Senin, 16 Agustus 2021

Catatan Suara-Suara Terus Berbisik dan Menggumam Mempertimbangkan Berbagai Pemaknaan EFOD vs PROFETIS yang Menjadi Jembatan Keledai dan Berbisik Bergumam Terus dalam Bising Dunia

Suara-Suara Terus Berbisik dan Menggumam Mempertimbangkan Berbagai Pemaknaan EFOD vs PROFETIS yang Menjadi Jembatan Keledai dan Berbisik Bergumam Terus dalam Bising Dunia

 

Oleh: Mantan Redaktur Buletin Unit Kegiatan Mahasiswa Sebuah Universitas

 

Ini pendekatan seni untuk pemaknaan baru, bukan mencari kebenaran, bukan mencari benar salah, bukan mencari kaidah dan rumus. Pendekatan seni adalah pendekatan dengan simbol-simbol. Berisik suara-suara lingkungan kita di sini ditonjolkan, sebagai simbol bahwa suara-suara Ketuhanan memang banyak tertutupi oleh suara-suara di sekitar kita.

Suara Roh Kebenaran hanya ada sayup-sayup seperti bisikan-bisikan yang tidak jelas, kalah oleh bising suara kendaraan lalu lalang, bising nyaring suara menyangkut perut dan kebahagiaan dan kesibukan, keseharian. Tetapi meski suara Roh itu hanya berbisik dan bergumam, ia akan terus bersuara sepanjang hayat dan umur kehidupan sampai akhir.

Tidak bermaksud mengadu domba sejarah dan generasi. Seni bukan untuk itu. Seni bertugas untuk memberi pemaknaan demi pemaknaan dengan simbol-simbol. Efod dan profetis sama-sama berbicara tentang Suara Tuhan, Kehendak Tuhan, yang nyaris selalu tertutupi dan terkalahkan oleh suara-suara bising kehidupan dunia.

Sekali lagi, pendekatan seni tidak bermaksud mencari kebenaran. Tidak bermaksud membuat rumus dan mencari kaidah. Pendekatan seni budaya lebih bersifat memaknai semua pengalaman dan pemikiran. Sangat bermanfaat untuk ingatan tentang hal yang dibahas.

Efod jubah imam agung bangsa Israel zaman Perjanjian Lama. Profetis isi kitab para nabi. Kedua-duanya berarti bagus untuk keimanan hubungan manusia dengan Tuhan. Mengapa harus memilih di antara keduanya. Dengan pendekatan seni budaya kita dapat memberi pemaknaan. Efod lebih bersifat simbolis sebagai hal utama dalam seni budaya dan ilmu humaniora. Profetis lebih bermakna sesungguhnya dan kurang simbolis.

Secara simbolisme seni nama Efod lebih bagus. Nama profetis lebih bersifat telanjang. Padahal profetis sendiri secara pengertian ya sama dengan Alkitab Firman Tuhan. Tergantung kecenderungan kita lebih ingin semua indah dengan menyentuh unsur hati dan perasaan. Atau lebih cenderung membuat semua apa kadarnya dan terasa kering.

Pembahasan belum sampai pada tanda pemberontakan generasi profetis terhadap generasi efod. Tetapi setiap zaman memang punya anak zaman sendiri-sendiri. Seseorang punya hak untuk bersikap dan melakukan perubahan pada zamannya.

Dahulu saat masih mahasiswa kita punya tanggung jawab sebagai mahasiswa terhadap sesama mahasiswa dengan unit kegiatan mahasiswa kita. Maka ada buletin Efod pada masa awal unit kegiatan kita itu. Lalu oleh generasi sesudahnya nama buletin itu diubah dengan nama baru, Profetis. Sekali lagi itu hak mahasiswa.

Setelah alumni, unit kegiatan mahasiswa bukan lagi tanggung jawab kita alumni. Tetapi mengapa ini mempersoalkan itu? Ini seni budaya, bukan untuk mengubah keadaan tetapi memaknai pengalaman dan ingatan. Paling rendah manfaat, untuk membuat kita punya ingatan. Manfaat punya ingatan itu sangat besar. Paling besar manfaatnya dapat terasakan, tinggal menggunakannya untuk apa, ini urusan nanti.

Bukan bermaksud mengurusi urusan mahasiswa dengan unit kegiatannya yang menjadi hak, kewajiban, tanggung jawab, dan kewenangan mereka sepenuhnya. Sekali lagi urusan kita bukanlah mahasiswa lagi. Tetapi alumni. Kalau ada alumni yang mengurusi mereka mahasiswa, maka suara alumni untuk alumni ini menemukan jalan manfaat langsung.

Itu tujuan dari selama ini alumni berbicara kepada sesama alumni tentang mahasiswa dan unit kegiatannya. Kalau mereka sesama alumni yang peduli mahasiswa itu tak mendengar, itu urusan lain. Kalau mereka mendengar untuk diterapkan pada mahasiswa yang dipedulikannya, syukur.

Suara-suara tumpang tindih namun yang ditumpangtindihi masih bersuara. Sepertinya diam, tapi masih bersuara. Sepertinya tanpa kekuatan, tetapi masih bersuara. Bersuara dalam arti sesungguhnya. Ini suara untuk menggembalakan kalian dalam skala idea. Ini wilayah yang kalian tidak pernah membayangkan karena di dalam kurikulum kita tidak pernah ada. Konon ada muncul kini beberapa di antaranya tetapi tampaknya kita sangsi sampai ke wilayah ini.

Karena terlihat melihat tanda-tandanya tidak begitu kentara. Dan oleh karenanya kita seperti kambing saja. Bukan domba, karena domba selalu mempunyai kesamaan dan kekompakan semua, sedang kambing lebih bebas dan merdeka sebagaimana pada hakikatnya makhluk soliter. Sedangkan kita lebih suka menjadi domba. Padahal tanda-tanda kedombaan kita hanyalah sekedar penghibur hati yang lemah.

Tanda itu begitu banyak, sebanyak tanda hati yang kuat juga dalam skala-skalanya. Dapat dikaitkan di sini atau dikait-kaitkan saja.  Terserah saja, seperti selama ini kita juga terserah saja, karena yang peduli secara langsung yang tak akan bilang terserah. Walau bilang terserah juga bisa menjadi suatu tanda kepedulian. Kalau benar peduli. Dapat dikaitkan di sini atau dikait-kaitkan saja.  Terserah saja, seperti selama ini kita juga terserah, karena yang peduli secara langsung tidak akan bilang terserah. Walau bilang terserah juga bisa menjadi suatu tanda kepedulian.

Tanda kepedulian itu adalah sebuah jembatan keledai. Seperti banyak sekali benda dan peristiwa bermunculan dalam pertemuan antar alumni di WAG, Zoom, teleconference, temu darat. Ingatan terhadap satu peristiwa dengan kehadiran benda dan orang-orangnya membutuhkan pemantik, dapat berupa apa pun termasuk "jembatan keledai".

Kehadiran jembatan keledai ini bukan berfungsi menghadirkan benda dan peristiwa itu kembali. Tetapi, dapat menghadirkan proses pada saat masa-masa indah penuh kenangan yang terjadi pada masa silam.

Contohnya pada persekutuan doa mahasiswa yang hingga 30-40 tahun kemudian dan tetek bengeknya termasuk tentang buletin Efod dan atau buletin Profetis itu masih tidak lekang dari ingatan dan terasa terpampang nyata.

Proses peristiwa demi peristiwa dan adanya benda-benda itu hadir kembali dengan pemaknaan-pemaknaan baru. Kerumitan pribadi manusia dapat terungkap secara lebih kaya sehingga proses peristiwa masa lalu itu sesungguhnya mempunyai berbagai kemungkinan apa pun yang mempengaruhi dan dipengaruhi.

Bukan benda dan peristiwa masa lampau yang hadir dan berpengaruh pada proses untuk masa kini. Tetapi proses masa lalu itulah yang terus berpengaruh secara kuat untuk sebuah proses pembinaan berkelanjutan. Termasuk, pembinaan iman.

 

Bojonegoro, 15 Agustus 2021


Tidak ada komentar:

Terbaru