Senin, 07 Oktober 2019

Cerita | Bertahan di Tengah Himpitan

Oleh: Yonathan Rahardjo

Siang panas, tidak apa. Kita harus semangat. Masih ada air tanah di daerah gersang ini. Makanya penduduk masih dapat hidup di tengah himpitan raksasa-raksasa pendatang. Meski hanya mengandalkan tanah sisa warisan orangtua.   

Damar  telah menunjukkan tempat-tempat penting itu kepada Santo. Membuka kenangan Santo yang telah lama mengembara di rantau.
Memang Santo terkadang pulang kampung halaman setidaknya setengah tahun sekali atau tiga bulan sekali. Santo harus menengok orangtuanya di masa tua mereka terutama ibunya yang sakit-sakitan. Sekarang Santo sudah menetap di kota kelahirannya. Wawasannya masih seperti baru, apalagi kondisi daerah sudah begitu berbeda akibat kemajuan teknologi pembangunan terkhusus pengeboran minyak bumi.


Dulu anak penguasa negeri ini pernah berkuasa atas tambang minyak di sini. Akibat teknologinya kurang mampu menyedot minyak lebih dalam, cakar mereka pun lepas.   "Kok Pakde mainnya di kayu lalu batu, ya, bukan di minyak?" Dengan mudah pertanyaan Damar dijawab Santo, "Sebagai anggota DPRD tentu dapat juga bermain di minyak. Tetapi yang anggota DPRD kan bukan cuma Pakde seorang diri."

"Ada kaitan ya, bermain di kayu dan minyak?" Damar sedari lahir sampai lulus kuliah, bekerja dan berkeluarga tidak pernah "keluar" dari kota kelahirannya, lebih mengandalkan pengamatan berdasar pengalamannya di daerah ini. Sedangkan Santo lebih bermain logika. Juga untuk menjawab pertanyaan Damar ini.

Dulu tanah yang disedot minyak di dalamnya, pada permukaannya ditumbuhi pohon jati. Penggundulan hutan bebas era Presiden Gus Dur memungkinkan Pakde mengoordinir orang-orangnya membabat  kayu di atas tanah ini. Kalau tanah ini milik penduduk tak perlu uang pembebasan tanah. Lain kalau tanah itu disedot minyaknya. Lagi pula tanah berkayu jati itu milik Perhutani. Jadi peran Pakde dalam penebangan kayu bebas itu lebih bersifat sebagai pencuri barang negara. Sedang pembebasan tanah untuk pengeboran minyak kan bersifat membeli tanah rakyat.

Sedangkan untuk batu-batu di tanah rakyat, Pakde membelinya dari pemilik tanah. Hal ini berbeda dengan saat Pakde menebangi kayu di tanah Perhutani. Tentu kapasitas Pakde masih sebatas itu walaupun itu sudah masuk kategori besar dibanding skala usaha rakyat pada umumnya. Untuk bermain di minyak Pakde butuh berkongsi dengan para raksasa permodalan dan politik. Skalanya sudah dengan orang Pusat yang berkolaborasi dengan pihak asing. Sebagai tokoh masyarakat daerah Pakde tidak lepas dari penguasa Kabupaten. Dan sebagai anggota DPRD Pakde dapat menyuarakan suara dalam sidang-sidang wakil rakyat daerah. Itu pun ada batasan-batasan sesuai undang-undang otonomi daerah dan perundangan pusat yang bersifat nasional menyangkut bagaimana pengelolaan kekayaan alam daerah dan pembagiannya antara pusat, daerah dan perusahaan pengelola dan pemodalnya yang ternyata dikuasai asing.

Santo menambahkan paparannya, "Coba bayangkan bila sebagai orang daerah Pakde tidak dapat memainkan peran pengusaha kayu lalu batu itu, dan semuanya dipegang orang pusat apalagi asing...."

Damar terdiam dan matanya menerawang kosong... lalu berbisik lirih..., "Berarti orang seperti Pakde itu orang daerah yang pintar dan dibutuhkan ... sementara banyak orang lain yang sama-sama putra daerah hanya mampu menjadi penonton dengan segudang keluh...."

Dia tahu betul tak terhitung rakyat yang ikut merasakan hasil penebangan kayu bebas yang dipimpin Pakde, lalu kini hasil pemecahan batu gunung menjadi kracak bantalan kereta api guna peningkatan penghasilan keuangan mereka, di luar risiko bencana akibat ulah manusia.

Tidak ada komentar:

Terbaru