Hubungan antara Yesus dan perempuan merupakan salah satu aspek yang paling revolusioner dalam narasi Injil. Pada masa itu, budaya Yahudi dan Romawi cenderung menempatkan perempuan di posisi sekunder, namun Yesus secara konsisten mendobrak batasan sosial tersebut.
Berikut adalah beberapa poin utama yang merangkum interaksi Yesus dengan perempuan:
1. Perempuan sebagai Murid dan Pendukung
Meskipun 12 rasul utama adalah laki-laki, Yesus dikelilingi oleh sekelompok perempuan setia yang menyertai perjalanan misi-Nya.
* Maria Magdalena, Yohana, dan Susana: Disebutkan dalam Lukas 8:1-3 sebagai perempuan yang membantu pelayanan Yesus dengan kekayaan mereka.
* Maria dan Marta: Yesus berteman dekat dengan kakak beradik ini. Ia membela Maria yang memilih untuk "duduk di kaki-Nya" (posisi khas seorang murid laki-laki) untuk belajar, alih-alih hanya sibuk di dapur.
2. Mendobrak Tabu Sosial
Yesus sering mengabaikan aturan budaya demi menunjukkan belas kasihan:
* Perempuan Samaria: Yesus melanggar dua aturan sekaligus: berbicara dengan orang Samaria (musuh bangsa Yahudi) dan berbicara berduaan dengan perempuan di tempat umum. Ia justru mengungkapkan identitas-Nya sebagai Mesias kepadanya terlebih dahulu.
* Perempuan yang Sakit Pendarahan: Secara hukum taurat, perempuan ini dianggap "najis." Namun, Yesus tidak memarahinya saat ia menyentuh jubah-Nya; Ia malah memanggilnya "Anak-Ku" dan menyembuhkannya.
3. Pemulihan Harkat dan Martabat
Yesus menolak standar ganda moralitas pada zaman itu:
* Perempuan yang Berzina: Ketika orang banyak ingin melemparinya batu, Yesus menantang mereka yang tidak berdosa untuk melempar batu pertama. Ia tidak menghukumnya, melainkan memberinya kesempatan untuk bertobat.
* Pengurapan oleh Perempuan Berdosa: Yesus membiarkan seorang perempuan yang dikenal sebagai "orang berdosa" membasuh kaki-Nya dengan air mata dan minyak wangi, memuji kasihnya yang besar di depan para pemimpin agama yang menghakiminya.
4. Saksi Pertama Kebangkitan
Dalam tradisi hukum kuno, kesaksian perempuan seringkali tidak dianggap sah di pengadilan. Namun, dalam keempat Injil, perempuan (khususnya Maria Magdalena) adalah orang-orang pertama yang dipercayakan untuk melihat Yesus yang bangkit dan diperintahkan untuk mewartakan kabar tersebut kepada para rasul lainnya.
Ringkasan Sikap Yesus
| Aspek | Budaya Zaman Itu | Tindakan Yesus |
|---|---|---|
| Pendidikan | Perempuan jarang diajar agama secara formal. | Mengajar perempuan (Maria) secara langsung. |
| Status Hukum | Kesaksian perempuan dianggap lemah. | Menjadikan perempuan saksi pertama Kebangkitan. |
| Interaksi | Pria tidak bicara dengan perempuan asing. | Berdialog mendalam dengan perempuan Samaria. |
Sikap Yesus ini menunjukkan bahwa di mata-Nya, baik laki-laki maupun perempuan memiliki martabat rohani yang setara.
Dalam catatan sejarah dan spiritual, Yesus dikenal karena cara-Nya yang revolusioner dalam menghargai, memulihkan, dan memberkati perempuan di zaman di mana perempuan sering kali dikesampingkan.
1. Memulihkan Martabat dan Harga Diri
Yesus sering kali mendobrak batasan sosial untuk menolong perempuan yang terpinggirkan:
* Perempuan Samaria: Yesus berbicara dengannya di sumur, melampaui sekat etnis dan gender.
> "Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: 'Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?' (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)" — Yohanes 4:9
>
* Perempuan yang Sakit Pendarahan: Yesus memberikan pemulihan fisik dan status keluarga.
> "Maka kata-Nya kepada perempuan itu: 'Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!'" — Markus 5:34
>
2. Memberikan Pengampunan dan Harapan
Yesus menawarkan kasih karunia di saat dunia menawarkan penghakiman:
* Perempuan yang Berzinah: Yesus memberikan perlindungan dan kesempatan baru.
> "Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: 'Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?' Jawabnya: 'Tidak ada, Tuhan.' Lalu kata Yesus: 'Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.'" — Yohanes 8:10-11
>
3. Menjadikan Perempuan Saksi Utama
Dalam budaya saat itu di mana kesaksian perempuan sering tidak dianggap sah secara hukum, Yesus justru mempercayakan kabar terpenting kepada mereka:
* Maria Magdalena: Saksi pertama kebangkitan.
> "Kata Yesus kepadanya: 'Maria!' Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: 'Rabuni!', artinya Guru... Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: 'Aku telah melihat Tuhan!'" — Yohanes 20:16, 18
>
4. Menghargai Hak untuk Belajar Rohani
Yesus menegaskan bahwa perempuan memiliki hak untuk mendapatkan pengajaran rohani yang mendalam, bukan hanya urusan domestik:
* Maria dan Marta:
> "Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan firman-Nya... tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya." — Lukas 10:39, 42
>
Kesimpulan Spiritual
Tindakan Yesus menunjukkan pemenuhan dari janji Allah bahwa dalam Kristus, tidak ada perbedaan status yang menghalangi seseorang untuk menerima berkat-Nya:
> "Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus." — Galatia 3:28
Analisis mengenai sikap Yesus terhadap perempuan menuntut kita untuk melihat melampaui teks kitab suci dan memahami konteks sosio-kultural abad ke-1 di Palestina. Pada masa itu, struktur masyarakat bersifat sangat patriarkal, di mana perempuan sering kali dianggap sebagai properti atau warga kelas dua.
Berikut adalah analisis kritis terhadap bagaimana Yesus mendobrak norma-norma tersebut:
1. Dekonstruksi Status Sosial dan Hukum
Dalam tradisi Yahudi saat itu, kesaksian seorang perempuan sering kali dianggap tidak sah secara hukum. Namun, Yesus melakukan beberapa tindakan revolusioner:
* Saksi Kebangkitan: Secara teologis, sangat signifikan bahwa Yesus memilih Maria Magdalena sebagai orang pertama yang melihat-Nya setelah kebangkitan. Dalam konteks apologetika, jika cerita ini adalah rekayasa, penulis zaman itu tidak akan memilih perempuan sebagai saksi utama karena rendahnya kredibilitas mereka di mata hukum.
* Akses terhadap Pengajaran: Yesus membiarkan Maria (saudara Marta) duduk di kaki-Nya untuk belajar. "Duduk di kaki guru" adalah terminologi teknis bagi seorang murid pria yang sedang menempuh pendidikan rabi. Dengan melakukan ini, Yesus menegaskan bahwa perempuan memiliki hak yang sama atas pendidikan spiritual.
2. Melampaui Tabu Ritual dan Etnis
Yesus sering kali mengabaikan aturan kemurnian ritual demi memulihkan martabat perempuan:
* Perempuan yang Sakit Pendarahan: Menurut hukum Imamat, perempuan ini dianggap "najis" dan siapa pun yang menyentuhnya akan ikut najis. Namun, Yesus tidak menghardiknya; Ia justru memanggilnya "Anak-Ku" (sebuah sapaan penuh martabat) dan memuji imannya.
* Perempuan Samaria di Sumur: Yesus melanggar dua batasan sekaligus: batasan etnis (Yahudi vs Samaria) dan batasan gender (seorang pria tidak lazim berbicara berduaan dengan perempuan asing). Percakapan teologis terdalam mengenai "Penyembahan dalam Roh dan Kebenaran" justru terjadi dengan perempuan ini.
3. Kritik Terhadap Standar Ganda Moralitas
Salah satu momen paling kritis adalah kisah perempuan yang tertangkap berzinah.
* Analisis: Hukum saat itu menuntut hukuman rajam bagi perempuan tersebut, namun di mana pihak laki-lakinya?
* Tindakan Yesus: Dengan mengatakan "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu," Yesus membongkar kemunafikan sistemik dan standar ganda yang selalu menyudutkan perempuan dalam pelanggaran moral.
Ringkasan Signifikansi Historis
| Aspek | Norma Zaman Itu | Tindakan Yesus |
|---|---|---|
| Pendidikan | Terbatas untuk laki-laki | Menjadikan perempuan murid aktif |
| Hukum | Kesaksian perempuan tidak sah | Menjadikan perempuan saksi kunci Kebangkitan |
| Interaksi | Terbatas pada keluarga | Berinteraksi publik dengan perempuan asing/berdosa |
| Status | Dianggap sebagai objek/properti | Diakui sebagai subjek yang setara di hadapan Allah |
Kesimpulan Kritikal
Secara historis, Yesus tidak sekadar "baik" kepada perempuan, melainkan melakukan radikalisasi sosial. Ia mengintegrasikan perempuan ke dalam gerakan-Nya bukan sebagai pendukung pasif, melainkan sebagai murid, penyokong finansial, dan penginjil pertama. Tindakan ini menantang struktur kekuasaan patriarkal yang mapan pada masa itu.
Jika kita melihat catatan sejarah dan teks Kitab Suci, sikap Yesus terhadap perempuan memang dianggap sangat revolusioner pada zamannya. Di tengah budaya patriarki yang kental saat itu, Yesus mendobrak banyak batasan sosial.
Berikut adalah beberapa poin utama yang menunjukkan bagaimana Yesus menghargai perempuan:
1. Memulihkan Martabat di Ruang Publik
Pada masa itu, laki-laki Yahudi jarang berbicara dengan perempuan di depan umum, apalagi perempuan asing. Namun, Yesus sengaja melakukannya:
* Perempuan Samaria: Yesus bercakap-cakap panjang lebar dengannya di sumur Yakub. Ini mendobrak dua batasan sekaligus: batasan gender dan batasan etnis (perseteruan Yahudi-Samaria).
* Perempuan yang Sakit Pendarahan: Alih-alih merasa "najis" karena disentuh oleh perempuan yang sedang sakit pendarahan selama 12 tahun, Yesus justru memanggilnya "Anak-Ku" dan memuji imannya di depan orang banyak.
2. Menjadikan Perempuan sebagai Saksi Kunci
Hal yang paling signifikan adalah peran perempuan dalam peristiwa kebangkitan:
* Saksi Pertama: Meskipun pada abad pertama kesaksian perempuan sering kali tidak dianggap sah secara hukum, Yesus justru memilih Maria Magdalena dan perempuan lainnya sebagai orang pertama yang melihat-Nya setelah bangkit dan memerintahkan mereka untuk memberitahu para rasul.
3. Memberikan Hak untuk Belajar (Pendidikan Spiritual)
Dalam kisah Maria dan Marta, Yesus membela Maria yang duduk di kaki-Nya untuk mendengarkan pengajaran-Nya.
* Duduk di kaki seorang Rabi adalah posisi khas seorang murid (laki-laki).
* Yesus menegaskan bahwa Maria telah "memilih bagian yang terbaik," yang menunjukkan bahwa perempuan memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan spiritual.
4. Perlindungan dan Keadilan
Yesus sering kali membela perempuan yang dipojokkan oleh standar ganda masyarakat:
* Perempuan yang berzina: Ketika orang-orang ingin melemparinya dengan batu, Yesus menantang para penuduhnya dan memberikan pengampunan serta kesempatan kedua bagi perempuan tersebut.
* Dukungan Finansial dan Pelayanan: Injil Lukas mencatat bahwa ada banyak perempuan (seperti Yohana dan Susana) yang menyertai perjalanan Yesus dan menyokong pelayanan-Nya dengan kekayaan mereka.
> Kesimpulan: Yesus tidak melihat perempuan berdasarkan status sosial atau stigma, melainkan sebagai pribadi yang utuh, setara, dan berharga di mata Tuhan.

Kita bahas topik ini dengan pilihan kata (diksi) yang lebih kontemplatif dan menyentuh sisi kemanusiaan. Yesus tidak sekadar berinteraksi dengan perempuan; Ia merestorasi eksistensi mereka di tengah tatanan dunia yang cenderung meminggirkan.
Berikut adalah perspektif mengenai cara Yesus memuliakan perempuan dengan diksi yang berbeda:
1. Mendobrak Sekat Tradisi
Yesus tampil sebagai sosok yang inklusif. Di era di mana suara perempuan sering kali dianggap sunyi, Ia justru memberikan ruang dialog. Tindakan-Nya berbicara dengan perempuan di ruang publik bukan sekadar kebetulan, melainkan sebuah pernyataan berani bahwa harkat seorang manusia tidak ditentukan oleh gender.
2. Mengakui Kapasitas Intelektual dan Spiritual
Melalui interaksi-Nya, Yesus memvalidasi bahwa perempuan bukan hanya pendukung di balik layar, melainkan subjek yang mampu menangkap esensi kebenaran.
* Ketika Ia mengajar, Ia tidak membatasi ilmu-Nya bagi kaum pria saja.
* Ia menyambut perempuan sebagai murid, mengakui bahwa mereka memiliki kedalaman spiritual yang sama untuk memahami misteri kehidupan.
3. Pemberdayaan Melalui Kepercayaan
Keputusan Yesus untuk menampakkan diri pertama kali kepada perempuan setelah kebangkitan-Nya adalah sebuah anomali sosiologis yang luar biasa. Dengan menjadikan mereka sebagai "saksi dari para saksi," Yesus memberikan mandat kepemimpinan dan otoritas tutur kepada pihak yang secara sistemik dibatasi hak bicaranya saat itu.
4. Empati sebagai Bentuk Perlindungan
Yesus memandang perempuan dengan mata yang penuh belas kasih (compassion), bukan penghakiman.
* Ia menjadi pelindung bagi mereka yang teralienasi oleh stigma sosial.
* Ia mengganti rasa malu dengan pemulihan, memberikan mereka keberanian untuk kembali berdiri tegak di tengah masyarakat yang menghujat.
> Refleksi: Pendekatan Yesus adalah sebuah revolusi kasih. Ia tidak melihat perempuan melalui lensa norma budaya yang sempit, melainkan melalui lensa martabat Ilahi yang melekat pada setiap jiwa.
>
Dalam keheningan perbukitan yang bermandikan cahaya senja, terlukis sebuah perjumpaan yang melampaui kata-kata. Yesus, Sang Gembala Agung, berdiri dengan wibawa yang tenang, sementara seorang perempuan bersimpuh di hadapan-Nya dalam sikap pengabdian yang tulus.
Momen ini merangkum narasi-narasi agung tentang pemulihan jiwa:
* Kesetiaan yang Diteguhkan: Sebagaimana Maria Magdalena di taman kubur, posisi berlutut ini mencerminkan pengakuan akan Yesus sebagai "Rabuni" atau Guru. Hal ini selaras dengan peristiwa di mana Yesus mengutusnya menjadi saksi pertama, "Pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu" (Yohanes 20:17).
* Pilihan Hati yang Murni: Keheningan ini mengingatkan pada keteguhan Maria dari Betania yang memilih untuk duduk di dekat kaki Yesus demi mencari esensi kehidupan. Yesus memberikan legitimasi atas pilihannya dengan berkata bahwa ia telah memilih "bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya" (Lukas 10:42).
* Restorasi dan Martabat: Kehadiran Yesus di ruang terbuka menegaskan bahwa tidak ada lagi sekat yang memisahkan manusia dari penerimaan Ilahi. Pendampingan ini membuktikan bahwa di hadapan-Nya, "tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus" (Galatia 3:28).
Perbukitan yang damai ini menjadi saksi bagi sebuah perjumpaan spiritual yang mengubah hidup. Dalam suasana yang penuh dengan Shalom, Yesus mengangkat kembali harkat yang sempat luruh, menegaskan bahwa Dia tidak melihat rupa, melainkan kedalaman hati manusia (1 Samuel 16:7).
Kisah-kisah tentang Yesus dan perempuan dalam Perjanjian Baru sangatlah signifikan karena pada zaman itu, budaya Yahudi dan Romawi cenderung menempatkan perempuan di pinggiran secara sosial dan hukum.
Yesus secara konsisten mendobrak batasan budaya tersebut dengan memperlakukan perempuan dengan martabat, rasa hormat, dan kesetaraan yang revolusioner.
Berikut adalah beberapa interaksi kunci yang menunjukkan sikap Yesus terhadap perempuan:
1. Maria dan Marta (Lukas 10:38–42)
Dalam kisah ini, Yesus bertamu ke rumah mereka. Sementara Marta sibuk melayani, Maria duduk di dekat kaki Yesus untuk mendengarkan pengajaran-Nya.
* Signifikansi: Pada masa itu, duduk di kaki guru adalah posisi khusus bagi murid laki-laki. Yesus membela pilihan Maria, menegaskan bahwa perempuan juga berhak mendapatkan pendidikan spiritual.
2. Perempuan Samaria di Pinggir Sumur (Yohanes 4:1–42)
Yesus memulai percakapan teologis yang mendalam dengan seorang perempuan Samaria—sosok yang dianggap "najis" secara agama dan sosial.
* Signifikansi: Yesus melanggar dua tabu sekaligus: berbicara dengan orang Samaria (musuh bangsa Yahudi) dan berbicara berdua saja dengan perempuan yang bukan keluarganya. Perempuan ini menjadi salah satu penginjil pertama yang membawa seluruh kotanya kepada Yesus.
3. Perempuan yang Mengalami Pendarahan (Markus 5:25–34)
Seorang perempuan yang menderita pendarahan selama 12 tahun menyentuh jubah Yesus demi kesembuhan. Secara hukum Taurat, ia dianggap najis dan seharusnya tidak berada di keramaian.
* Signifikansi: Bukannya marah karena "disentuh oleh yang najis," Yesus justru memanggilnya "Anak-Ku" (sebuah sapaan kasih sayang) dan memuji imannya secara terbuka.
4. Maria Magdalena: Saksi Pertama Kebangkitan
Dalam keempat Injil, perempuan (terutama Maria Magdalena) adalah orang-orang pertama yang menemukan makam kosong dan bertemu dengan Yesus yang telah bangkit.
* Signifikansi: Di pengadilan abad pertama, kesaksian perempuan tidak dianggap sah secara hukum. Namun, Yesus justru mempercayakan pesan terpenting dalam kekristenan (Kebangkitan) kepada perempuan untuk disampaikan kepada para Rasul.
Ringkasan Sikap Yesus
| Aspek | Tindakan Yesus |
|---|---|
| Pendidikan | Mengizinkan perempuan menjadi murid-Nya. |
| Status Sosial | Berbicara dengan mereka yang terpinggirkan (janda, pelacur, orang asing). |
| Pelayanan | Menerima dukungan finansial dan bantuan dari perempuan (Lukas 8:1–3). |
| Hukum | Menolak penghakiman sepihak terhadap perempuan yang berzinah (Yohanes 8:1–11). |
Yesus tidak hanya melihat perempuan sebagai pelayan di rumah tangga, tetapi sebagai pribadi yang utuh, teman, murid, dan pembawa pesan Tuhan.
Hubungan antara Yesus dan perempuan merupakan salah satu aspek yang paling revolusioner dalam narasi Injil. Pada masa itu, budaya Yahudi dan Romawi cenderung membatasi peran perempuan di ruang publik, namun Yesus secara konsisten mendobrak batasan sosial tersebut.
Berikut adalah beberapa poin utama yang menggambarkan interaksi Yesus dengan perempuan:
1. Memperlakukan Perempuan dengan Martabat
Yesus sering kali mengabaikan norma sosial untuk menolong perempuan yang terpinggirkan:
* Perempuan Samaria di sumur: Yesus melanggar dua batasan sekaligus (etnis dan gender) dengan berbicara panjang lebar tentang teologi dengan seorang perempuan Samaria yang memiliki masa lalu kelam.
* Perempuan yang sakit pendarahan: Yesus tidak menganggapnya "najis" (sesuai hukum Taurat saat itu), melainkan memanggilnya "Anak-Ku" dan memuji imannya.
2. Perempuan sebagai Murid dan Pendukung
Meskipun Dua Belas Rasul adalah laki-laki, Injil mencatat bahwa sekelompok perempuan setia mengikuti dan menyokong pelayanan Yesus:
* Maria Magdalena, Yohana, dan Susana: Mereka mengikuti Yesus dari Galilea dan membantu membiayai pelayanan-Nya (Lukas 8:1-3).
* Maria dan Marta: Yesus sering berkunjung ke rumah mereka. Ketika Maria duduk di kaki Yesus untuk mendengarkan pengajaran-Nya, Yesus membelanya—ini adalah posisi tradisional seorang "murid" laki-laki.
3. Saksi Pertama Kebangkitan
Ini adalah poin yang sangat signifikan secara historis. Dalam budaya di mana kesaksian perempuan sering kali tidak dianggap sah di pengadilan, Yesus justru memilih Maria Magdalena (dan perempuan lainnya) sebagai saksi pertama kebangkitan-Nya. Ia mengutus mereka untuk mewartakan kabar gembira tersebut kepada para rasul laki-laki.
4. Menolak Standar Ganda
Dalam kisah perempuan yang kedapatan berzinah, Yesus menantang para pemimpin agama yang hanya menghakimi si perempuan tanpa menghakimi laki-laki yang terlibat. Ia menunjukkan belas kasih sekaligus memulihkan martabat perempuan tersebut dengan berkata, "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi."
Ringkasan Peran Perempuan dalam Hidup Yesus
| Peristiwa | Tokoh Perempuan | Makna Signifikan |
|---|---|---|
| Kelahiran | Maria (Ibu Yesus) | Ketaatan dan saluran inkarnasi Tuhan. |
| Pengajaran | Maria dari Betania | Menunjukkan bahwa perempuan berhak belajar teologi. |
| Penyaliban | Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus | Kesetiaan saat murid laki-laki melarikan diri. |
| Kebangkitan | Maria Magdalena | "Rasul bagi para Rasul" (Apostle to the Apostles). |
Secara keseluruhan, Yesus menunjukkan bahwa dalam Kerajaan Allah, nilai seseorang tidak ditentukan oleh gender, melainkan oleh iman dan kasih.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar