Jumat, 31 Agustus 2018

Untuk Ibu Pertiwi

Ibu Pertiwi, sebutan mengambil dari nama Dewi Prativi dalam mitologi agama Hindu. Disebut juga sebagai Dewi Bumi. Sang Bunda Bumi, salah satu sakti Dewa Wisnu. Yang lain adalah Dewi Laksmi, Sang Bunda Semesta. Dewa Wisnu sang pemelihara, didampingi Dewi Pertiwi maka pemeliharaan dan pengelolaan bumi menjadi termanajemen. Semua olah kemanusiaan terlekat erat dengan manajemen pengelolaan bumi. Hingga saat ini bangsa Indonesia menyebut tanah airnya sebagai Ibu Pertiwi, bahkan sebuah lagu dicipta dan ditagarkan sebagai lagu nasional "Kulihat Ibu Pertiwi". Bumi tempat manusia dilahirkan, dibersarkan, dikuburkan. Apa pun adat, tradisi, budaya, agama, ihwal kemanusiaan ini bertempat di bumi. Segala peristiwa, suasana, dialektika dan monolektika dilakukan manusia di atas bumi. Sumber segala hal yang sangat penting. Ekspresikannya dengan karya-karya kita. Apa pun temanya. Termasuk dengan alat ekspresi puisi. Atau apa pun talenta kita. Kesadaran siswa mencipta puisi dengan judul dan isi "Ibu Pertiwi" menandakan alam bawah sadarnya memedulikan tanah airnya. Berarti dia memperhatikan lingkungannya, sisi eksternalnya. Siswa yang demikian sudah mengukuhkan dirinya sebagai insan sosial, yang peduli pada kehidupan sosial. Puisi-puisinya tak lagi berpusat dan berkutat pada diri sendiri, meski dia juga makhluk individu dan punya kehidupan personal.Kita baca, betapa kaya temanya. Sumbangsih untuk tanah airnya, tanah tumpah darahnya, Ibu Pertiwinya.

Tidak ada komentar: