Selasa, 20 Januari 2026

IMAN KEPADA YESUS DI DALAM KERUMUNAN

Kisah tentang Yesus dan perempuan yang mengalami pendarahan adalah salah satu mukjizat yang paling menyentuh dalam Perjanjian Baru (tercatat di Matius 9:20-22, Markus 5:25-34, dan Lukas 8:43-48).

Kisah ini sering disebut sebagai "iman di dalam kerumunan" karena terjadi saat Yesus sedang dalam perjalanan menuju rumah Yairus untuk membangkitkan anaknya.

 Ringkasan Kisah 

 * Kondisi Sang Perempuan: Ia telah menderita pendarahan selama 12 tahun. Secara medis, ia sudah menghabiskan seluruh hartanya untuk berobat namun tidak kunjung sembuh. Secara sosial dan religius (menurut hukum Taurat), kondisinya membuatnya dianggap "najis", yang berarti ia terisolasi dari masyarakat dan tempat ibadah. 

 * Tindakan Iman: Ia mendengar tentang Yesus dan percaya bahwa hanya dengan menyentuh jumbai jubah-Nya saja, ia akan sembuh. Karena malu atau takut karena status kenajisannya, ia mendekat secara diam-diam dari belakang di tengah kerumunan orang yang berdesak-desakan. 

 * Kesembuhan Seketika: Begitu ia menyentuh jubah Yesus, pendarahannya berhenti seketika. Yesus merasakan ada "kuasa yang keluar" dari diri-Nya dan bertanya, "Siapa yang menjamah jubah-Ku?" 

 * Pengakuan dan Berkat: Meski gemetar ketakutan, perempuan itu tersungkur di depan Yesus dan menceritakan kejujurannya. Yesus tidak memarahi dia, melainkan berkata:

 > "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau; pergilah dengan selamat!"

 > Makna Penting dari Peristiwa Ini

 * Iman yang Aktif: Perempuan ini tidak hanya menunggu Yesus datang kepadanya; ia berinisiatif mengambil langkah iman meskipun ada hambatan fisik dan sosial. 

 * Yesus Peduli pada Individu: Di tengah kerumunan besar yang menghimpit-Nya, Yesus tetap merasakan sentuhan satu orang yang membutuhkan. Ini menunjukkan bahwa Tuhan peduli pada beban pribadi kita di tengah hiruk-pikuk dunia.

 * Pemulihan Total: Yesus tidak hanya menyembuhkan fisiknya, tetapi juga memulihkan martabatnya. Dengan menyebutnya "anak-Ku" (satu-satunya momen Yesus memanggil seorang perempuan dengan sebutan ini di Injil), Ia mengembalikan status sosial perempuan itu di hadapan publik. 

 * Simbolisme Angka 12: Ada paralel menarik di mana perempuan ini menderita selama 12 tahun, dan pada saat yang sama, Yesus sedang pergi untuk menyembuhkan anak Yairus yang berusia 12 tahun.

 Keduanya menunjukkan kekuasaan Yesus atas penyakit dan kematian. 

Kisah Yesus menyembuhkan perempuan yang sakit pendarahan (tercatat dalam Markus 5:25-34, Matius 9:20-22, dan Lukas 8:43-48) mengandung kedalaman teologis yang sangat kaya. Peristiwa ini bukan sekadar keajaiban medis, melainkan pernyataan tentang identitas Yesus dan hakikat Kerajaan Allah.

Berikut adalah poin-poin teologis utamanya:

1. Pemulihan dari Kenajisan Ritual
Dalam hukum Taurat (Imamat 15:25-27), seorang perempuan yang mengalami pendarahan terus-menerus dianggap najis secara ritual. Apa pun yang ia sentuh menjadi najis.
 * Makna Teologis: Dengan membiarkan diri-Nya disentuh, Yesus tidak menjadi najis. Sebaliknya, kesucian dan kuasa-Nya justru "menulari" perempuan itu dan menyembuhkannya. Ini menunjukkan bahwa Yesus lebih besar dari hukum ritual; Ia adalah sumber pengudusan.

2. Iman sebagai Jembatan (Sola Fide)
Perempuan ini memiliki iman yang sangat personal dan berani: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."
 * Sentuhan Fisik vs. Sentuhan Iman: Banyak orang berdesak-desakan di sekitar Yesus, tetapi hanya perempuan ini yang "menyentuh" dengan iman yang menarik kuasa keluar dari Yesus.
 * Pernyataan Yesus: Yesus menegaskan, "Imanmu telah menyelamatkan engkau." Ini mengajarkan bahwa keselamatan dan pemulihan diterima melalui iman kepada pribadi-Nya, bukan sekadar keajaiban mekanis.

3. Pemulihan Martabat Sosial dan Spiritual
Yesus tidak membiarkan perempuan itu pergi secara diam-diam. Ia menghentikan kerumunan dan mencari pelakunya.
 * Dari "Najis" menjadi "Anak": Yesus memanggilnya dengan sebutan "Anak-Ku" (Daughter). Ini adalah satu-satunya momen dalam Injil di mana Yesus memanggil seorang perempuan dengan sebutan ini.
 * Reintegrasi: Dengan memanggilnya di depan umum, Yesus memulihkan status sosialnya. Ia bukan lagi orang buangan yang najis, melainkan anggota keluarga Allah yang telah dipulihkan.

4. Kristologi: Kemanusiaan dan Keallahan Yesus
Peristiwa ini menunjukkan dua sisi Yesus secara harmonis:
 * Kemanusiaan: Yesus merasakan ada kuasa yang keluar dari diri-Nya, menunjukkan interaksi yang nyata dengan penderitaan manusia.
 * Keallahan: Kuasa penyembuhan itu bersifat ilahi, mampu melampaui batas-batas medis dan hukum agama pada masa itu.

Perbandingan Teologis Singkat
| Aspek | Kondisi Perempuan | Tindakan Yesus |
|---|---|---|
| Status Hukum | Najis (Terisolasi) | Menyucikan (Menyambut) |
| Status Sosial | Terpinggirkan (12 tahun) | Memanggil "Anak-Ku" (Adopsi) |
| Kondisi Fisik | Menderita/Habis harta | Sembuh total/Gratis |

> Catatan Penting: Angka 12 tahun pendarahan sering dikaitkan secara teologis dengan usia anak Yairus (12 tahun) yang dibangkitkan Yesus dalam narasi yang sama. Ini melambangkan pemulihan bagi seluruh umat Israel (12 suku) yang sedang sakit dan membutuhkan hidup baru.

Tidak ada komentar: