuhan di akhir zaman.
 * Bukan Penyembahan Malaikat: Konteks ayat ini terjadi ketika Rasul Yohanes mencoba menyembah malaikat yang memberikan penglihatan kepadanya, namun malaikat itu melarangnya dan menegaskan bahwa ia hanyalah sesama hamba yang memegang kesaksian Yesus.
Ayat Terkait Karunia Nubuat (Meskipun tidak memakai frasa eksak "Roh Nubuat"):
Jika Anda mencari dasar Alkitab tentang karunia bernubuat secara umum, berikut adalah beberapa ayat kuncinya:
 * 1 Korintus 14:1: "Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat."
 * Yoel 2:28: "Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat..." (Dikutip juga dalam Kisah Para Rasul 2:17).
 * 1 Tesalonika 5:20: "Janganlah anggap rendah nubuat-nubuat."
Apakah Anda ingin saya menjelaskan lebih lanjut bagaimana ayat Wahyu 19:10 ini ditafsirkan dalam tulisan Ellen G. White yang tadi kita bahas?

Satu Jam di Getsemani

Malam itu gelap dan sunyi di taman Getsemani. Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes masuk lebih dalam. Markus mencatat bahwa seketika itu juga, hati-Nya mulai merasa sangat takut dan gentar. Ia berkata, "Hati-Ku sangat sedih, seolah-olah mati rasanya."

Ia melangkah sedikit lebih jauh, lalu merebahkan diri ke tanah. Di bawah bayang-bayang pohon zaitun, terdengar doa yang paling jujur dalam sejarah manusia: "Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku." Namun, getaran suara-Nya berubah menjadi ketetapan hati: "Tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki."

Ketika Ia kembali, Ia mendapati para sahabat-Nya tertidur. "Simun, sedang tidurkah engkau?" tanya-Nya lembut namun pedih. "Tidakkah engkau sanggup berjaga-jaga satu jam saja?" Yesus tahu, roh memang penurut, tetapi daging lemah. Tiga kali Ia berdoa, dan tiga kali pula Ia mendapati mereka terlelap oleh duka.

Akhirnya, Yesus berdiri tegak. Ketakutan itu telah berganti menjadi ketaatan yang mutlak. "Cukuplah," kata-Nya, "Saatnya sudah tiba. Lihat, Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa. Bangunlah, marilah kita pergi." Di ujung taman, obor-obor pengkhianatan mulai terlihat mendekat.


An Hour in Gethsemane
It was a dark and silent night in the Garden of Gethsemane. Jesus led Peter, James, and John deeper into the Garden. Mark records that immediately, His heart began to feel great fear and trembling. He said, "My soul is exceedingly sorrowful, even to the point of death."

He went a little farther and then fell to the ground. Under the shade of an olive tree, the most honest prayer in human history was heard: "Abba, Father, nothing is impossible for You; take this cup from Me." But the trembling in His voice turned to determination: "Not what I will, but what You will."

When He returned, He found His friends asleep. "Simun, are you sleeping?" He asked gently but painfully. "Couldn't you have watched for just one hour?" Jesus knew that the spirit is willing, but the flesh is weak. Three times He prayed, and three times He found them asleep with grief.

Finally, Jesus stood up. That fear had given way to absolute obedience. “It is enough,” He said, “the hour has come. Behold, the Son of Man is betrayed into the hands of sinners. Arise, let us go.” At the edge of the garden, the torches of betrayal were beginning to appear.


Tidak ada komentar: