Rabu, 05 Desember 2018

AKU DAN HUJAN: Puisi Kurnia dan Hasanah

Puisi duet tercatat dalam blantika kepenyairan secara manis, semanis kisah cinta Romeo-Juliet, Rara Mendut-Pranacitra, Rara Jonggrang-Bondowoso dan sebagainya kisah cinta dua anak manusia yang terjerat panah asmara Dewi Eros. Dalam kepenyairan modern puisi duet juga dijumpai seperti Biru-Jingga karya dua penyair Probolinggo sebagai upaya mengabadikan kisah cinta mereka meski pada puisi itu dan buku selanjutnya belum berakhir dalam satu persatuan pasangan. Cinta tak harus memiliki, memang, yang pasti orang yang pernah mengalami cinta pasti patut berbahagia daripada orang yang belum pernah mengalami (dalam satu konteks dan sudut pandang). Selebihnya proses duet cinta dan duet puisi merupakan sebuah proses pula. Orang yang berorientasi pada proses akan selalu merasa berbahagia di dalam proses bukan di dalam hasil. Selanjutnya bisa jadi proses akan diikuti proses yang lain lagi, ada kebahagiaan dalam perubahan yang pasti terjadi. Bila dianalogikan semua itu laksana aku dan hujan. Aku merasa berbahagia bila hujan datang. Bila kemarau panjang hujan belum datang rasanya seperti menunggu kekasih pergi entah kapan kembali. Bila hujan tiba aku pun bersorak gembira dengan segera mengambil langkah drastis. Aku bisa lepas semua pakaian dan berlari keluar rumah menyambut hujan dengan berhujan-hujan di bawah guyuran air jatuh dari langit. Menyediakan ember untuk tadah hujan. Atau sebaliknya aku masuk kamar naik ranjang dan bersembunyi di balik selimut. Semua adalah pilihan langkah dan yang penting aku bahagia. Benarkah esensi pesan puisi dalam buku ini seperti ini dan dari golongan macam ini? Lebih baik kita berhujan-hujan dalam guyuran puisi mereka. 

Judul Buku: AKU DAN HUJAN: Puisi Kurnia dan Hasanah

Penyair: Kurnia Suhardi & Hasanah Kurniadi

ISBN:

Tidak ada komentar: