Bojonegoro — Ketika mendengar kata tawuran, otomatis pikiran bawah sadar mengerucut pada tindakan yang berbau kriminal, penuh amarah, bahkan identik dengan perusakan fasilitas publik. Kata itu seolah selalu berkonotasi negatif. Namun, jika dibawa ke ranah sastra, "tawuran" justru dapat menjelma menjadi peristiwa yang sarat keindahan, pertarungan gagasan yang berlangsung tanpa kekerasan, melainkan dengan kekuatan diksi, metafora, dan pemikiran.
Fenomena itulah yang menarik perhatian dalam perjumpaan dua geguritan atau puisi berbahasa Jawa, yakni "Dora Sembada" karya Gampang Prawoto dan "Basa lan Sastra, Jimate Bangsa" karya Ajun Pujang Anom. Sekilas, kedua karya tersebut tampak saling berhadapan, seolah sedang beradu badan dalam sebuah "tawuran sastra".
Dalam geguritan Dora Sembada, Gampang Prawoto menyuguhkan kritik yang tajam. Ia mempertanyakan kegunaan pegiat bahasa dan sastra apabila hanya berhenti pada romantisme kebudayaan tanpa memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Larik-lariknya menghadirkan sindiran yang lugas terhadap kecenderungan sebagian pelaku budaya yang lebih sibuk membangun citra daripada menghadirkan karya yang benar-benar berdampak.
Sebaliknya, Basa lan Sastra, Jimate Bangsa hadir sebagai suara pembela. Ajun Pujang Anom mengajak pembaca melihat bahasa dan sastra dari sudut pandang yang lebih filosofis. Menurutnya, bahasa dan sastra memang tidak menghasilkan beras ataupun harta benda, tetapi keduanya adalah penjaga jati diri, nilai, dan peradaban sebuah bangsa. Aksara tidak mengenyangkan perut, tetapi mampu menghidupkan ingatan kolektif, membentuk karakter, dan menjadi suluh perjalanan bangsa.
Jika dibaca secara sepintas, kedua geguritan itu tampak bertolak belakang. Yang satu menggugat, yang lain membela. Yang satu menyuarakan sinisme, sementara yang lain menawarkan optimisme. Namun sesungguhnya, pertentangan itu hanyalah lapisan luar.
Secara filosofis, keduanya lahir dari rahim yang sama, yakni kecintaan terhadap bahasa, sastra, dan kebudayaan Jawa. Kritik dalam Dora Sembada bukanlah upaya meruntuhkan sastra, melainkan cambuk agar para pegiat budaya tidak terlena pada simbol dan seremoni. Sebaliknya, pembelaan dalam Basa lan Sastra, Jimate Bangsa bukanlah penolakan terhadap kritik, melainkan pengingat bahwa nilai luhur sastra tetap harus dijaga di tengah tuntutan zaman yang semakin pragmatis.
Dua geguritan tersebut akhirnya membuktikan bahwa sastra tidak pernah takut pada perbedaan pandangan. Justru dari benturan gagasan itulah lahir ruang dialog yang sehat. Tawuran dalam sastra bukan tentang mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah, melainkan memperkaya cara berpikir serta memperdalam makna sebuah kebudayaan.
Di tengah derasnya arus modernisasi, perdebatan semacam ini menjadi penanda bahwa sastra Jawa masih hidup. Ia masih mampu memantik diskusi, menggugah kesadaran, sekaligus mengingatkan bahwa kebudayaan tidak hanya membutuhkan penjaga, tetapi juga pengkritik yang jujur. Sebab, kritik tanpa cinta akan menjadi kebencian, sementara cinta tanpa kritik hanya akan melahirkan kemapanan yang membius.
Maka, "tawuran sastra" antara Gampang Prawoto dan Ajun Pujang Anom bukanlah pertarungan untuk saling menjatuhkan. Sebaliknya, ia menjadi contoh bagaimana sastra menjalankan fungsi terbaiknya: menguji gagasan, merawat nurani, dan menjaga agar bahasa serta kebudayaan tetap hidup melalui dialog yang beradab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar