Kalimat "Bijaksana Sejak dalam Pikiran" (atau sering juga diartikan sebagai prinsip "kebijaksanaan harus dimulai dari pikiran/hati") sangat erat kaitannya dengan ajaran seorang filsuf terkenal.
Pernyataan ini merupakan terjemahan atau interpretasi dari ajaran Buddha Gautama, yang sering ditemukan dalam berbagai teks Buddhis.Salah satu sumber utamanya adalah Dhammapada, koleksi syair-syair ajaran Buddha. Ayat pertama (Yamakavagga 1) sering diterjemahkan sebagai:
> "Manas pubbaṅgamā dhammā, manaseṭṭhā manomayā."
> Yang artinya secara bebas kurang lebih: "Pikiran adalah pelopor dari segala kondisi. Pikiran adalah yang terutama, segala sesuatu tercipta dari pikiran."
>
Jadi, meskipun Anda mungkin menyusun kalimat "Bijaksana Sejak dalam Pikiran" sendiri, konsep bahwa pikiran adalah sumber utama dari tindakan dan kualitas, termasuk kebijaksanaan, adalah inti dari ajaran Buddha yang sangat kuno.
Konsep bahwa kebijaksanaan harus dimulai dari dalam/pikiran juga memiliki landasan yang sangat kuat dan jelas dalam Alkitab, terutama di dalam Perjanjian Baru dan kitab-kitab Hikmat.
Meskipun kalimat persis "Bijaksana Sejak dalam Pikiran" mungkin bukan kutipan langsung, inti ajarannya sangat ditekankan.
Berikut adalah beberapa ayat Alkitab yang menggambarkan konsep ini:
1. Sumber Perbuatan Ada di Dalam Hati/Pikiran
Alkitab mengajarkan bahwa pikiran dan hati adalah sumber dari semua tindakan, baik yang baik maupun yang jahat. Oleh karena itu, kebijaksanaan yang sejati harus berakar di dalamnya.
* Markus 7:21-23 (TB)
> "Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”
>
* Intinya: Yesus menekankan bahwa sumber kejahatan (kebalikan dari kebijaksanaan) berasal dari hati/pikiran, yang menyiratkan bahwa sumber kebaikan dan kebijaksanaan juga harus dimulai di sana.
* Amsal 4:23 (TB)
> "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."
>
* Intinya: "Hati" dalam konteks Ibrani seringkali merujuk pada pusat dari pikiran, kemauan, dan emosi. Ayat ini secara langsung memerintahkan untuk menjaga pikiran/hati sebagai sumber dari keseluruhan kehidupan.
2. Meminta Hikmat kepada Tuhan
Alkitab juga mengajarkan bahwa hikmat (kebijaksanaan) adalah karunia dari Tuhan yang harus dicari dan dimulai dari sikap batin yang benar.
* Amsal 1:7 (TB)
> "Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan."
>
* Intinya: Sikap hati (Takut akan Tuhan, yaitu menghormati dan taat) adalah permulaan untuk memperoleh pengetahuan dan hikmat sejati.
* Yakobus 1:5 (TB)
> "Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah—yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit—maka hal itu akan diberikan kepadanya."
>
* Intinya: Kebijaksanaan adalah anugerah yang dimulai dengan tindakan batin berupa doa dan permohonan kepada Sumbernya (Allah).
Kesimpulan
Jadi, walaupun kalimat "Bijaksana Sejak dalam Pikiran" mungkin bukan kutipan langsung seperti "Manusia merencanakan, tetapi Tuhan yang menentukan" (Amsal 16:9), konsep yang terkandung di dalamnya sangat sesuai dengan ajaran Alkitab yang menekankan bahwa hati dan pikiran adalah sumber sejati dari semua perbuatan, baik kebijaksanaan maupun kebodohan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar