Kamis, 23 Agustus 2018

Ayahku


Mari baca cerpen “Baju Koko buat Bapak” karya Dani Makhyar Ilham Setiawan. Cerpen ini diawali saat pemakaman Arif, lalu kilas balik ke saat ayah Arif sakit dan pada kisaran waktu yang sama Arif mesti ikut lomba baca puisi. Lomba berlangsung, akhirnya Arif juara, mendapat hadiah baju koko. Begitu senang Arif dan baju koko hadiah hendak dipersembahkan untuk Bapak. Dengan gembira Arif pulang membawa baju koko untuk Bapak, ternyata pada saat yang sama Bapak meninggal dunia, Sebuah kebahagiaan yang bersamaan dengan kesedihan, menjadi nilai tawar untuk kelebihan cerpen ini. Selanjutnya, mari kita baca cerpen “Lidi” karya Emi Sudarwati. Hanya sebatang lidi yang dipukulkan ke anak nakal, bagaimana rasanya? Hanya sebatang (kecil) lidi (gagang daun kelapa). Kalau tali, seutas tali. Kalau benang, sehelai benang. Ini lidi, sebatang kecil lidi. Dipukulkan, bukan disabetkan, untuk menghukum guna mencegah putra-putri ayah Kinanthi bertengkar antarsaudara. Kisahnya alur balik saat Kinanthi rindu Bapak, ayahnya. Kinanthi ingat disiplin Bapak dengan sebatang lidi itu. Setelah dua minggu dihukum dengan lidi oleh Bapak ternyata Bapak wafat. Kemudian Kinanthi dan saudara-saudara hidup dengan keras. Baru terasa manfaat dididik dengan keras oleh Bapak memakai lidi. Pesan moral cerpen ini begitu dalam, dan akan lebih dramatis ada benang merah antara lidi dengan sakit hingga wafat Bapak. Akhirnya mari kita baca Cerpen “Ayahku Sayang” karya Ifa Fatani. Cerita ini juga perjalanan panjang kisah hidup tokoh utama cerpen dengan ayahnya yang menjadi pemimpin, pelindung, penyayang dan pendidik bagi si tokoh hingga dewasa dan bekerja. Karena jasa-jasa ayah (dan ibu) si tokoh mendoakan semua kebaikan untuk ayah. Lalu mari kita baca cerpen Nurlinawati. Judulnya “Aku dan Ayah”, ceritanya perjalanan hidup keluarga dipimpin Ayah, mulai si tokoh kecil, bersekolah, pindah-pindah mengikuti pekerjaan Ayah. Kepemimpinan dan kepedulian Ayah dirasa dekat di hati tokoh, sampai lulus kuliah, bekerja, berkeluarga, dan Ayah juga menjadi tua. Dalam perjalanan semobil dikendarai suami tokoh utama, terjadi kecelakaan tunggal menyebabkan semobil rombongan cedera semua, patah tulang bahkan ada yang koma, hingga Ayah tertolong, wafat. Si tokoh utama cerita menceritakan rasa kehilangan dan kedekatan dengan ayah. Bila kedekatan seumur hidup yang panjang itu diceritakan secara spesifik, cerpen akan lebih kuat. Kini, kita apresiasi keempat cerpen. Cerpen Baju Koko buat Bapak terasa mengalami jeda demi jeda dalam penceritaan-penceritaan pendek seperti babak demi babak. Cerpen Lidi liat bermain kata hanya dengan satu fokus, lidi dan ayah. Cerpen Ayahku Sayang memakai metode jurnalistik sastrawi untuk semacam biografi Ayah hingga dewasa dan bekerja tokoh yang tahu berterima kasih kepada Ayah (dan Ibu). Cerpen Aku dan Ayah memakai bahasa paparan jurnalistik untuk semacam biografi hingga wafat Ayah. Unsur penilaian cerpen (prosa) terdiri dari bahasa dan isi/tema. Kekuatan bahasa dengan cara tutur yang lentur ada pada cerpen lidi. Penuturan terpecah-pecah ada pada cerpen Baju Koko untuk Bapak. Dua cerpen lain lebih mudah bertutur karena mengalir jurnalistik biografi. Unsur yang mesti diperhatikan dalam prosa adalah tokoh, perwatakan, latar, alur, konflik, penyelesaian, pesan moral. Dan khusus prosa cerpen masalahnya terfokus pada satu masalah penting sebagai fokus cerita yang dibatasi ruang (spasi/halaman). Maka pemilihan tema khusus yang cukup menarik perhatian dan bukan masalah umum, menjadi nilai lebih cerpen. Hal ini akan diperhadapkan pada cara bercerita yang mampu mengangkat konflik menjadi betul terasa. Hal ini penting mengingat mencipta sastra (prosa, cerpen) adalah mencipta kenyataan baru dalam sebuah cerita. Sekarang, titik kritis penilaiannya adalah pada unsur kejutan (suspens) yang akan membuat cerpen tidak terduga alur dan penyelesaiannya. Setelah masalah suspens terselesaikan, kembali dibaca ulang, tampak logika penceritaan antarbagian alur. Terasa ada lompatan atau runtut, memberi bobot lebih bagaimana hubungan antara "aku dan ayah" (tema yang diangkat).

Tidak ada komentar: