Minggu, 26 Agustus 2018

Tuhan Lindungilah Mereka

Kenyataan dalam hidup, manusia ada yang punya kecenderungan berkelompok dan ada soliter alias menyendiri. Dua pilihan yang tidak bisa saling dapat klaim kebenarannya, ini hanya sebuah pilihan. Dua oposisi biner ekstrim ini ada penghubungnya. Kalau dua sifat ekstrim ini merupakan sifat dasar, ada kenyataannya kita melihat masih ada dimensi ruang dan waktu. Apapun sifat dasarnya, seseorang yang berjiwa sosial dapat menjadi menyendiri, kesepian, tidak berkontak sosial dengan lingkungannya. Ini karena setiap manusia adalah makhluk individu dan bersifat personal seuai dengan waktu dan ruangnya. Apapun, kebutuhan bersosial tak terelakkan, namun kehidupan pribadi juga terus berjalan. Ada kalanya dalam waktu bersosial seseorang pun merasakan kesepian, sendiri. Sebaliknya saat menyendiri sebetulnya ia juga dalam keramaian batin dan memikirkan orang lain (sosial). Ekspresi dari kenyataan batin dan inderawi semacam ini dapat dilihat dari lahirnya puisi di tangan penyair. Bukankah puisi merupakan karya individual? Bukankah pula isi puisi merupakan refleksi dari pikiran, pendapat, dan kisah orang lain (lingkungan/sosial)nya? Tak heran pilihan judul buku ini adalah Tuhan Lindungilah Mereka, mengambil judul salah satu judul puisi. Di sini penyair yang menulis puisi secara individu jelas peduli kepada orang ketiga (orang lain).

Judul Buku: Tuhan Lindungilah Mereka: Kumpulan Puisi 
Penyair: Sri Supriyati 
ISBN: 978-602-6346-61-2

Tidak ada komentar: