Senin, 16 Agustus 2021

Catatan Pekik Merdeka Tukang Puntung Rokok yang zaman Dahulu Ikut Perang Kemerdekaan yang Diteriakkan di Relung Hatiku

Catatan Pekik Merdeka Tukang Puntung Rokok yang zaman Dahulu Ikut Perang Kemerdekaan yang Diteriakkan di Relung Hatiku


Oleh: Bekas Siswa SMA yang Pernah Diminta Suaranya oleh Gurunya Apakah Seperti Suara Bung Karno Sang Proklamator Kemerdekaan


Keadaan sangat kacau, di sana-sini orang lalu lalang seperti zombi hidup namun penuh razia dan larangan, masih hidup namun perut tampak tulang, tubuh berpakaian karung goni sehingga langganan garuk-garuk kutu mencipta luka menganga. 


Senapan, granat, mesiu, di mana-mana, asap mengepul, meski perut kelaparan pejuang berteriak-teriak bukan hanya kata-kata tetapi juga gerak cepat merebut wilayah tanah-tanahnya sendiri, peninggalan nenek moyang yang dirampas Jepang yang mengusir Belanda di tempat sama tetapi kemudian menjajah lebih kejam daripada yang diusir.


"Merdeka! Merdeka!" pekiknya yang ikut bergerak di sela-sela pejuang-pejuang dalam suasana sangat kacau itu.


"Sampai sekarang ... aku merasakan keindahan suasana kacau itu. Suasana yang sangat buruk tetapi betul-betul sangat penting, dan berarti bagi kehidupan bangsa ini. Sangat indah sekali. Kekacauan yang sangat indah sekali," katanya bukan bersemangat dipaksakan.


"Meski sekarang hidupku menjadi tukang puntung rokok, aku tetap merasakan keindahan masa perjuangan merebut kemerdekaan itu," katanya sambil mengembuskan asap rokok bekas puntungannya di depan gedung bioskop penuh film India dan film percintaan lokal yang 40 tahun kemudian menjadi pendapa besar bupati yang hormat menghadap tiang bendera Merah Putih yang berkelebat di angkasa.


Biasanya veteran perang kemerdekaan nasibnya memang demikian, tetap sengsara meski ikut merebut dan berkorban hingga bangsa ini merdeka lepas bebas dari belenggu kemerdekaan hingga mampu dalam kondisi membangun jalan tol Surabaya-Jakarta.


Melihat kondisi veteran yang tukang puntung rokok keindahan pada dirinya paling tidak ada dua: Indahnya hidupnya sebagai tukang puntung rokok, dan indahnya hidupnya sebagai pejuang yang bukan sekedar latah ikut-ikutan berjuang masa sangat kacau perang kemerdekaan yang sangat mencekam


Ternyata hidup kacau dan suasana kacau juga keindahan, yang memampukan tukang puntung rokok itu mampu berteriak Merdeka Merdeka Merdeka tanpa pernah putus ketika justru para pengkhianat kemerdekaan itu berlimpah harta berkat kemerdekaan yang ikut diperjuangkan sang tukang puntung rokok.


Merdeka!


Bojonegoro, 17 Agustus 2021

Tidak ada komentar:

Terbaru